Story & History

Nyebrang…


Pengalaman pertama saya naik kapal laut, ketika saya iseng bersama teman-teman mencoba naik kapal roro di Pelabuhan Merak. Seru. Dari rumah, niatnya hanya asal jalan.

“Anyer yuk…” usul salah satu teman.

“Carita aja…” sergah yang lain.

“Gimana, Bos?” seseorang menoleh ke saya.

“Jalan aja dulu,” sahut saya.

Mobil kijang tua itu pun melaju, masuk ke tol Jakarta-Merak dari pintu tol Kebon Nanas, Tangerang. Sambil bercanda, tahu-tahu hampir sampai ke pintu tol Serang Timur.

“Jadi kemana nih? Anyer apa Carita?”

Pertanyaan teman saya tidak ada yang jawab.

“Udah pada pernah naik kapal belum? Kita ke nyebrang aja yuk…” ajak saya.

Sepintas saya melihat wajah-wajah malu mengaku. Tanpa menunggu jawaban mereka, mobil terus melaju di tol. Tujuan akhirnya jelas, Pelabuhan Merak! Mau naik kapal, biar ‘kepernahan’. Jadi nanti ada orang cerita naik kapal, kita nggak kelihatan bego. Dan mobil pun masuk ke area penyebrangan. Niatnya, naik kapal semobil-mobilnya. Tapi lihat ongkosnya, terus lihat dompet, ya sudah…

“Mobilnya tinggal, kita naik orangnya saja!” kata saya.

Hmm, itulah pertama kali saya pertama kali naik kapal laut. Tepatnya kapal Roro. Bukan Nyi Roro Kidul penunggu Samudera Hindia alias Laut Selatan, tapi Roro  singkatan dari Roll on roll off. Kapal yang fungsinya seperti namanya, sebagai alat penyeberang. Jadi apa saja bisa masuk, dari truk, kontainer, becak, odong-odong, sama orang-orangnya. Gampangnya, muatannya ya barang ya orang.

Perjalanan laut pertama saya, dari Merak ke Bakauheni. Menyeberangi Selat Sunda. Saya tidak akan cerita noraknya. Karena saya dan teman saya, norak semua. Kalau ditanya mabuk laut nggak? Saya tidak cerita, kasihan oknumnya. Baru masuk kapal, bau minyak angin, ada yang sudah oleng perutnya. Isinya berasa naik ke kepala, hehe…

Satu setengah jam, saya dan teman-teman menikmati Selat Sunda. Sesampai di Bakauheni, tidak ada yang penting. Kecuali kembali melihat jadwal pemberangkatan penyebrangan. Dan saat itu, saya usul, “Cobain kapal cepat yuk…”

Benar saja. Lebih menantang. Lebih bergoncang. Dan teman saya lebih pucat. Lebih mabuk daripada naik kapal roro biasa. Semula memang menjadi bahan bercanda yang menarik. Seru. Tapi lama-kelamaan ya nggak tega. Kapal cepat ini membuatnya tak berdaya. Lemah selemah-lemahnya…

Begitulah, mencoba hal baru bukan tanpa risiko. Tapi berkutat dengan yang itu-itu juga, tidak menarik. Biasa saja. Tidak ada yang baru. Membosankan. Toh, dalam risiko yang tampak melemahkan itu, tetap saja ada naluri penghiburan. Ada yang komedial. Ada yang bisa ditertawakan. Tidak semata-mata hal yang seram, mengerikan, menakutkan, dan mengkhawatirkan.

Sampai di Pelabuhan Merak lagi, walau sudah lemah, teman saya tersenyum. Apalagi ketika saya membawanya ke warung kopi, minum teh hangat, perut dan tengkuknya diolesi minyak angin. Dia kembali ceria. Perjalanan kembali ke rumah dengan mobil butut pun kembali penuh gelak tawa. Cerita tentang tumbangnya teman saya oleh angin laut dan gelombang, menjadi bulan-bulan sepanjang jalan.

Hidup tidaklah hitam putih…

Tidak selamanya enak, tidak semuanya kelam. Semuanya itu bergantian. Kadang malah datang bersamaan. Atau beda tipis sekali, dalam detik bisa berubah, pun dalam hari-hari dan hitungan waktu lainnya.

Seperti menyeberangi Selat Sunda, hidup pun penuh pilihan sepaket dengan risikonya. Mau yang biasa, mau yang cepat. Semua ada. Mau yang flat atau yang ekstrem. Tinggal pilih. Kalau takut?

Apa yang harus ditakutkan, kalau niat dan pilihannya sudah benar. Hajar bleh!

Iklan

2 tanggapan untuk “Nyebrang…”

  1. “Tidak selamanya enak, tidak semuanya kelam. Semuanya itu bergantian. Kadang malah datang bersamaan. Atau beda tipis sekali, dalam detik bisa berubah, pun dalam hari-hari dan hitungan waktu lainnya.

    Seperti menyeberangi Selat Sunda, hidup pun penuh pilihan sepaket dengan risikonya. Mau yang biasa, mau yang cepat. Semua ada. Mau yang flat atau yang ekstrem. Tinggal pilih. Kalau takut? ”

    keren, lah.. aku suka kata-katanya, penuh makna..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s