Sudut Pandang

Konsultan Kacrut


cerita kotakuMelanjutkan cerita saya yang terdahulu, tentang pembekalan tenaga relawan calon walikota di Cisarua yang indah. Jauh dari bising, walau yang dibicarakan adalah hal yang dalam waktu ke depan bakal sangat riuh dan bising.

Di ruang itu…

Semua berseragam. Berbatik. Saya yang baru datang sore, langsung disodori batik yang sama oleh panitia. Saya lihat ukuran XL, oh, panitianya tahu betul ukuran baju yang saya pakai. Hmm…

“Nanti Bang Taufan pakai ini ya…” kata seorang panitia. Lebih tua dari saya tampaknya. Saya hanya menyimpulkan dari gurat di dahinya dan urat wajahnya.

“Siaap…” sahut saya. Dan saya pun bergegas mandi dengan air hangat, salah satu fasilitas yang saya dapat di dalam kamar yang luas dan nyaman itu.

Selesai mandi, salah satu panitia yang setia itu sudah mengabari saya. Untuk makan dulu, terus dikasih tahu susunan acaranya. Hmm… Saya mengangguk, menurut. Sambil menggelar sajadah, shalat maghrib.

“Saya bukan orang yang paling tahu, meskipun saya bicara di hadapan bapak-bapak dan ibu-ibu ya. Nanti kalau ada yang tidak pas, tidak jelas, kita diskusikan bersama…”

Bukaan yang sederhana. Menyamankan saya.

Mengapa sih harus jadi relawan atau jadi tim sukses. Apa manfaatnya? Pertanyaan yang sebenarnya tidak saya lemparkan ke audiens. Tapi beberapa di antara mereka angkat tangan dan menyampaikan alasannya ikut dalam acara ini.

Secara umum, tugas pokok pertama menjadi tim sukses pilkada walikota adalah menyukseskan penyelenggaraan pemilu kepala daerah. Dari saat ini, sampai nanti walikota dan walikota terpilih dilantik. Bahkan kalau perlu terus mengawal kerja-kerja walikota dan wakil walikota terpilih.

Kedua, tugasnya adalah membangun dan menjaga citra kandidat walikota dengan cara-cara yang smart dan bertanggung jawab di mana pun wilayah geraknya. Penjelasannya, karena mereka berasal dari latar belakang yang beragam, baik pekerjaan, domisili, maupun strata sosial dan pengaruh yang mengikutinya. Ada yang tenaga keamanan pabrik, sopir pribadi, tapi ada haji pemilik banyak kontrakan, hingga dokter, pemilik toko dan usaha. Tentu saja, ada banyak strategi yang harus disiapkan. Karena wilayah interaksi sosialnya pasti berbeda. Termasuk cara mengomukasikannya.

“Malam ini, kita sepakat akan membawa citra calon yang diusung adalah tokoh yang intelek, santun, pekerja keras, bla, bla, bla… Jadi yang harus dibangun dan dijaga dalam setiap kesempatan harus selaras dengan ini.”

Kemudian yang ketiga tugas tim sukses adalah memenangkan kandidat walikota dengan cara elegan dan penuh inisatif. Cara elegan berarti tidak melanggar aturan dan etika yang berlaku. Tampil beda dengan penuh percaya diri. Karena yakin, tokoh yang diusung adalah tokoh yang pantas untuk menjadi walikota dengan segala prestasi, visi dan misi, serta karakter yang unggul. Pun dengan penuh inisiatif, terbuka peluang untuk melakukan terobosan yang berbeda dari yang dilakukan pihak lain atau cara-cara komunikasi biasa.

“Boleh kita fanatik bahwa calon kita yang terbaik. Tapi tidak boleh juga membabibuta, lalu pembelaan itu melanggar aturan, etika dan norma… Kita harus cerdik, tapi tidak boleh licik. Setuju?” Ruangan riuh menyahut setuju. ” Oke, sekarang kita rehat ngopi dulu ya…”

Duh, saya kok malah sotoy ya…

*Catatan Jelang Pilkada Walikota Tangerang 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s