Sudut Pandang

Histeria Eru


“Berapa nomer sepatunya, Eru…”

“Empat puluh tiga!”

Eru yang duduk mengangguk. Lagi-lagi teriakan histeris memenuhi ruang kecil di kantor saya. Puluhan orang fans Eru memperoleh keberuntungan bertemu dengan bintang Korea itu. Bukan hanya anak baru gede, tapi beberapa di antaranya sudah berada di umur mapan.

Acara jumpa fans yang dipandu salah satu awak redaksi itu meriah. Ada yang sudah datang dari jam 11, padahal acara dimulai setelah jam satu. Ada yang dari luar kota, dari Bandung salah satunya. Ada yang diantar ayahnya dengans sepeda motor, masih berseragam sekolah. “Dari Pamulang…” jawab sang bapak ketika iseng saya tanya. Ada yang naik angkot, ada yang diantar mobil.

Ini adalah kali ketiga bintang Korea kelahiran itu datang ke kantor saya. Dan kedatangan kali ini memang dikhususkan untuk temu penggemar, pembaca tabloid remaja salah satu media keluaran tempat saya bekerja.

Buat saya, senang saja…

Habis makan siang, ada hiburan. Bisa melihat Eru, bisa melihat asistennya, bisa melihat penggemarnya. Bisa ikut sorak-sorak bergembira. Hiburan sesudah detlen.

Tentang idola dan histerianya…

Eru1 Saya dulu juga pernah punya idola. Saya mengejarnya sampai ke mana dia berada. Selama di Jakarta, akan saya datangi tempatnya, saya ikuti acaranya. Saya koleksi semua bukunya, saya baca tuntas. Bahkan sampai saya tiru gayanya. Memanjangkan rambut misalnya. Saya tahu persis tanggal lahir, biografinya hafal di luar kepala, hingga hal trivial lainnya. Ya, saya pernah berada dalam situasi psikologis mengagumi idola seperti teman-teman yang rata-rata berumur belasan tahun tadi itu. Tahu hingga nomer sepatunya.

Tapi idola saya bukan penyanyi, bukan artis…

Whatever lah, tapi begitulah histeria bertemu idola. Bersalaman saja bangga luar biasa. Ditepuk punggungnya, sepertinya dunia milik sendiri saja. Apalagi sampai foto bersama, eksklusif berdua saja. Hmm, rasanya tiada dua…

Saya pernah terjebak menduplikasi idola secara fisik. Apa yang tampak, setelah akhirnya disadarkan pada satu hal. Ucapan Prof. Nurcholish Madjid waktu di UI – salah satu dari banyak idola saya -, saya masih mahasiswa yang gondrong, jeans belel dan sandalan. “Manusia itu tidak semuanya baik, tidak semuanya juga buruk, tidak ada manusia yang sempurna.”

Tidak seketika, tapi kesadaran itu perlahan tumbuh.

Idola tetaplah manusia. Dia boleh salah, dia boleh tidak selalu dalam frame keidolaan yang kita sangkakan. Tidak semuanya baik, walau tidak semuanya buruk. Pada akhirnya, histeria itu menjadi daya. Bukan semata-mata mengagumi membabibuta. Tapi kagum pada pencapaian-pencapaiannya. Mengagumi proses-proses mencapainya.

Termasuk kekaguman saya pada teman-teman sendiri. Salah satunya teman yang dalam usia muda telah mencapai puncak gelar akademiknya di luar negeri. Pulang dengan kepercayaan diri, mapan dengan berbagai profesi. Saya jadi belajar, dia belajar di atas rata-rata orang biasa belajar. Dia membaca lebih banyak dari yang saya baca, dia tidur lebih sedikit dari saya yang kebluk, bau bantal terus ngorok! Dan dia berpuasa lebih panjang dari saya yang tak kuat lapar.

Histeria Eru di kantor saya tadi, setidaknya mengingatkan lagi. Ada banyak kerja yang harus dilakukan. Dan itu bukan kerja biasa, tapi kerja luar biasa. Karena Eru hari ini, adalah rangkaian slide panjang yang belum sempat kita lihat. Pasti semua berproses panjang, ada darah, ada air mata. Hari ini yang dia genggam, bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Tidak serta merta.

Saranghaeyo… Abdi tresna ka salira…

Mengalun lagu duetnya bersama Sule!

Iklan

2 thoughts on “Histeria Eru”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s