Ibu

Hebat


ibu-bundar-emas“Saya melakukan ini, itu, ini, itu, sendirian… Kewalahan juga. Tapi saya semua yang harus melakukan itu. Dan saya bangga…”

Sebelah saya mencolek, menunjukkan tulisan di kertas, I’m nothing!

Saya hanya tersenyum dan mengacungkan dua jempol. “Dia wonder woman, Mas Bro!” bisik saya.

We’re nothing!” 

Dia menulis lagi di bawahnya. Saya dan teman saya tersenyum, entah nyinyir, entah sinis. Tapi tersenyum.

Orang hebat konon orang yang tidak suka, tapi ia ikhlas mengerjakannya.

Ya, tiba-tiba saya menuliskan itu di status fesbuk. Saat itu juga, ketika meeting masih berlangsung. Beberapa like segera muncul. Komentar pun muncul…

Saya selalu senang melihat orang-orang hebat. Saya juga senang bisa terlibat dan bekerja sama dengan orang-orang hebat. Senang menjadi saksi kehebatan seseorang. Cukuplah buat saya, kesenangan itu. Saya mengukur diri, tidak mungkin sehebat itu.

Tiba-tiba pula, saya teringat ucapan ustadz. Dia penulis hebat, berkelana hampir separuh jagat. Masih muda, cerdas, bacaannya luar biasa, bukunya banyak, inspiratif. Peduli pula pada pentingnya penguatan guru. Saya pernah berdiskusi, dan keluarlah kata-kata ini, “Kerja ikhlas sama kerja nggak ikhlas itu capeknya sama. Kalau kita salah memilih, kita hanya dapat yang kita ingini. Ya kalau dapat, kalau nggak dapat kita kecewa.”

Kalimat ini membekali saya bekerja…

Walau saya menjadi terlihat lemah pada saat-saat tertentu. Tampak tak berdaya pada waktu tertentu. Mungkin itu yang tampak. Tapi itu yang saya maknai. Apa perlunya melawan, kalau akhirnya saya menyakiti. Apa perlunya merasa bisa, merasa paling, kalau hanya untuk mengangkat derajat di hadapan orang. Sudahlah, saya tidak akan melakukan itu. Saya punya ruang kreativitas sendiri, ruang petualangan sendiri, dengan berbagai eksperimen yang tak merugikan siapa pun. Tak berpretensi ‘mengancam’ posisi kederajatan seseorang. Saya punya ruangnya.

Lagi pula, saya sudah berkomitmen. Begitu masuk ke sini, saya sudah petakan, saya sudah dialogan, dan sudah saya posisikan dimana serta harus apanya. Saya tidak akan mengganggu, apalagi masuk terlalu dalam ke wilayah nyaman seseorang. Saya hanya akan melakukan pekerjaan sesuai jobdesk. Selesai… Itu yang saya lakukan.

“Nanti lu dikira nggak punya inovasi dan kreatifitas lho!”

Masih pentingkah?

Saya tidak peduli, karena dari awal saya sudah tahu. Saya bekerja dengan sebuah keakuan. Tidak ada selain aku. Tidak ada ruang kekamian, apalagi kekitaan. Semua menjadi saya, semua menjadi aku.

Maka, buat saya yang paling penting adalah mengikhlaskan. Karena kerja ikhlas dan nggak ikhlas capeknya sama. Sehingga upah yang saya bawa pulang berkah, Tuhan mudahkan pekerjaan saya. Allah lapangkan rezeki saya. Insya Allah.

“Buah keikhlasan itu banyak dan tidak terduga…” ujar ustadz teman saya itu.

“Termasuk rezeki tak terduga?” tanya saya.

Ustadz muda itu mengangguk beriring senyum.

“Kerja nggak usah akal-akalan, biar dapetnya sedikit yang penting berkah…”

Mengiang kata-kata mendiang ibunda saya. Entah berapa kali itu dikatakannya. Dalam berbagai rupa perbincangan saya dengannya.

“Buat ibu, kamu hebat!” katanya dulu.

Dulu sekali. Saya merasa cukup. Saya tidak merasa hebat dan tak pernah ingin menjadi hebat lagi sesudah itu. Apalagi hanya ‘tampak’ hebat. Sudah pernah, dan sudah cukup… Cukup dari pengakuan ibu saya saja. Orang paling hebat dalam kehidupan saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s