Sudut Pandang

Pesan Tak Sampai


cerita kotakuSemakin hari, semakin ramai saja sudut jalanan sekitar tempat saya tinggal dengan berbagai spanduk, baliho, atau tempelan poster calon walikota. Ukurannya? Dari yang sangat besar, bisa sedinding rumah, hingga kecil mungkin sekitar ukuran A-3 gitu lah…

“Wuih, udah ada yang lain lagi…” saya sering membatin ini.

Pemilihan walikota masih 31 Agustus 2013 nanti. Kedatangan teman saya tempo hari, mendadak jadi membuka mata saya, “Lu hidup, makan, buang hajat di mari, nggak bisa cuek dong ama tempat tinggal lu!” Itu kalimat yang mencuat sendiri dalam diri saya. Ugh! Warga macam apa saya ini…

Wajar upaya sosialisasi para calon walikota Tangerang makin gencar. Karena warga seperti saya itu banyak sekali. Entah berapa ratus ribu. Pagi pergi berduyun-duyun ke ibukota, bus-bus penuh, kereta penuh, sepeda motor dan mobil berdesak di jalan. Malam baru pulang, dan nyaris tak mendapat informasi perkembangan berita lokal. Maka, pemasangan spanduk, baliho dan poster itu saya maknai sebagai upaya baik tim sukses. Tidak hanya mengenalkan, tapi juga mengingatkan. Pertanyaannya, siapa mereka itu…

Penggunaan media outdoor dalam kampanye memang salah satu yang harus dilakukan. Mau tidak mau. Sistem pemilihan umum dengan one man one vote membutuhkan cara cepat mengenalkan calon, apalagi waktunya sempit, wilayah pemilihannya luas dan jumlah pemilihnya banyak, plus dinamika penduduk pelaju yang tinggi.

Pemanfaatan media outdoor harus dilakukan dengan tepat dan efisien. Karena, harus bisa mengimbangi biaya cetak media dan pemasangannya yang mahal dengan efektifitas penyampaian pesan. Beberapa hal ini mungkin bisa membuat efektif, ini gaya-gayaan saya saja…

pilkada2Fokusnya apa? Mau menonjolkan figur calon, jargon, atau visi misinya? Sehingga sekali lihat, orang paham. Pesan ditangkap. Tidak riweuh dengan banyak pesan  yang ingin disampaikan padahal hanya dilihat sepintas sambil jalan. Bukankah di kartu suara nanti, yang ada hanya foto dan nama?

Pilihan jargon yang singkat, jelas, lugas…

Jargon yang tepat membuat orang mudah mengingat. Seperti misalnya, Maju Terus Pantang Mundur dipakai Abdul Syukur, Semakin Dekat dalam Melayani – Hilmi Fuad, Lanjutkan! – Arief Wismansyah. Yang lain tidak saya sebut karena saya tidak tahu ya…

Tampil beda, itu penting. Ini kreativitas tim sukses lah. Karena apa pun itu, dalam sebuah kompetisi, apalagi ini kontestasi politik, diferensiasi itu tetap penting. Berbeda dan unik itu akan menarik.

Dan hal yang paling penting lainnya adalah penempatan yang baik. Mudah dipandang, mudah terlihat, terjangkau dari beberapa meter, dan di tempat yang memiliki tingkat lalu lalang tinggi. Saya banyak mendapati, sepertinya poster, spanduk dan baliho dipasang tidak mempertimbangkan hal ini. Ditempel di pohon, dipasang dekat tempat sampah, atau bertumpukan dengan yang lain.

Selain bisa menimbulkan rasa tidak simpati, karena dianggap membuat kekumuhan, mengurangi keindahan, dan tidak ramah lingkungan. Sayang juga, buang uang dan pesan tak sampai.

Ah, kok saya jadi sok tahu kaya gini ya…

*Catatan Jelang Pilkada Walikota Tangerang 2013

Iklan

3 thoughts on “Pesan Tak Sampai”

    1. Hehe, ya begitulah. Kita jadi tahu, siapa yang peduli lingkungan sebenarnya. Kalau memasang poster dipaku ke pohon2 dipandang sepele, memasang poster bertumpuk2 membuat kumuh…

      1. Tapi hampir semua caleg melakukan itu je, mas. Dianggepnya hal yang umum dan ngga masalah. Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s