Fun Writing

Seandainya Saya…


“Enak ya jadi orang kaya…” Menjadi kaya itu impian banyak orang. Kemaren sambil lewat saya mendengar obrolan tukang ojek di depan pintu tol Kebon Jeruk juga begitu. Mereka mangkal di balik Apartemen Kedoya Elok yang isinya ekspatriat dan orang kaya berwajah pribumi. Persis di balik pagar parkiran mobil yang dari merknya dan bentuknya menyolok mata.

Nah, bagaimana hal ini menjadi ide. Bagi yang sedang belajar menulis seperti saya, sangat butuh pengandaian-pengandaian untuk keluar dari ego penulis. Andai saya menjadi Eyang Subur, andai saya menjadi Adi Bing Slamet, andai saya menjadi Jenderal Djoko, andai saya menjadi Wanda Hamidah, andai saya menjadi SBY, andai saya menjadi Siwon Suju atau siapa saja yang kita mau. Termasuk andai saya menjadi orang kaya, seperti kata tukang ojek itu.

Keluar dari ego sendiri, masuk ke dalam karakter orang lain, menyatu dalam ranah rasa dan psikologi serta wilayah kehidupan tokoh yang kita ingini. Ini adalah latihan penting untuk membuat karakter dalam sebuah cerita menjadi hidup, punya ruh, dan tidak mengada-ada.

Tiap hari bergelut dengan naskah-naskah cerpen, ada yang menarik dari itu semua. Ada yang tampak cepat puas dan terburu-buru. Padahal, menulis yang baik untuk hasil yang baik, perlu latihan dan keberanian untuk mencoba terus menerus. Tidak selesai pada satu naskah, terus puas, dan merasa sudah bagus.

Saya sering mendapati, cerpen yang masuk ke redaksi tempat saya bekerja tidak memunculkan karakter kuat, baik sisi emosi maupun detil fisiknya. Hanya cowok, hanya cewek. Berambut panjang, lurus atau ikal tak disebut. Anatomi lainnya juga sering terlewat. Tapi langsung diklaim sebagai ‘cowok ganteng idola para cewek di sekolah’ atau sebaliknya, ‘cakep banget, bikin mata cowok jelatatan’.

Baru penggambaran fisiknya sudah banyak kedodoran. Apalagi masuk ke suasana psikologinya. Sehingga seringkali ada celah-celah yang longgar, soal penghayatan. Sehingga apa iya, begini. Apa iya begitu. Masak orang yang biasa kaya, berkecukupan, hidup di zaman modern perilakunya kampungan. Tidak familiar kepada teknologi sehari-hari. Dan beberapa lagi lainnya.

Ini hanya cara saya belajar.  Mencoba membangun karakter dalam cerita dengan keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam tokoh yang saya buat. Sehingga ia menjadi tokoh yang tidak hanya berjenis kelamin, tapi sampai ke detil, fisik, psikologis, pemikiran, pandangan hidup, dan perilakunya.

Ya hanya dengan cara sederhana…

Seandainya saya menjadi, misalnya. Menjadi Jenderal Djoko, yang memiliki 28 rumah mewah di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo dan Depok. Memiliki bus pariwisata enam buah. Punya pom bensin tiga, mobil mewah dari Toyota Harrier, Jeep Wrangler hingga Nisan Serena. Dan bisa memikat Dipta mahasiswa hukum sang Putri Solo itu.

Atau seandainya yang lain…

Menjadi Eyang Subur yang konon dermawan, tapi asal usul uangnya tak jelas juntrungannya dari mana. Menjadi anak menteri, menjadi artis pendatang baru atau artis terkenal, atau menjadi tentara Korea Utara yang harus memencet tombol rudal nuklir ke arah Korea Selatan, tempat beberapa keluarga besarnya juga tinggal…

Ini hanya salah satu cara sederhana versi saya, banyak cara lain yang lebih canggih tentu saja…

Iklan

2 tanggapan untuk “Seandainya Saya…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s