Story & History

Memuliakan, Dimuliakan


Itu status bbm saya, kemaren dan hari ini.

Sering terlibat mengundang seseorang untuk menjadi pembicara dalam sebuah event, mengajari saya untuk membuat yang terundang merasa nyaman. Logika sederhananya, saya mengundang, maka saya wajib membuatnya nyaman, dan melayani semua kepentingannya. Karena, satu hal penting, saya akan mendapatkan ‘ilmu’ dari yang bersangkutan.

“Apa? Minta tiket?”

“Duh, dengernya pengen muntah nih!”

“Apa? Garuda? Makin mual nih gue…!”

Itu sepenggal dialog saat saya pernah menjadi bagian dari panitia, yang ketua panitianya mengatakan itu pada saya di bbm. Dialog berikutnya tidak perlu saya lanjutkan, karena memang sangat tidak pantas. Tapi cukuplah saya yang akhirnya menjadi tahu, belajar paham. Menilai seseorang tidak cukup dari titel dan pencapaian akademisnya. Tidak bisa menilai juga, orang yang sudah dekat, sangat dekat, ternyata ada sisi emosional yang tidak kita kenali. Cukup itu menjadi pelajaran buat saya.

“Masih diamplopin juga, Mbak! Kan kita udah beliin tiket!”

“Ya iyalah, masak nggak diamplopin!”

Itu kutipan dialog teman saya ketika ditegur sang ketua panitia, orang yang biasa bertugas memegang uang organisasi. Dan selama ini rapi sekali mengelolanya. Dialog panjangnya tidak perlu saya lanjutkan. Tapi cukuplah jadi pelajaran saya dan teman bendahara saya ini. Bahwa bersama-sama dalam waktu panjang dalam sebuah organisasi, masih juga menyisakan sisi-sisi yang tak dikenali bagi saya dan teman saya ini.

Memuliakan…

“Itu benih yang kelak tumbuh entah ketika di mana kamu berada…”

Tidak persis seperti itu kalimatnya. Tapi intinya, begitu. Itu salah satu pesan mulia mendiang ibunda saya. Orang sederhana, biasa saja, bukan pejabat, bukan orang yang punya kedudukan dan status sosial hebat. Biasa saja. Seperti sangat biasanya dia mengajari saya hal-hal sederhana. Belajar dari hal sederhana, memakna berbagai kejadian dengan sederhana, dan memuliakan orang lain dengan cara yang sederhana.

Benih itu memang benar tumbuh…

Suatu ketika, kemuliaan itu tumbuh. Dan kembali kepada diri sendiri. Siapa menanam bakal memetik. Menanam padi tumbuh padi, menabur angin menuai badai.  

Di suatu ketika. Saya merasakan ‘kembalian’ dari apa yang sudah dilakukan kepada mereka. Orang-orang yang pernah diundang dan saya upayakan melayani dengan semaksimalnya. Dan itu sama sekali tidak pernah saya pikirkan jauh ketika langkah pertama keluar rumah untuk hal-hal serupa seperti ini.

“Ada yang bisa saya bantu lagi Mas?”

“Kalau ada yang diperlukan lagi, tinggal bilang saja Mas…”

Hmm. Padahal saya cuma pembicara kelas lesehan, lingkaran kecil sekali!

Hidup menjadi indah, ketika kita paham dahsyatnya saling memuliakan. Dia benar-benar tumbuh. Dan yang saya petik, entah dari benih yang mana. Kata ibu saya, hidup yang sebentar, harus banyak berbuat baik. Dan kebaikan akan menumbuhkan buah-buah kebaikan. Kalau tidak bisa melakukan kebaikan, maka jangan membuat ketidakbaikan… “Diam itu lebih baik…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s