Story & History

Makan Tuh Cinta!


Suatu ketika, saya punya pertanyaan. Apakah jodoh juga ada umurnya? Sempat diskusi panjang dengan seorang teman. Tapi saya masih terus bertanya. Seperti umur dan rezeki, jodoh dan umurnya pun misteri. Umur seseorang, tak terduga. Kakak saya meninggal di usia muda, saat sedang di puncak kebahagiaannya menjadi ayah dari tiga anaknya, saat ia mulai menikmati hasil kerja kerasnya. Pun rezeki, beberapa teman saya leading, mapan lebih cepat dari saya. Hidupnya sudah mapan, punya rumah, punya mobil, dan anak-anak yang mulai bersekolah.

Kabar perceraian artis belakangan ini melimpah. Membuat pertanyaan saya muncul lagi. Apakah jodoh ada umurnya. Usia pernikahan mereka ada yang kurang dari sepuluh tahun, dalam belasan tahun, bahkan seperempat abad lebih. Seperti Lidya Kandauw dan Jamal Mirdad yang sudah 27 tahun berumah tangga. Terakhir, pasangan Camelia Malik dan Harry Capri yang sudah menikah 25 tahun. Hmm…

Baiklah, itu tak terjangkau. Jauh dari tangan dan emosi saya. Karena hanya ada di televisi dan media jejaring sosial saja. Di dunia nyata, dalam keseharian saya, peristiwa ini juga terjadi. Dari teman saya yang menikah hanya ‘tiga bulan’ saja, hingga seorang yang saya anggap orangtua saya, teman diskusi, dan orang yang saya hormati. Ia harus bercerai di masa tuanya. Ketika anak-anaknya sudah menjadi orang, sudah menghadirkan cucu untuknya. Duh, saya sempat syok waktu mendengarnya.

Menurut Mariana Aminuddin dari Jurnal Perempuan, dalam rentang sembilan tahun terakhir, kisaran tiap tahunnya rata-rata mencapai 161.656 perceraian. Sehingga, jika diasumsikan setahun terdapat 2 juta peristiwa perkawinan, 8 persen di antaranya berakhir dengan perceraian.

Dari sumber lain yang saya kutip dari Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama, pada tahun 2008 angka perceraian mencapai sekitar 200.000 kasus per 2 juta pasangan menikah. Angka ini meningkat pada tahun 2009, menjadi sekitar 250.000 kasus. Menurut Data dari Kementrian Departemen Agama RI, dari Direktorat Bimas Islam, pada tahun 2010, ada 285.184 perkara perceraian per 2 juta pasangan yang menikah. Dan angka itu terus meningkat di tahun-tahun berikutnya.

Mengerikan!

Bukan hanya memprihatinkan. Terus terang saya merinding menuliskan ini. Penyebab terbanyak dari kasus perceraian itu adalah faktor ekonomi. Bisa jadi karena merasa ditelantarkan secara nafkah oleh suami, bisa juga karena dipicu penghasilan istri yang lebih tinggi. Lebih mengerikan, perceraian yang diakibatkan karena teknologi. Kecanggihan teknologi dan jejaring sosial turut berperan dalam peningkatan angka perceraian ini. Halaaah…

Ya iyalah, fesbukan saja bisa ketemu pacar lama, janjian ketemuan, makan-makan, lama-lama CLBK, cinta lama balik kembali. Duh. Apalagi sekarang sudah lebih mapan, dulu waktu pacaran di sekolah, si cewek belum bedakan dan si cowok belum punya uang. Sekarang ceweknya sudah kenal make up dan modis, cowoknya sudah punya uang dengan gaji jutaan.

Banyak sebab. Termasuk disharmoni dalam berkomunikasi.

Istighfar banyak-banyak.

Komitmen menikah sebenarnya apa? Kalau cuma cinta, apa iya? Kalau karena ganteng dan cantiknya, yakini saja bahwa semakin tua pasti ada keriputnya. Kalau karena hartanya, seberapa lama bisa membeli kebahagiaan? Uang seperti air, tak bisa dipegang, cepat sekali mengalirnya. Jadi kebahagiaan macam apa sih yang akan dicari dalam pernikahan? Cukupkah dengan hanya modal cinta?

Dalam agama saya, menikah adalah perjanjian sakral manusia dengan Tuhannya. Perjanjian yang agung, “mitsaqon gholizho”. Perjanjian yang berat dengan Allah. Perjanjian yang meluluhkan keharaman menjadi halal. Orang yang semula bukan muhrim menjadi halal disentuh karenanya. Sementara, cerai justru tindakan yang malah mengguncang Arsy-Nya. Mengguncang tahta Allah yang sudah melimpahkan semua isi alam semesta ini untuk dinikmati sepanjang hidup. Bagaimana Dia tidak murka. Murka yang tidak saja menimpa yang bersangkutan. Tapi menimpa orang-orang di sekitarnya.

Saya menulis ini sambil gemetar, walau masih saja punya pertanyaan itu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s