Sudut Pandang

May Day, My Day


May Day…

Bulan ini dibuka dengan May Day, hari buruh internasional. Kabar bagusnya, mulai tahun depan, SBY, presiden kita akan menjadikan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional. Melegakan. Karena, libur itu menyenangkan. Libur itu tidak berangkat kerja, bisa bangun agak siang, juga mandi nanti-nanti saja…

Tapi tahun depan. Masih setahun lagi bisa menikmati tanggal 1 Mei sebagai hari libur. Jadi tahun ini, peringatan hari buruh ya seperti biasa. Diwarnai demonstrasi buruh di berbagai titik-titik simbol negara yang strategis. Di depan Istana Merdeka, itu pasti. Walaupun hari buruh kemarin, sang presiden tidak ada di tempat. Kunjungan ke Jawa Timur. Pun ketika Gedung Grahadi, kantor gubernur Jawa Timur di Jalan Suryo dikepung ribuan buruh dari ratusan pabrik di Surabaya dan sekitarnya, SBY tidak di situ. Tapi ke sebuah kabupaten di Jawa Timur, demikian rilis dari jubir presiden.

Di Jakarta, ribuan buruh menyemut mengepung Istana Merdeka. Beberapa rute jalan dialihkan. Transjakarta tidak beroperasi untuk koridor tertentu. Dan Jokowi sempat mengeluhkan rusaknya Taman Monas yang baru dipercantik sebulan lalu dengan dana milyaran. “Mestinya yang beresin sampah mereka dong,” katanya. Ya, sampah berserakan di mana-mana. Bukan saja rumput dan tanamannya rusak, tapi juga tercemar karena jadi ajang buang urine…

Itu yang di depan istana. Belum yang di depan gedung DPR. Arus lalu lintas sekitar Semanggi, Senayan dan Slipi otomatis tersendat. Demikian juga ribuan demonstran di Bundaran Hotel Indonesia. Arus lalu lintas yang melintas sepanjang Sudirman-Thamrin pasti macet. Lebih macet dari hari-hari biasa yang memang sudah sangat macet…

Aksi demonstrasi yang kini favorit adalah menduduki obyek vital negara Bandar Udara. Di Tangerang, upaya untuk menduduki Bandara Soekarno-Hatta juga dilakukan ribuan buruh. Meski tidak terjadi pendudukan, namun akses masuk bandara terhalangi. Banyak orang terlambat terbang, banyak orang membatalkan terbang.

Saya juga buruh…

Seperti mereka, memperjuangkan hak itu harus. Kehidupan ini luar biasa keras. Terutama di kota besar seperti Jakarta. Termasuk kota satelit di sekelilingnya. Tangerang, Bogor, Depok dan Bekasi. Ribuan pabrik menjadi tumpuan jutaan buruh. Dari buruh pabrik skala kecil, menengah, hingga multinasional.

Dari arah yang sama, di tol Tangerang-Kebon Jeruk. Ketika berangkat kerja, saya menjumpai konvoi sekitar ratusan bus. Menuju Jakarta, menuju titik-titik demo. Entah di depan Istana Merdeka, Bundaran HI atau Gedung DPR. Ya, mereka berseragam dengan aneka bus pariwisata, dan banyak bendera melambai-lambai.

Dan demonstrasi selesai tanpa rusuh, Alhamdulillah.

Sore Jakarta diguyur hujan deras. Hmm, beruntunglah mereka yang memilih pulang lebih cepat. Tidak terjebak hujan, tidak terjebak macet. Dan buntunglah, orang seperti saya yang akhirnya pulang larut malam. Tidak hanya menunggu reda, tapi memang terjebak hujan yang awet, kemudian jalanan yang mengular panjang, dan tentu saja, banjir dan genangan di mana-mana. Walhasil, dini hari sampai di rumah…

May Day menjadi My Day…

Hari yang mengingatkan saya juga benar-benar buruh. Meski tak ikut demo, meski harus pulang lewat dini hari yang sepi dan dingin. Untuk lelap meski sekejap, karena jadwal matahari terbit sudah sangat dekat. Untuk kerja lagi, untuk menjalani rutinitas sebagai buruh lagi. Dengan harapan yang membuncah, semoga upah bertambah demi hari depan yang cerah…

Selamat hari buruh, kawan…

Tulisan ini dibuat 1 Mei, telat posting, hehe…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s