Fun Writing

Self Editing


Kali ini Dina agak sumringah ke saung…

“Jangan membaca sambil mengedit, selesaikan dulu bacanya!”

Mengedit adalah hal yang paling ia senangi. Dan kali ini lelaki bersarung dan tetap berkaos oblong itu mengajari tentang self editing. “Bagaimana pun setiap redaktur media, menyukai naskah yang bersih. Tahu maksudnya bersih?”

“Ya, rajin mandi…” Dina tergeragap ketika ada tangan yang tiba-tiba menunjuknya. Kontan saja yang lain terpingkal-pingkal. Ampun dah! Ikal tertawa paling keras. Matanya sambil melirik-lirik Selvi. Gadis berjilbab yang baru gabung. Dan yang dilirik ketawanya sopan banget, penuh dengan adab, mulutnya ditutupi tangan. Meski badannya kelihatan banget bergoyang.

“Bersih apa Din?” laki-laki bersarung itu sengaja mengageti Dina lagi.

“Bersih lahir dan batin!” sahut Dina keras.

Sisa tawa yang tadi belum reda, kian riuh ditambah kelucuan Dina berikutnya. Ampun deh, suasana saung yang kecil, penuh sesak dengan suara tawa. Apalagi Dina masih terus menjawab, meski sudah tidak ditanya, dan terus ditertawakan…

“Bersih sebagian dari iman, eh bersih pangkal kaya, eh…”

Dina masih terus mencari jawaban yang pas. Sampai akhirnya ada sosok cowok datang dan menghipnotisnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Soson…

“Sosooonn…. Akhirnya lu datang! Tolong keluarin gue dari petaka ini, buruan…” Dina melonjak girang. Membuat Soson bingung, sampai salah tingkah. Mau melepas jaket, jadi melepas ikat pinggang. Konyol deh! Untung kejadian berikutnya tak berlanjut, karena para perempuan keburu teriak histeris. Hingga Soson insyaf, kembali ke otak yang benar.

“Duh, wabah Dina menular nih!” ujar Soson buru-buru salaman sama pemilik saung. “Maaf, mengganggu kekhusyuan belajar, Kang…”

Fhia, si anak kecil yang sudah kuliah senyum sambil membetulkan letak kacamatannya dengan jempol. Maklum kacamatanya kedodoran, melorot terus. Mungkin harusnya dia pakai ukuran S, tapi pakai frame yang ukuran L. Ria mengulum senyum sambil geleng kepala. Cuma membatin sambil berkedip-kedip matanya, “Ampun dah, ini orang merek apa sih…”

Dina hanya mengatupkan bibirnya. Diam!

“Ada yang bisa jelaskan,” kata lelaki bersarung.

“Naskah bersih mungkin, bebas tipo, yaitu bebas dari kesalahan ketik atau sudah sesuai dengan kaidah tata bahasa yang benar, betul nggak sih…” Fhia tampak ragu dengan jawabannya.

“Yup, Fhia benar, ada lagi?”

“Hmm, sesuai dengan syarat teknis termasuk nggak ya?” Selvi ragu-ragu juga. Antara menjawab dan bertanya.

“Bisa, bisa…”

“Emang lu tahu Din, syarat teknis apaan?” Ikal menyela, melihat Dina manggut-manggut.

“Tahu lah, misalnya nih, kalau cerpen kudunya 14 ribu cws, ya jangan bikin cerpen yang panjangan 35 ribu cws. Trus kalau harus dikirim by attachment, ya jangan kirim di body text imel. Trus kalau diminta kasih subjek di imel ya dikasih… gitu-gitu deh! Kalau yang begini sih khatam gue, Kal! Emang elu…”

Dina menarik salah satu ujung bibirnya. Merasa puas.

“Iya deh, Dina sayang…” Ikal menyahut genit. Dina merasa geli, mendengarnya. Buru-buru saja ia pergi. “Mau kemana sayang…” tanya Ikal lagi.

“Cari pasir…”

Ikal tersenyum kecut, “Sial, emang gue kotoran guguk apa!” Terus terang, Dina masih takut sama Ikal, takut ditembak…

***

            “Kenalkan ini Mas Sayuda, editor di sebuah penerbitan, silakan tanya soal editing sama beliau…” lelaki bersarung itu kembali ke saung setelah beberapa menit pergi.

“Ah, saya masih pemula kok…” Sayuda menyahut. “Kita belajar bareng-bareng saja ya, saya tidak lebih pinter kok.”

“Ini ciri-ciri orang pinter beneran, selalu merendah, santun, dan adem…”

“Ah, bisa saja…”

Orang berkaos polo merah itu menjelaskan beberapa poin pentingnya self editing. Pertama, selesai menulis, hendaknya endapkan dulu. Biarkan dulu beberapa saat, biar nanti ketika mengedit bisa lebih jernih.

“Kalau Ali, belum selesai sudah ditinggal…” celetuk Ikal.

“Sembarangan bae nuduh wong liya,” Ali bocah Pemalang itu menyahut, lupa kalau bahasa nasional yang berlaku di saung adalah bahasa Indonesia. Otomatis jawabannya mengundang tawa sekaligus protes. Roaming, roaming… Hingga Ali sadar dan mengoreksi, maksudnya sembarangan aja nuduh orang lain.

            Mas Sayuda melanjutkan setelah situasi tenang. Kedua baca dulu semua naskahnya. Biar kita tahu persis isinya, logikanya, dan komposisinya. Termasuk kekurangan dan kelebihannya naskah itu.

“Setelah itu barulah mengedit. Judul sesuai nggak sama isinya?” katanya kalem. Datar, seperti ustadz ceramah di televisi.

“Misalkan itu cerpen, maka semua unsur cerpennya terpenuhi nggak? Terus narasi atau deskripsinya sudah efektif apa belum kalimatnya, pilihan diksinya tepat atau belum…”

“Kalau cerpen kita kepanjangan, paling efektif ngedit apanya, Mas?” tanya Soson.

“Lihat dulu, dialognya efektif apa nggak. Dialognya kepanjangan apa nggak. Kadang beberapa naskah saya temui dengan dialog yang tidak perlu, kalaupun diedit tidak berpengaruh pada jalannya cerita…”

“Pantesan inyong ngirim cerpen ora dimuat!” Ali nyeletuk. Fhia, Ria dan Selvi terpingkal-pingkal. Dina teriak, “Roamiiinggg….”

“Edit sendiri lah!” sahut Ali sambil cengar-cengir. “Kan selep editing!” (Tef).

 

Dimuat dalam Kolom Fun Writing Majalah Story edisi 45

Iklan

6 tanggapan untuk “Self Editing”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s