Sudut Pandang

Suatu Hari Itu…


cerita kotakuSuatu hari, di sebuah vila yang luas dan asri di kawasan Cisarua…

Saya bicara panjang sekali, bersama salah satu orang penting di Kota Tangerang beserta orang-orang pilihan yang mengusungnya jadi salah satu calon walikota Tangerang. Konon, sampai hari ini, sudah terdapat sekitar 9-13 orang yang mencalonkan diri jadi walikota. Salah satunya ya salah satu pejabat penting ini.

Sebelum saya bicara panjang sekali, saya mendengarkan beliau bicara.

“Untuk sampai kepada ‘iya’, saya maju…” katanya sempat tercekat, “Saya harus yakinkan diri saya punya kemampuan dan saya minta petunjuk kepada Allah, bahwa menjadi walikota, hanyalah jalan ibadah saya kepada Allah…”

Hmm…

“Menjadi walikota buat saya bukan cita-cita, buat apa kalau saya jadi walikota hanya menyusahkan orang banyak…”

puncak2Ada gemuruh tepuk tangan di aula itu. Terselip takbir. Audiens di aula itu sekitar seratusan orang. Mereka terdiri dari banyak profesi, berbagai latar belakang pendidikan, ekonomi, dan lintas ideologi. Dan yang tentu saja, beragam motivasi untuk hadir di tempat itu.

Dan tibalah saatnya saya bicara.

Intinya, memberi makna. Menyampaikan hasil amatan dan menyampaikan beberapa strategi sederhana. Lebih kepada, belajar bersama, diskusi, bagaimana caranya, mencapai cita-cita yang sama dengan cara yang elegan.

Penting sekali dimaknai, bahwa pilkada adalah sarana sukesi kepala daerah yang harus disukseskan penyelenggaraannya. Karena biaya penyelenggarannya mahal sekali. Selain melibatkan banyak sekali orang di berbagai level. Baik yang terlibat langsung dalam struktur penyelenggaraannya, juga melibatkan lebih banyak orang di belakang para kandindat yang mencalonkan dirinya.

“Kita tempuh cara-cara prosedural dan konstitusional. Salurannya sudah tersedia, dan kita akan tampak elegan. Cara-cara destruktif akan merugikan banyak pihak, bukan hanya merusak nama baik calon yang kita usung.”

Entahlah, tiba-tiba saya bicara seperti itu. Mungkin karena saya miris dengan beberapa peristiwa pilkada di berbagai tempat yang berujung rusuh. Merusak fasilitas publik, membakar kantor pusat pemerintahan, dan tentu sepaket dengan itu memunculkan teror dan rasa tidak aman bagi masyarakat.

“Pilkada itu kompetisi, bukan hanya adu program, tapi juga adu strategi…” lanjut saya, “Jadi mari kita bikin strategi yang smart, elegan, dan ikut aturan yang berlaku.”

Malam itu di sebuah tempat yang sejuk, saya belajar bersama orang-orang luar biasa. Mereka peduli masa depan kotanya. Peduli perubahan masyarakat sekitarnya. Dan mereka berharap, memiliki harapan tinggi, kepada seseorang yang dianggap mampu mengemban amanah itu. Meski dalamnya hati siapa yang tahu…

Politik tetaplah politik, selain adu cerdik, harus waspada karena ada juga oknum yang licik. Banyak sekali motivasi dan kepentingan yang turut serta. Dari yang tulus, setengah tulus, hingga pragmatis, sampai sangat pragmatis.

Setidaknya, meski kecil saya turut memberi makna. Itu saja. Kapan waktu, saya lanjutkan perihal ini. Semoga tidak lupa. Momen itu memang mengesankan sekali. Ya tempatnya, ya orang-orangnya, semuanya…  Saya banyak belajar hal baru di sini. Di momen ini, di tempat ini!

Visi harus melampaui cita-cita… itu salah satunya.

*Catatan Jelang Pilkada Walikota Tangerang 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s