SENGGANG

{Film} Puncak itu Pulang…


“New York is very big city…”

Ya, siapa bilang New York kota kecil. Menaklukkannya butuh mimpi dan nyali besar. Walau pemiliknya orang berbadan kecil. Dan semua itu bermula dari kalimat, “Aku nggak takut hantu Bu, aku takut miskin!” Dari mulut anak kecil, di sebuah ruang pengap dan kecil, dengan lampu minyak yang nyalanya kecil.

Ya, sosok kecil itu adalah Iwan Setyawan. Penulis novel 9 Summers 10 Autums yang diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama. Saya berkesempatan menontonnya di Planet Hollywood, awal pekan lalu. Seperti juga saya punya kesempatan membeli dan membaca novelnya beberapa waktu lalu.

Satu lagi film adaptasi yang diangkat ke layar lebar. Olahan sutradara Ifa Isfansyah dengan proses adaptasi termasuk mulus. Buat saya yang membaca novelnya, menonton filmnya, tidak terlalu risau dengan suguhan film hampir dua jam ini. Pola naratif dengan alur kini, flashback, maju mundur, memang terasa pas. Mengadaptasi sebuah novel dari kisah nyata dan orangnya masih hidup, tentu hal yang menantang dan menarik.

9 summers 10 autums           Sebagai sebuah karya film, tentu 9 Summers 10 Autums harus dikemas sedemikian rupa. Bukan hanya unsur fiksinya untuk lebih menghidupkan cerita, tapi juga pemilihan pemeran dan settingnya. Dibintangi Ihsan Tarore, jebolan Indonesia Idol, Iwan tanpak hidup dan hadir. Buat penonton yang tumbuh di zaman itu, beberapa scene akan membuat senyum simpul, teringat sesuatu. Jeli sekali…

Selebihnya penonton akan dibawa ke berbagai setting. Dimulai di Jefferson St. Pada sebuah gerbong kosong, ketidakberdayaan…, lalu beranjak ke berbagai episode kehidupan sang tokoh. New York, Batu, Bogor, Jakarta. Termasuk episode waktunya, SD Ngaglik hingga IPB Bogor. Semua sangat natural.

Dari kebahagiaan Pak Halim – yang diperankan Alex Komang dengan sangat baik – mendapatkan anak laki-laki. Kemudian tabrakan-tabrakan ironi, emosi, dan konflik keluarga, maupun konflik personal Iwan. Pergerakan kehidupan yang semuanya natural. Kehidupan orang kecil, dengan keluguan-keluguan yang komedik. Lucu meskipun tragik.

Lepas dari semuanya, 9 Summers 10 Autum penuh dengan nilai. Tentang mimpi, tentang cara mencapainya. Termasuk memaknainya. Juga tentang hidup, bagaimana cara menyiasatinya dan menikmatinya. Skenario yang ditulis bersama Ifa Isfansyah, Fajar Nugros dan Iwan Setyawan, menghadirkan ruh pada setiap scenenya. Bagaimana peran ibu dan pembelaannya terhadap anak-anaknya. Dewi Irawan berperan baik sebagai Ngatinah, istri Halim. Dan sosok ayah, kebanggaan seorang ayah, serta cara seorang ayah menghayati kebanggaan raihan anaknya di balik sosoknya yang keras. Menyentuh sekali…

Sekali lagi, Alex Komang aktingnya dahsyat banget!

Banyak nilai. Banyak sekali penghayatan nilai-nilai dalam film ini. “Masa lalu, bagaimana pun getirnya, selalu ada untuk dimengerti,” kata Iwan. “Aku tak bisa memilih masa kecilku, tapi masa depan itu kita sendiri yang melukisnya.”

Iwan si anak lanang yang digadang-gadang, dia menempuh caranya sendiri untuk keluar dari kemiskinannya. Pilihan yang hampir mustahil, tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Iwan anak malang dari Malang, malang melintang di negeri Paman Sam. Mencapai puncak karier dengan terang. Dan ia memilih pulang. Demi keluarga, atas nama kata hati…

Di Jefferson St, semua berawal dan berakhir. Datang dengan ketakutan, pulang dengan penaklukkan. Inspiratif…

Selamat menonton.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s