Fun Writing

Seandainya Saya…


            Saya akan menyantuni anak yatim, bikin sekolah gratis bilingual, serta membuat perpustakaan yang canggih dan lengkap.

            Dina tampak berpikir lagi. Apalagi ya…

Hari ini di saung tugasnya agak aneh. Semua yang datang harus menulis ‘seandainya saya’. Terserah mau jadi siapa saja. Boleh jadi JK Rowling, boleh juga jadi Vino Bastian, atau jadi siapa saja. Tugas yang aneh, tapi semua melakukannya dengan tekun. Dina memilih, seandainya saya menjadi Eyang Subur. Dina yang aneh…

Melirik Ria, ia tampak asyik mengetik di laptop warna pink-nya. Menengok ke Fhia, anak kecil tapi sudah kuliah, juga tampak khusyu dengan laptopnya. Mengetik lancar sekali. Beberapa teman yang biasa melingkar di saung orang bersarung itu melakukan hal yang sama. Kecuali orang bersarung dan berkaos oblong itu.

Tiba-tiba…

“Soson…” Dina histeris ketika melihat sosok yang dirindukannya sekian lama datang di tempat itu. Dikucek kacamatanya, ah selalu begitu. Dia lupa kalau berkacamata. Meyakinkan bahwa sosok yang datang itu memang Soson. Fisiknya tidak berubah. Tetap bulat, wajahnya bulat, pipinya berisi, badannya juga bulat, perutnya bulat, lebih tepatnya buncit! Dan Dina langsung menuju tanda khusus yang ia kenali. Jempol kakinya…

Hmm…

Dina yakin, itu Soson!

Ya, jempol kakinya bulat dengan kuku yang mengilap.

“Sosooon…” Dia kembali berteriak. Semua orang menoleh. Dina bergegas menghambur ke Soson. Sayang Soson terlanjur melangkah menemui sang pemiliki saung. Dina yang sudah melepas kacamatanya. Tentu saja tidak bernasib baik, tak disongsong Soson. Tapi malah terpelanting nyangkut di pohon…

***

            “Membangun karakter dalam cerita, kita butuh eksplorasi yang serius…” kata lelaki bersarung, saat semua sudah berkumpul melingkar. Termasuk Dina yang mengelus dahinya yang benjol. “Itu sebabnya, penting setiap calon penulis, mengenali karakter tokoh dalam ceritanya sedetil mungkin.”

Kemudian dia menyuruh satu persatu membaca apa yang ditulis. Ikal mengandaikan ia menjadi Shah Rukh Khan. Duh nggak pantes banget, batin semua orang yang ada. Fhia mengandaikan ia menjadi Kate Middleton, istri Pangeran William calon pewaris tahta Kerajaan Inggris. Ria mengandai diri sebagai Paris Hilton, pewaris jaringan Hilton di seluruh dunia. Dan Dina? Sudah tahu kan, menulis seandainya menjadi Eyang Subur…

Dengan uang yang banyak, saya akan jadikan sumber kebahagiaan bagi orang-orang yang cara bahagianya sangat sederhana. Bisa lepas dari beban biaya sekolah, memiliki jaminan kesehatan bila sakit, dan bisa cukup logistik untuk sehari-harinya.

            Dina menarik napas sejenak. Matanya menatap Soson yang duduk di samping lelaki bersarung itu. Ah, Soson, akhirnya kau datang juga. Rasanya ingin sekali Dina menjitaknya! Pertemuan pertama setelah sekian lama, eh… malah membuat benjol di dahinya.

“Mau dilanjutkan Din?” tanya lelaki bersarung.

Dina tergagap.

Saya tak perlu sensasi, apalagi hal-hal yang kontroversi. Tidak perlu ribut di televisi. Kasihan penonton, mereka tidak tahu, semua sudah jadi komoditi. Rating dan share iklan dikeruk broadcastnya, penonton hanya dapat pusingnya. Soal popularitas itu ada masanya, ada cara memeliharanya. Jadi tergantung personality yang menjalaninya. Tak perlulah meminta restu dari saya, tak perlu percaya pada saya. Dosa! Saya hanya manusia biasa yang makin tua. Hanya tukang jahit yang berusaha hidup lebih baik…

             Tepuk tangan menggema. Dina tersipu. Tapi meringis kemudian. Benjol dijidatnya kena sikut Ikal yang hendak memberikan standing applause. Dina melotot! Hampir saja emosi, tapi Ikal keburu minta maaf dengan wajah memelas.

“Dina cukup baik menghadirkan sosok baru dari karakter yang dipilihnya. Tidak hanya penggambaran fisiknya, tapi pandangan hidupnya, wawasannya, dan pilihan-pilihan atas pemikiran dan sikapnya…” si pemiliki saung berkomentar. “Intinya, membangun karakter dalam cerita, kita harus berani menjadi sosok itu dan meninggalkan ego kita…”

***

            “Kok, lu tahu gue di sini, Son…”

Wajah Dina riang gembira merona-rona, hingga lupa ada benjol di jidatnya.  “Nanti makan-makan di CBD ya…”

“Nggak usah, Din. Mending pesen pizza makan bareng-bareng di sini…” sahut Soson.

“Setujuuu…” sahut bersahut di suara di saung. Ikal suaranya terdengar paling nyaring. Mungkin agar Dina kembali memaling wajah padanya. Maklumlah, kehadiran Soson sangat menyita semua perhatian Dina. Sementara seisi saung sudah tahu, Ikal masih ingin mencari saat yang tepat untuk menembaknya…

“Fhia, telepon pizza, gue yang bayar…” Ikal menyela, “Atas nama Dina tersayang…”

Suasana saung kembali riuh.

Dina merona bias. Antara senang dan khawatir. Senang karena ketemu Soson di tempat yang tak diduga. Dan menjumpai Soson dengan sehat wal afiat, serta makin baik hati dengan jiwa kebersamaan yang tinggi. Tapi, ia khawatir sama Ikal. Sungguh dia tak mau kalau Ikal menembaknya. Apa yang terjadi…

“Din, pizzanya dateng. Duitnya mana…” Ikal menyodorkan billing pada Dina.

Dina tepok jidat! Alhamdulillah pas benjolan. Indah sekali rasanya…

 

*dimuat dalam Kolom Fun Writing Majalah Story edisi 44

Iklan

3 tanggapan untuk “Seandainya Saya…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s