Sudut Pandang

Twitteran


Orang yang ‘sok pinter’, pasti ilmunya itu-itu saja…

Begitu tulis seorang motivator tersohor dalam twitnya. Lalu saya iseng mereply-nya, kalo orang yang ‘pinter beneran’, pasti ilmunya ini itu ya, Pak…

Saya suka iseng saja. Saya tidak terlalu serius ketika ngetwit. Karena saya juga orang baru di twitwerland. Saya tidak punya target untuk memiliki follower sekian, tidak merasa punya kewajiban juga untuk nge-twit di jam dan waktu-waktu tertentu, dengan tema-tema tertentu pula. Bagi saya, ngetwit itu sesuka-suka saja…

Soal ilmu…

Saya memang menfollow banyak orang-orang berpengaruh yang aktif di twitter. Maksud saya satu, saya belajar. Saya mau belajar. Karena kesempatan saya belajar sudah sulit sekali waktunya. Mau kuliah lagi, datang dan duduk di kelas sudah mustahil. Walau bisa diusahakan. Tapi pilihan ini belum prioritas teratas. Nanti suatu ketika, saya insya Allah balik ke kampus, belajar lagi.

Membaca pun demikian. Meski setiap hari terus membaca, tapi waktu yang tersedia dan serapannya terasa sekali berkurang. Waktunya memang tidak khusus, tapi harus. Beberapa buku malah belum dibuka plastiknya. Duh, waktu membaca sudah banyak terkuras untuk yang lain. Pun daya serapnya. Mungkin daya ingat dan pemahamannya sudah menurun seiring umur.

Maka saya berusaha sedemikian rupa untuk belajar dengan cara yang lain.

Teknologi dan jejaring sosial sangat membantu saya. Saya belajar di internet. Beberapa portal berita pasti saya baca setiap harinya. Lalu beberapa situs yang menjadi langganan saya. Ada portal yang sesuai dengan pekerjaan saya, karena saya harus terus belajar dan tahu perkembangan bahasa. Ada beberapa portal sejarah yang menjadi minat saya. Pun beberapa portal yang menurut saya penting. Karena memang itu penting.

Transisi membaca buku ke membaca layar memang berjalan dengan tak terasa. Maksudnya pekerjaan saya mendukung dan tanpa sadar telah mendorong ke perilaku baru ini. Membaca buku memang tetap ‘ngangenin’, walau sering tidak tuntas. Tapi saya merasa tidak terlalu rugi, karena terganti dengan membaca layar.

Walaupun tetap saja beda rasanya.

Membaca buku itu bau kertas dan aroma tintanya gimana gitu! Bikin ketagihan terus-terus. Ada gerak fisik mengelus kertas, membuka lembar per lembarnya. Hmm… Sori, kayak orang pacaran, hehe…

Beda sama membaca layar. Cara menatapnya kurang emosional. Malah seperti orang marah. Melotot… Kadang kurang fokus, karena pilihannya kebanyakan. Apalagi bila artikelnya ada gambar-gambar aduhai bersliweran. Plus, aromanya itu lho. Membaca layar, aromanya bisa aroma kopi yang menggoda, bukan aroma kertas. Kadang juga aroma parfum wanita. Maklumlah, meja kerja saya jejeran dengan sang sekretaris yang sibuk nian.

Intinya sih, saya ingin terus membaca, ingin terus belajar. Apa pun medianya, di mana pun tempatnya. Karena saya tidak ingin menjadi orang yang ‘sok pinter’ seperti twit seorang motivator kesohor itu. Saya juga tidak ingin menjadi orang yang serba tahu kok, saya hanya meyadari, ‘terlalu banyak yang saya tidak tahu’. Untuk itulah saya terus mencari tahu. Karena seperti juga twit seorang ustadz yang saya follow. “Jangan malu berkata ‘tidak tahu’ kalau memang tidak tahu.”

Saya reply sih, tapi nggak boleh terus2an ‘tidak tahu’ kan Tadz…

Iklan

2 tanggapan untuk “Twitteran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s