Story & History

Bukan Hanya Kartini


Saya tidak sedang menggugat, tapi hanya ingin menyampaikan saja. Pada ruang yang lain, pada zaman yang berbeda banyak perempuan Indonesia yang patut dikenang. Kontribusi dan geraknya, arus pergerakannya juga harus diperhitungkan. Sekali lagi, tidak hanya Kartini…

Kebetulan saya langganan majalah sejarah popular Historia. Kebetulan pula redaksinya baik hati, ngetwit ulang isinya. Karena memang kontekstual. Beberapa nama yang saya kutipkan ini pasti sudah sangat biasa didengar. Sudah diketahui, tapi saya juga yakin, sebagian lainnya baru dengar, bahkan baru tahu. Tenang saja, Indonesia negara besar. Kebesaran sejarahnya, seluas kemauan kita menghargai mereka.

Dan berikut ada nama besar yang jasanya tak kalah sama Kartini:

  1. Cut Nyak Dien, pemimpin pasukan dan api pembakar semangat rakyat Aceh berperang di hutan.
  2. Kemalahayati, pemimpin pasukan melawan Portugis dan perempuan Aceh pertama yang berpangkat laksamana.
  3. Ratu Kalimanyat, penguasa Jepara dan penengah konflik keluarga Kesultanan Demak.
  4. Safiatuddin Syah, selama 35 tahun masa pemerintahannya, rakyat Aceh berada dalam kemakmuran.
  5. Nyi Ageng Serang, penguasa Serang dan memimpin perlawanan terhadap Belanda, bergerilya dari atas tandu di usia 73 tahun
  6. Maria Christina Tiahahu, ikut melawan Belanda di usianya yang masih belasan tahun.
  7. Colliq Pujie, membantu BF Mathes, ahli Bugis kebangsaaan Belanda menyalin naskah Bugis lama dan epos La-Galigo.
  8. R Ajoe Lasminingrat, memperbaiki kehidupan perempuan di Garut dengan membuka sekolah Kautaman Istri pada 1907.
  9. Sitti Aisyah We Tenri Olle, memperbaiki taraf kehidupan perempuan melalui pendidikan dan merintis sekolah rakyat.
  10. Cut Meutia, berjuang melawan Belanda di Aceh.

Masih banyak nama lainnya. Ada Rohana Kudus, tokoh jurnalis perempuan pertama di Indonesia, mendirikan surat kabar Soenting Melajoe serta mendirikan sekolah untuk perempuan. Banyak, banyak sekali…

Sehingga kalau saja kita terjebak memperingati hari Kartini dengan kebaya, sanggul, dan mendandani anak-anak sekolah dengan pakaian daerah, sayang sekali. Ada banyak yang bisa dilakukan orangtua, guru, dan orang yang peduli bangsa ini untuk menyampaikan kebangkitan perempuan Indonesia diwarnai banyak nama besar. Banyak nama yang harus dikenalkan, banyak cerita heroik yang harus disampaikan.

Sudah hampir 50 tahun kita memperingati hari Kartini sebagai hari besar nasional  sejak dikeluarkan SK Presiden RI No.108/1964. Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional sekaligus menetapkan hari lahirnya sebagai hari Kartini. Tapi selama itu pula, peringatannya nyaris pengulangan demi pengulangan. Selain seremonial ya debat soal kesahihan dan politisasi hari Kartini. Hmm…

Mestinya, entah siapa saja…

Memperingati Hari Kartini dengan membuka pidatonya, “Mari kita buka sejarah perjuangan perempuan Indonesia yang besar ini. Banyak sekali perempuan luar biasa jasanya, berjuang, berletih-letih, bersakit-sakit, berdarah-darah hingga bersabung nyawa demi kemuliaan perempuan Indonesia hari ini…”

Lalu dibukalah secara bersama-sama, buku besar sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Saya yakin, nama-nama seperti Surajatin Kartowijono, Sri Mangoensarkoro, Maria Walanda Maramis hingga Auw Tjoei Lan, tokoh perempuan Thionghoa yang menentang perdagangan perempuan, serta banyak perempuan lain akan disebut dan tertanam dalam benak semua pemilik bangsa ini.

Hari ini mungkin mimpi saja dulu, besok kita kerjakan mimpi itu dari lingkaran paling kecil. Keluarga…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s