Story & History

Eyang Kok Subur…


“Orang Indonesia itu suka ke dukun,” kata Ki Joko Bodo saya kutip dari majalah terkemuka Tempo. Saya tidak terlalu kaget, hanya merasa mendapat legitimasi. Pernyataan dari seorang praktisi perdukunan. Karena berdasarkan pengakuan dukun Joko Bodo itu, klien-nya, duh klien! Maksudnya orang yang merdukun, datang kepadanya itu dari berbagai kalangan. Bukan hanya artis yang kariernya ingin terus terkenal…

Saya kok tergoda berita tentang Adi Bing Slamet yang berseteru dengan konon penasihat spiritual alias dukunnya, Eyang Subur. Bekas penjahit di Slipi, kata Tarzan Srimulat ketika mengenalnya dulu, yang kini kaya raya dan sangat royal. Royal itu gampang memberi. Dan yang diberikan bukan beras, mie instan, kecap dan gula. Tapi perhiasan hingga mobil…

Tessy Srimulat mengaku pernah diberi mobil, Unang Bagito juga demikian. Beberapa lainnya mendapat uang dan perhiasan. Dan pertanyaannya, darimana uang banyak Eyang Subur untuk membeli itu semua. Sungguh tak masuk akal, karena di usianya yang uzur, tidak bekerja lainnya selain menjadi dukun. Hmm…

Banyak orang, bahkan jutaan orang tiap pagi pergi berebut angkutan umum dengan mata masih mengantuk dan tidak sarapan. Kemudian kerja seharian, keringetan, putar otak, peras tenaga. Pulang sore, bahkan malam, masih belum juga bisa pulang membawa uang sisa. Karena UMP 2,2 juta versi Jokowi-Ahok belum mencukupi kebutuhan dan biaya hidup tinggi di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi ya ini Jakarta Bung!

Hal apa pun bisa terjadi. Semakin aneh, semakin nJakarta!

Saya kira bukan Eyang Subur saja yang begitu. Banyak dukun lain, entah dukun beneran, kualitet nomer satu, sampai dukun palsu. Melakukan praktik perdukunan di tengah masyarakat galau. Ada pertemuan titik, orang-orang galau, frustasi, hilang kendali ketuhananannya, dengan kecerdikan orang-orang yang memanfaatkan kemampuan metafisiknya (wallahu a’lam). Sehingga yang bersangkutan merasa menemukan ketenangan, ketenteraman, dan kenyamanan. Mereka hanyut, kian dalam, kian merasuk, kian terjerat dalam ikatan itu. Ada yang kemudian sadar dan kembali ke jalan yang benar, ada yang setengah sadar, ada yang tidak sadar sampai sekarang.

Kasus Adi Bing Slamet bukan satu-satunya. Dan bukan yang terakhir…

Dalam hal perdukunan dan dukungan mistis, seperti diungkap Joko Bodo, tidak hanya artis, tapi ada juga pengusaha, orang biasa, dan penguasa. Bahkan jauh hari, sudah diungkap media, bagaimana kekuasaan zaman Soeharto juga dekat dengan dunia mistikal. Kedekatan Soeharto dengan Jenderal Soedjono Hoemardani, orang yang menjadi penasihat spiritualnya. Menjadi perantara penguasa orde baru itu ke dunia mistik. Menjemput ‘dhawuh’ atau pesan leluhur dari berbagai tempat wingit. Termasuk di Wonosobo, Bantul dan Gunung Selok Cilacap untuk memantau perkembangan sosial politik secara gaib.

Percayalah, orang yang datang ke dukun pasti ‘orang sakit’. Karena cek di KBBI – kamus besar bahasa Indonesia, dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dsb). Nah lho… Soal nama itu kan marketing-nya saja. Mengemasnya, bisa jadi namanya dukun japa, dukun klenik, dukun santet, dukun susuk, atau dukun tiban, seperti Ponari si kecil yang ajaib itu. Agar tampak lebih elegan dan sesuai zaman, ada pilihan menjadi penasihat spiritual atau paranormal.

Hmm…

Saya teringat isi kutbah jumat di Masjid Al-Ukhuwah di Kedoya. Belajarlah dari gerak shalat, kata khatib. Dalam berdiri, logikamu jadi raja. Tapi tidak ketika ruku, logika dan hati sejajar, dan hatimu akan jadi raja ketika kamu sujud. Banyaklah bersujud, panjangkan sujud… Karena Tuhan dekat sekali dengan sujud hambanya. Jadikan Allah penolong dan sandaran dan tidak ada selain Dia…

Oalah, disekolahkan tinggi-tinggi dan diharapkan hidup lurus. Malah percaya Eyang Subur eh dukun. Duh!

Iklan

6 thoughts on “Eyang Kok Subur…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s