Story & History

Melipat atau Dilipat Waktu


“Hah, ini anakmu?” tanya saya kaget, lalu mengambil anak kecil berbaju pink dari gendongannya. Anak yang cantik, dari ibu yang saya tahu bakal tumbuh cantik. “Siapa namanya, sayang…”

Gadis cilik belum setahun itu hanya memainkan matanya. Ibunya yang menjawab.

“Cantika, Kak…” sahut ibunya. “Kok, Kak sih, Om, Pakde, atau apa ya…”

Saya tersenyum, “Ayah…”

tope - sasaYa, ibunya Cantika adalah angkatan pertama dari TPA – Tempat Pendidikan Al-Quran yang saya dirikan bersama beberapa teman. Waktu saya masih kuliah, saat saya masih lajang, dan masa saya masih banyak waktu luang. Dulu, semua murid di tempat itu memanggil saya, Kak… Mereka adik-adik saya.

Semua tumbuh, semua bergerak…

Siapa yang tak tumbuh, siapa yang galau terhalau!

Demikianlah waktu, melipat dan berkelibat begitu cepat. Lambat bergerak, kita dilipat. Lengah sejenak, ia berkelibat. Sulit dikejar dan tak kembali wajahnya hingga hidup kita tamat. Begitulah riwayat waktu.

Sebulan lalu, saya siapa. Setahun lalu saya buat apa. Dan tahun-tahun yang berlalu saya lakukan apa? Hingga saya tidak sekaget tadi. Melihat yang lain tumbuh. Mendewasa, menjalani peran-peran orang dewasa. Seperti murid saya, yang kini jadi ibu anak gadis kecilnya.

Itu hanya contoh kecil…

Tentu banyak pergerakan yang lain. Dan semua itu bisa lewat begitu saja menjadi kesia-siaan. Tidak terukur dan absurd. Hingga kita berdalih, “Hidup mengalir saja…” atau “Nikmati saja…” Tidak salah, tidak keliru. Karena perspektifnya banyak. Kalau itu bentuk syukur setelah usaha keras, tentu benar. Tapi kalau itu terucap sebelum melakukan apa pun dengan maksimal, tentu itu bisa disebut pembenaran.

Ini mungkin yang sering dibilang orang, “Hidup harus punya mimpi.”

Bermimpilah, lalu wujudkan mimpi itu. Jangan hanya bermimpi, lalu tidur lagi. Saya kutip ucapan Anggun C. Sasmi, “Bermimpilah, setelah itu bangun, cuci muka, dan raih mimpi itu.” Banyak mimpi yang menjadi kenyataan. Walt Disney besar, dari gambar kartun, menjadi tontonan, menjelma menjadi berbagai wahana di banyak kota besar dunia.

Saya juga punya mimpi, meski bangunnya kesiangan…

Setidaknya, agar saya tidak dilipat waktu dalam hidup yang sebentar. Mimpi saya sederhana, melanjutkan mimpi almarhumah ibu saya. “Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain…” itu salah satunya. Apa pun bentuknya. Mimpi lainnya, biarlah saya simpan untuk saya wujudkan kelak. Masih mengumpulkan banyak daya untuk meraihnya.

“Eh, enak digendong Ayah Ndut, yaa…” senyum itu mengiring suara gadis kecil yang kini jadi ibu. “Badannya lebar sih ya, kayak kasur, empuk…”

Saya tertawa, dia tertawa, dan si kecil tersenyum. Saya senang, pertemuan yang hangat. Dengan sedikit rasa hangat mengalir di tubuh saya.

“Hmm…” saya tersenyum.

“Eh, maaf Kak, tadi lupa nggak dipakein pempres…” ibunya Cantika tergopoh mengambil anaknya dari gendongan saya. Cantika hanya tersenyum. Menggemaskan.

Pagi yang hangat…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s