Ibu

Kantor


ibu-bundar-emas“Nyambut gae sing bener. Ra sah macem-macem ra sah golek duit. Duit marahi neroko. Neroko donyo. Neroko akhirat,” ucap Sri Supadmi.

Siapa Sri Supadmi, perempuan berusia 74 tahun yang tinggal di sebuah desa di Kutoarjo, Purworejo itu? Dan kepada siapa pesan itu disampaikan. Sri Supadmi adalah ibu dari Ganjar Pranowo. Nama yang saya sebut belakangan mungkin pernah dengar, atau malah sudah kenal. Ya, Ganjar Pranowo, tokoh muda anggota DPR dari PDIP yang memenangi pemilihan gubernur Jawa Tengah baru-baru ini.

“Kerja yang bener, nggak usah macam-macam hanya untuk dapat uang. Uang itu neraka. Neraka dunia. Neraka di akhirat.” Begitu terjemahan bebasnya.

Orang tua, apalagi ibu, adalah keramat yang dahsyat. Peka zaman, peka firasat. Pesannya sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Ibu tidak pernah mengukur segalanya dari uang, yang material, atau yang tampak. Bagi ibu, kerja adalah penghayatan hidup untuk kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu, bukan semata-mata uang!

“Kerja di mana sekarang?”

“Dia jadi orang kantoran, Bro!”

Lalu pecahlah tawa. Saya ikut tertawa, walaupun maksud pembicaraan itu adalah menertawakan saya. Bagi kedua teman itu, melihat saya ‘ngantor’ itu lucu. Beruntung saya tidak pernah cerita, kalau saya pernah ngantor dengan celana pantalon dan berkemeja serta bersepatu kulit. Hmm, kalau sampai ketahuan dua makhluk ini, pasti saya bukan saja jadi bulan-bulanan. Tapi tahun-tahunan…

Saya bukan orang yang takut kehilangan pekerjaan. Almarhumah ibu saya mengajarkan itu. Dia orang yang gagah berani meninggalkan status PNS, pegawai negeri sipil yang sekarang jadi buruan banyak orang. Dengan alasan yang sangat sederhana. “Ingin mengurus suami dan anak!”

Bukankah bisa tetap sambil bekerja? Mengurus rumah tangga juga.

Bukan uang! Tapi kebahagiaan.

Dan di rumah, saya tumbuh bersama ibu saya. Saya melihat ibu setiap saat. Dan saya melihat ibu tetap mengerjakan banyak hal. Bahkan mempekerjakan beberapa orang. Begitu banyak yang bisa dikerjakan. Mungkin awalnya tak terpikir jadi uang. Tapi kemudian, menjadi uang. Padahal sederhana sekali yang dilakukan. Berkebun di belakang rumah, menjahit kain perca, membuat kue, hmm…

Tidak semua itu diuangkan.

Kadang panen kebun, hasil palawija yang dikerjakan Pa’e Genduk, orang yang membantu ibu mengurusi kebun. Hanya dibagi-bagikan ke tetangga dan siapa yang datang ke rumah. Pun hasil keset, selimut, tutup kulkas, dan kerajinan dari menjahit percanya. Hanya dikasih-kasih saja. Sampai kemudian hari, ada teman-temannya yang mau menjualkan. Menjadi tak bisa dikerjakan sendiri lagi, lalu Mbak Genduk membantu ibu saya menjahit, setelah membantu urusan dapur.

Terlalu banyak yang bisa dikerjakan.

Setelah saya agak besar, ibu saya kerja lagi di rumah sakit. Lalu keluar lagi karena ayah saya sakit. Lalu kerja lagi, keluar lagi. Akhirnya, kerja di rumah lagi.

Sebelum ibu saya meninggal, dia sempat berpesan, “Sudahlah, kerja di rumah saja.” Lalu dibelilah kavling sebelah rumah, dibangunlah rumah kecil dengan menyisakan banyak lahan kosong. Maksudnya, “Nanti kamu nulis di situ, ibu berkebun di sini…” Rumah kecilnya untuk saya kerja, lahan kosongnya untuk ibu berkebun.

Mungkin saya sudah terlalu jauh pergi dari waktu-waktu ibu saya. Sehingga ada kerinduan, masa tuanya bisa melihat saya selalu dekat dengannya. Hari-hari ini, setelah hampir tiga tahun mendiang ibu saya berpulang, saya sedang berpikir untuk mewujudkannya. Agar teman-teman saya bisa main sepuasnya, bisa ngobrol sambil ngopi setiap saat. Dan saya bisa bilang, “Gue di rumah nih!”

Melintas seketika, bayangan ibu saya tersenyum bahagia…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s