SENGGANG

{Film} Lupus Bangun Lagi…


“Lupus makin shaleh…”

Itulah komentar saya begitu selesai menonton tayangan gala premier film Bangun Lagi Dong Lupus, besutan sutradara keren Benni Setiawan, semalam (1/4) di Planet Hollywood Jakarta.

Film yang diadaptasi dari karya Hilman Hariwijaya yang pernah jadi serial di Majalah Hai yang sudah dibukukan, dan tokoh-tokohnya tidak asing buat saya. Boim Lebon misalnya, tidak secara fiksi saja saya kenali, tapi secara realitas beliau adalah sahabat, teman dan guru menulis saya. Pun demikian tokoh Gusur penyuka puisi dan lukisan itu. Sehari-hari saya sekantor dengan beliau. Bos saya di sebuah kantor yang mengelola beberapa media. Termasuk yang memuat serial Lupus sekarang ini.

Dan menonton film ini…

bangun lagi dong lupusSaya merasa segar. Ini adalah Lupus hari ini.

Apresiasi harus saya berikan untuk Mas Hilman dan Mas Benni yang berusaha menghadirkan ‘kekinian’ Lupus. Mas Hilman sebagai pemilik ruh Lupus diterjemahkan dengan daya visual secara baik oleh Benni Setiawan. Baik dari tema, setting, hingga kehadiran talent baru yang dijaring melalui audisi di berbagai kota oleh Eko Patrio, bos Komando Pictures yang memroduksi film ini.

Apalagi dengan kehadiran Didi Petet yang aktingnya sebagai Engkong-nya Gusur benar-benar dapet! Termasuk hadirnya Deddy Mizwar sebagai Pak Zairin, si kepala sekolah SMA Merah Putih. Saya tidak meragukan akting mereka lah, master! Apa pun perannya, pasti luar biasa.

Secara alur cerita, film ini ya sederhana saja.

Lupus sebagai anak laki-laki pengganti papi-nya yang sudah meninggal, ia harus bertanggung jawab dan mengambil peran untuk melindungi Mamih-nya dan adik semata wayangnya Lulu. Dan di film ini, Lupus tampak lebih kalem, cool, dan dewasa. Jahilnya agak kurang atau malah nggak ada ya…

Selebihnya cerita di sekolah. Tentang persahabatannya dengan Boim, Gusur, dan Anto. Termasuk dengan kisah jatuh cinta ala anak sekolah dengan Poppie yang diperankan Acha Septriasa. Tidak ada keminderan dalam diri Lupus, meski harus berhadapan dengan Poppie yang tajir. Bahkan ia mampu mengalihkan perasaannya dari Daniel, anak orang yang kaya raya tapi cengeng. Hmm… khas anak kota, tidak minderan. Itu cukup positif untuk membangun karakter. Bahwa berhadapan dengan siapa pun, kita tak boleh minder. Tapi juga tidak boleh terlalu pede, hingga kontra produktif seperti yang dilakukan Boim.

Ini film remaja…

Cukup fresh, cukup menghibur sebagai tontonan. Kehadiran Eko Patrio dengan poco-poconya boleh juga, menyegarkan. Meski cara menyampaikannya sedikit terlalu banyak repetisi. Pengulangan yang tidak perlu. Ada satu dua scene yang agak kagok, seperti ketika Lupus pulang malam dan Mamihnya menangis. Ada repetisi menjelaskan tanggung jawabnya sebagai anak pengganti ayahnya yang cukup dijelaskan sekali.

Namun seperti saya bilang di atas, ada banyak pesan baik dari Lupus. Selain kampanye go green yang dikemas lembut, untuk memberikan kesadaran dini akan pentingnya lingkungan, juga adegan ketika Lupus terjebak hujan bersama Poppie di sudut Taman Menteng…

“Takut mana, sama hujan atau sama Allah…”

Hmm, bukti Lupus makin shaleh kan…

Film ini dibintangi oleh beberapa pendatang baru hasil audisi di beberapa kota. Miqdad Addausy cukup baik berperan sebagai Lupus. Pun Jeremia Christian sebagai Gusur, Mela Austen sebagai Lulu. Dan yang tetap konyol adalah Boim yang diperankan Alfie Alfandy. Selamat menonton.

Iklan

4 tanggapan untuk “{Film} Lupus Bangun Lagi…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s