SENGGANG

{Film} Madre, Cinta yang Menaklukkan


Semalam saya tidur cepat, tidak tahu ada mention dalam diskusi kecil di grup bbm itu. Hingga saya baru mengetahui pagi-pagi. Sebuah kalimat dari teman saya setelah nonton Madre, “Mas Taufan, Madre biasa aja…” diikuti ikon 😦

Saya menonton gala premier Madre di Epicentrum XXI beberapa hari sebelum film itu edar 28 Maret 2013. Menonton film adaptasi, memang tidak mudah. Ada yang masih tetap saja berharap, imajinasi tunggal ketika membaca buku atau novelnya bisa terpapar di filmnya. Persis, tidak kurang dan tidak boleh lebih. Dan diskusi ini berulang terus, setiap kali ada film adaptasi cerpen, novelet atau novel. Menghadapkan imajinasi personal dengan kerja kolektif sinematografi yang ketat dan kompleks.

Membaca ya membaca. Menonton ya menonton…

Maka malam itu, saya menikmati betul menonton Madre dari Mizan Productions. Sebuah cerita utuh dari awal sampai akhir. Dari kejelian ide cerita Dewi Lestari yang dahsyat, mengolah biang roti berkelindan menjadi cerita yang memilin banyak sisi. Bukan lagi cerita tentang ‘bila hidupmu berubah dalam sehari’ tokoh utamanya Tansen yang diperankan Vino G. Bastian. Laki-laki pecinta kebebasan yang akhirnya takluk pada cinta!

Madre adalah cinta…

MADREBukan semata-mata ibu. Bukan semata-mata biang roti andalan Tan De Baker yang menunggu pewarisnya setelah puluhan tahun. Tapi Madre adalah cinta yang menaklukkan. Membuat Tansen sang penakluk ganasnya ombak dengan papan selancarnya, takluk pada sebuah kunci. Kunci yang kemudian membuat Tansen takluk pada biang roti, pada sejarah panjang Tan De Baker, pada Pak Hadi, dan pada akhirnya… Takluk pada Mei yang diperankan Laura Basuki.

Cinta memang menaklukkan.

Tapi cinta itu juga menyeimbangkan. Namun keseimbangan itu tidak bisa dipaksa segera. Sehingga membentur-bentur. Seperti yang dikatakan Pak Hadi yang diperankan Didi Petet dengan baik sekali. Katanya, “Kalau jatuh cinta itu pelan-pelan, asal jangan lambat.”

Pelan dan lambat memang beda. Pelan itu kesengajaan. Dilakukan dengan sadar, walaupun sebenarnya punya kekuatan untuk melangkah atau berlari dengan cepat. Jatuh cinta, adalah perjalanan menuju keseimbangan. Tidak bisa buru-buru. Karena perlu penyesuaian dari perkenalan yang terus memuai.

Secara alur, Madre adalah film yang menarik. Dan Benni Setiawan mampu mengolah ‘Madre’, biang cerita yang hanya novelet berapa halaman saja, mengembang menjadi film yang hampir dua jam. Bak seorang artisan, profesi pembuat roti professional yang tetap menggunakan peralatan dan cara manual. Sebuah profesi yang dikenalkan dalam film ini, sang sutradara peraih Piala Citra ini mampu mengolah, menguleni, dan mengembangkan ‘Madre’ menjadi film yang aroma dan gigitan adegan ke adegan lainnya terus menagih.

Mengalir dan segar…

Tansen yang mencintai hidup bebas, bertemu dengan Mei yang penuh keteraturan pada titik temu Tan De Baker. Menjadi ‘tukang roti’ tentu bukan Tansen, tapi kunci itu mengharuskannya menghidupkan Tan De Baker. Tansen yang sudah lepas dari sejarah Tan De Baker, diperantarai oleh Pak Hadi sebagai pembantu setia leluhur Tansen. Dan Mei yang memiliki romantisme Tan De Baker di masa kecilnya.

Cerita terus mengalir dengan kelindan konflik dan emosi tokoh-tokohnya. Termasuk menghadirkan Braga yang memikat sebagai setting Tan De Baker. Hmm, eksotisme kawasan kota tua di Bandung itu makin membuat film ini punya nilai. Turut membunyikan restorasi kota tua itu penting, mendidik, dan menunjukkan, masa lalu hidup di hari ini.

“Aku ingin kamu kembali untukku,” kata Mei ketika Tansen memilih pergi. Dan… Tansen memang kembali. Untuk Mei, untuk Tan De Baker, untuk Madre, untuk Padre. Endingnya romantik. Dan kian leleh dengan iringan suara Afhgan…

Jika aku bukan jalanmu, kuberhenti mengharapkanmu | Jika aku memang tercipta untukmu, ku kan memilikimu | Jodoh pasti bertemu…

Buat saya, Madre tetap tidak biasa. Selamat menonton.

Iklan

6 tanggapan untuk “{Film} Madre, Cinta yang Menaklukkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s