Story & History

Bukan Cuma Angka


Setiap pagi sekarang saya mengantarkan keponakan ke sekolah. Si kecil yang sudah besar, sejak Senin pekan  ini ia akan menempuh UN, ujian nasional. Tapi ada yang menyebut UAN, ujian akhir nasional. Tapi tidak penting lah itu… Buat saya yang penting adalah mendampingi Meytri – nama keponakan saya- agar dia percaya diri, dan tidak merasa sendiri.

“Kamu nggak sendiri, ratusan ribu temanmu juga UN kok…”

Menemani dan membesarkan hati.

Itu juga yang dulu dilakukan mendiang ibu saya. Ya, saat saya menempuh Ebtanas. Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Beda istilah saja, tapi intinya ujian kelulusan waktu SMA. Keluarannya juga sama, NEM, nilai ebtanas murni. Sekarang yang namanya ganti, UN, tetap juga keluarannya juga bernama NEM. Ya sudahlah…

Kalau mau lihat carut marut dunia pendidikan kita, cukuplah dari hal sepele.

Lihat saja istilah yang digunakan. Itu sudah cukup untuk melihat kekacauan berpikir para penyelenggara dan penanggungjawab dunia pendidikan di negeri ini. Kalau NEM singkatan dari Nilai Ebtanas Murni, itu boleh lah. Walaupun unsur E dalam NEM adalah singkatan juga. Singkatan dalam singkatan. Ini saja sudah kacau. Lha ini, UN atau UAN apa hasil nilai murninya juga mau disebut NEM juga? Sudahlah, memang begitu adanya.

metriIstilah berganti-ganti, walau hakikatnya satu, ujian! Proses dan yang dilakukan sama, duduk di kelas, mengerjakan soal! Selesai tidak selesai, waktu habis, dikumpulkan. Dan itu hal yang biasa saja buat siswa. Namanya juga sekolah, pasti ada ujiannya. Buat mereka ya biasa juga. Tidak ada yang istimewa. Karena daur prosesnya begitu.

Tapi kemudian dibikin horor!

Orang tua dibikin takut, dibikin khawatir. Guru dan pemilik sekolah juga sama. Media terus mengipasi, sehingga horor makin meluas. Anak-anak mau tidak mau terperangkap dalam lingkaran horor itu. Karena lingkungannya sudah menganggap UN adalah seperti makhluk alien yang menyeramkan, dan akan berakhir semua kehidupan bila tak lulus UN.

Duh…

Saya tidak tahu siapa yang sakit.

Buat saya pendidikan bukanlah semata-mata angka. Saya banyak menemukan teman-teman dengan hasil rupawan dalam capaian akademis. Tapi speed-nya hanya di situ. Tidak ada iringan karakter yang  setimpal. Pintar dalam angka, tapi tidak memiliki karakter yang bisa dibanggakan.

Nilai yang baik, lulus dengan angka baik sekali. Tapi tidak terasah kepekaan diri dan sosialnya. Maunya menang sendiri, sok tahu, dan angkuh. Angka hasil ujiannya tinggi, tapi egois dan mau menang sendiri. Sulit sublim dengan rekan satu timnya dalam bekerja. Menggampangkan dan menganggap enteng.

Termasuk tidak bertanggungjawab!

Memang kasuistik, tapi saya sering sekali bertemu kasus ini. Capaian akademiknya bagus, tapi ya begitu. Ikut terlibat dalam sebuah kerja bersama, tapi ya begitu. Dikasih tanggung jawab, dilaksanakan tapi ya cuma segitu. Sisanya adalah menyalahkan orang lain. Kemudian memilih ‘berkomplot’ dengan orang-orang sejenis, bergosip dan menyalahkan. Lalu membangun citra diri seolah-olah…

Inilah salah satu wajah dari hasil sistem pendidikan nasional yang carut marut. Pribadi kacrut! Pragmatis, malas berpikir, dan mudah menyalahkan orang. Tentu saja egois.

Bagi saya, hal dasar yang paling penting dalam pendidikan manusia adalah pendidikan karakter. Sehingga tidak ada murid ikut UN menyontek bersama, kebocoran kunci jawaban UN dilakukan dengan sistemik dan massif tapi sulit diungkap. Dan ketika ada kejujuran, dia menjadi anomali. Aneh!

Membangun karakter jauh lebih penting sebelum angka-angka. Kesantunan itu karakter. Kerendahhatian itu karakter, penghormatan dalam kasih mengasihi dan sayang menyayangi itu karakter. Bukan angka. Termasuk kepedulian, rasa empati dan simpati terhadap sesama.

Kalau ingin lihat karakter seseorang, berilah tanggung jawab! Apakah ada korelasinya dengan angka-angka capaian hasil UN-nya. Silakan…

Iklan

2 tanggapan untuk “Bukan Cuma Angka”

  1. kereen.. Kalau ingin lihat karakter seseorang, berilah tanggung jawab! Apakah ada korelasinya dengan angka-angka capaian hasil UN-nya. ”

    kalau aku, melihat karakter seseorang, saat sedang marah.. hehehe..
    tulisannya kereen dan ‘nendang’. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s