Story & History

Kebaikan itu Dekat


“Saya ikut Pak…”

Perempuan tak saya kenal, tampak modis dengan terusan rok dan blus sewarna. Langsung mengikuti langkah saya. Setelah anggukan dan senyum kecil saya berikan tentu saja.

“Boleh pegangan Pak?” tanyanya.

“Silakan… nggak papa!”

Saya berdua melangkah, perempuan itu mengikuti sambil berpegangan pada jaket saya.

“Ikuttt… saya ikut ya,” tiba-tiba suara perempuan lain, usianya matang, tampak orang kantoran juga. Memakai celana dan tampak sigap menggandeng perempuan yang berpegangan sama saya. Lalu, seseorang yang mengenakan gamis, mungkin sepertinya guru atau apa turut serta juga tanpa banyak bicara.

Saya melangkah paling depan, diiring tiga perempuan yang tidak saya kenal. Ahay…

Baru beberapa langkah, dua orang perempuan muda, mirip mahasiswi lah. Usianya segitu, dari gaya dan cekatannya juga pas. Saya sebut saya mahasiswa baru pulang kuliah. Keduanya kompak berteriak kecil, “Ikuutttt…”

terowongan            Maka, jadilah saya mengandeng lima perempuan sekaligus.

“Pelan-pelan ya Pak,” ujar perempuan yang paling dekat dengan saya. Langkah kami berbaris, memanjang.

“Iya, ikuti saya saja…” sahut saya belagu banget.

“Saya takut ular, Pak…” katanya lagi.

“Nggak ada, insya Allah. Bismillah aja…”

“Iya ya, bismillah…”

Langkah kami terus beriring. Berasa seperti Ahmad Fathanah saja saya. Tiba-tiba pada suatu malam, diiring lima perempuan sekaligus. Perempuan yang baru ketemu, tidak saya kenali sebelumnya, dan akrab seketika.

“Bener Pak nggak ada ular…” tanya perempuan yang pegangan saya.

“Insya Allah nggak ada…” sahut saya

“Kan biasanya kalau begini ular pada keluar Pak…” orang berjilbab di belakangnya turut bicara.

“Iya, Pak… saya takut nih…”

“Nggak ada…”

Kami terus beriring, menyusuri lorong gelap sekitar belasan meter.

“Ada buaya nggak Pak…” perempuan itu kian erat pegangan. Tampak sekali ketakutan. “Kan biasanya buaya keluar juga kalau begini…”

Saya ingin sekali tertawa, tapi mau tidak mau harus menjawab dulu.

“Nggak ada, buayanya sudah ditangkap KPK,” sahut saya.

“Ihh, malah bercanda, saya takut beneran, Pak…”

Bunyi kecipak mengikuti langkah kami. Buat yang pakai celana seperti saya tentu tidak berat berjalan di air. Seperti juga perempuan yang pakai rok pendek dan celana. Tapi yang pakai gamis, tentu berat sekali berjalan di air.

Iya, inilah pengalaman semalam…

Saya harus beriring sejalan menyusuri lorong di bawah tol dekat rest area KM 13,5 Kebon Jeruk – Tangerang. Salah satu akses jalan pintas untuk lalu lalang banyak orang. Tapi semalam, karena hujan, terowongan itu banjir hingga selutut orang dewasa, dan satu lagi… lampu terowongan semuanya mati.

“Nah, sampai juga kita…”

“Terima kasih ya Pak, saya takut banget sebenernya,” kata perempuan itu masih juga pegangan jaket saya. “Untung diyakinin nggak ada apa-apa.”

“Iya, saya juga. Terima kasih ya Pak…”

“Iya, sama-sama. Alhamdulillah selamat kan..”

Saya mendapati senyuman dari lima perempuan di ujung terowongan. Dari sorot lampu yang temaram, saya mendapati, ah betapa cantik tadi yang berpegang pada jaket saya. Hahaha… Bukan itu sih, saya hanya mau bilang, berbuat baik itu banyak caranya. Banyak kesempatannya. Dan pasti ada bonusnya. Entah apa dan kapan datangnya.

Iklan

2 thoughts on “Kebaikan itu Dekat”

  1. Wakkkkk… kang Tep jadi Jin Bond di terowongan tol…
    Well… emang begitu Kang, aku juga kalau dalam kondisi yang sama seperti para wanita2 itu akan bersikapa yang sama juga… ^^

    1. Hehe, habis kalo nggak nekat nyebrang, mesti muter jauh banget. Bisa sekilo lebih, jalan kaki pasti cape, naik ojek pasti nambah ongkos, apalagi menjelang tanggal tua begini… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s