Story & History

Sore yang Gila


Mata saya tidak bisa lepas, ketika gadis tanggung itu berjalan begitu cekatan melintas di depan saya. Pada sebuah malam minggu, malamnya anak-anak muda seumuran gadis itu bercengkerama. Menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya. Ya, gadis berambut panjang lurus hingga mengibas di punggung, berbaju kuning, dan bercelana jins pendek, juga bergegas dari arah teman-temannya berkumpul.

Dengan langkah agak berlari, ia temui seseorang yang…

Saya langsung menghela napas. Malu hati dan seketika kagum hebat sama anak itu.

Maka pemandangan di depan mata saya saat itu berubah.

Gadis muda berbaju kuning, bercelana pendek jins, dan memegang dompet, berjongkok bicara dengan laki-laki. Bukan sembarang laki-laki, tapi ia pengemis tanpa kaki yang sedang istirahat. Hanya sebentar, lalu gadis muda itu bergegas, berjalan lebih cepat. Langkahnya kecil tapi banyak. Ditujunya tempat makan tak jauh dari teman-temannya berkumpul. Dia masuk sebentar, tapi keluar cepat. Tak membawa apa-apa. Kembali dia masuk ke tempat makan berikutnya, beberapa lama kemudian, dengan langkah gegas, ia membawa tas plastik berisi kemasan makan dari sterofoam.

            Gadis itu kembali menghampiri pengemis berkaki buntung, bertopi dekil. Tas plastik berisi makanan dalam kemasan sterofoam pun beralih tangan. Ada dua wajah bahagia. Setelahnya si gadis pun kembali ke teman-temannya berkumpul. Kembali menjadi anak-anak remaja dengan dunia mereka…

 

            Adegan itu tidak lebih dari sepuluh menit. Dan itu membuat saya gila…

Otak saya tidak bisa cepat percaya dengan apa yang baru saja saya lihat. Saya sulit sekali mencerna makna dari yang baru saja terjadi. Malam yang masih muda itu, saya bukan hanya terpaku. Tapi benar-benar menjadi orang paling bodoh.

Apa yang saya lihat, begitu membekas. Dan saya bilang, saya akan menuliskannya. Anak gadis itu luar biasa. Dia tetap menjadi dirinya, tidak keluar dari komunitasnya. Dia tetap menjadi gadis menjelang dewasa, tapi bertindak sangat dewasa. Melebihi puluhan tahun umur yang sesungguhnya.

Berbagi adalah puncak cinta…

Ketika teman sebayanya, bahkan yang jauh lebih tua usia darinya masih meraba-raba cinta seperti apa. Dia sudah genggam puncaknya. Ketika banyak kasus tayang tentang bagaimana rasuah begitu dahsyat, mengurangi harta negara untuk kepentingan nafsu sendiri. Menambahkan kekayaan tanpa jalan yang benar. Mengakali anggaran dengan mengalilipatkan demi keuntungan sendiri. Pelajaran tambah kurang dan kali begitu culas dipraktikkan oleh orang-orang seusia orangtua gadis itu. Mungkin seusia ayahnya, mungkin pula seumur kakeknya.

Gadis itu, sudah pada bab membagi…

Beranjak malam saya semakin gila. Hal kecil buat orang lain, mungkin terlewat, mungkin tak dilihat. Buat saya, kejadian itu adalah hal besar yang menimpa saya hingga sesak napas. Saya seperti dicolok matanya. “Jangan berlagak shaleh, kalau hanya bisa bicara. Keshalehan itu tindakan…” Ya, kebaikan itu tindakan. Amal. Ya amal shaleh, tindakan yang baik untuk kebaikan.

Saya malu…

Seusia itu, entah kebaikan apa yang saya lakukan. Bahkan pada usia sekarang pun, saya tidak banyak berbuat kebaikan. Walau sederhana. Ya sederhana, bukan kecil. Tindakan sederhana yang berefek besar. Walau sering dianggap kecil. Anggapan itu persepsi. Cara memandang. Semakin tinggi kualitas seseorang, semakin luas persepsinya. Semakin luas pandangannya. Seperti orang yang naik ke gunung, pemandangan di kaki gunung, tentu berbeda di puncaknya. Semakin luas yang dia lihat, semakin kecil apa yang tampak besar di kaki gunung tadi…

Sore yang gila, membuat saya belajar.

Menjadi mulia itu sederhana. Dan hidup tetap indah, tak berubah.

Iklan

2 tanggapan untuk “Sore yang Gila”

  1. “Gadis itu kembali menghampiri pengemis berkaki buntung, bertopi dekil. Tas plastik berisi makanan dalam kemasan sterofoam pun beralih tangan. Ada dua wajah bahagia. Setelahnya si gadis pun kembali ke teman-temannya berkumpul. Kembali menjadi anak-anak remaja dengan dunia mereka…”

    ” Cara memandang. Semakin tinggi kualitas seseorang, semakin luas persepsinya. Semakin luas pandangannya. Seperti orang yang naik ke gunung, pemandangan di kaki gunung, tentu berbeda di puncaknya. Semakin luas yang dia lihat, semakin kecil apa yang tampak besar di kaki gunung tadi… ”
    “Menjadi mulia itu sederhana. Dan hidup tetap indah, tak berubah.”

    bisanya saya hanya bilang “kereen”. tapi kali ini, jatuh hati sama tulisan ini, tentang anak, itu. selalu senang dengan cerita tentang kebaikan. semoga bisa meniru…
    berbagi cerita baik, juga berbagi kebahagian, Mas.. apalagi kalau ada yang meniru jadi baik, kan jadi ladang pahala, juga, Mas.. “jatuh hati” sama tulisannya..

    *selalu ada yang bisa diambil dari tulisannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s