Fun Writing

WhatsApp!


Dina galau tingkat dewa. Harusnya ia datang ke saung, hari ini ada kejutan kata Ikal, si pemilik rambut kucel, kriwil dan bau itu. Kalo lu dateng, gue mau nembak elu… Suer! Begitulah WhatsApp Ikal kepadanya sabtu pagi.

“Dateng nggak ya Ri,” Dina menelepon Ria.

“Lha emang kenapa? Dateng mah dateng aja…” sahut Ria entah di mana. Ada suara Josh Groban menjadi backsound-nya.

“Gue takut Ri…” kata Dina.

“Takut kenapa? Kan minggu kemaren udah belajar ilmu tentang mengatasi rasa takut! Masak baru seminggu dah nggak inget…”

“Bukan nggak inget, emang lupa beneran…”

“Udah ah, gue lagi kencan nih, ganggu aja…”

“Sebentar, sebentar…”potong Dina buru-buru, “Baiknya gue dateng apa nggak? Eh, elu dateng?”

“Gue dateng! Terserah elu!”

Klik! Ria menghilang dari gelombang suara di blekberi Dina. Membuat Dina kembali ke tingkat galau mahadewa. Lebih kacau, lebih membuat Dina linglung. Jalannya makin limbung, otaknya ruwet melambung, bingung.

“Cileduk Mbak!”

“Eeee… jangan tembak, jangan tembak…”

Tawaran tukang angkot disahut Dina dengan kacau luar logika. Kontan saja, sekerumunan tukang ojek depan kompleknya tertawa girang. Ada mahasiswa kaget dan menghibur mereka yang seret tumpangan.

Dina tersipu, masuk angkot. Malu…

***

            “Hindari menggunakan kalimat panjang dan paragraf panjang…” kalimat itu meluncur dari laki-laki bersarung dan berkaos gambar singa. “Kenapa harus dihindari, selain bacanya capek, bikin sesak napas, juga sulit bikin orang paham.”

Semua orang melirik kedatangan Dina yang terlambat. Ikal melirik tajam, Dina mengelak dengan banyak pura-pura. Dari pura-pura sibuk membongkar tas, mengeluarkan laptop, sampai pura-pura mengelap kacamata.

“Jangan menyiksa pembaca lah…” katanya lagi.

“Iya, pembaca udah galau, ceritanya galau, eh… diajak sprint juga dengan kalimat panjang yang nggak pake koma,” sela Ali sambil senyum.

“Jiaaah, curcol dia…” sahut Fia, anak kuliahan paling kecil di antara yang lain.

“Emang lagi galau Li?” tanya yang punya saung.

Ali senyum-senyum malu. Fia dan yang lain tertawa keras. Sekeras lirikan Ikal kepada Dina. Serta sekuat tenaga, daya dan upaya Dina untuk tidak menengok Ikal. Kalo lu dateng, gue mau nembak elu… Suer! tiba-tiba mengiang-ngiang lagi. Duh…

“Oke, daripada berpanjang-panjang dengan kalimat, berpanjang-panjang dengan paragraf, mending perpanjang napas menulisnya…” kata laki-laki bersarung itu.

Dina terselematkan sementara. “Betapa bijak dirimu, guru…” batinnya.

“Bagaimana caranya? Gampang. Ini juga resep supaya tidak terjebak dalam writers block. Buntu, mau menulis apa lagi…”

“Saya tahu jawabannya,” sela Ria, “Banyak membaca…”

Ikal tepuk tangan. Fia ikut tepuk tangan. Lelaki bersarung tersenyum. Ria tersenyum lebar. Dina tidak tersenyum, dia menunduk. Tapi diam-diam mencuri pandang. Memandang Ikal. Lelaki kecil, berambut ikal yang kali ini tetap pakai kaos hitam. “Hmm, sebenernya dia cakep…” batinnya. Tapi dengan segera logikanya menolak…

“Tidaaak, tidaaak…” Dina histeris, keceplosan.

Semua orang memandang ke arah Dina dengan aneh. Seperti masuk ke ruang hampa, bengong, aneh, dan bertampang jelek semua. Ya, efek kaget dari kalimat Dina.

“Hualah, jebule sing galo udu inyong tok…” Ali memecah beku dengan bahasa ibunya. Anak Pemalang itu memang sering lupa, kalau semua orang di saung berbahasa Indonesia. Dia anggap, karena ada yang sarungan dan duduknya di saung, rasanya seperti di kampungnya.

“Roaming, roaming…” teriak yang lain.

“Eh, iya. Ternyata yang galau bukan cuma gue!” Ali meralat dengan bahasa Indonesia rasa Pemalang. Medog eh medok!

Lagi-lagi, Dina mengalihkan rasa malunya dengan berpura-pura sibuk. Tapi kali ini sibuknya aneh. Dia copot kacamata, lalu menggaruk matanya…

***

            “Silakan, Ria mau menyimpulkan?” laki-laki sarungan menawarkan.

“Ya, menulis itu intinya adalah bagaimana menyampaikan pesan. Nah, agar pesan sampai dengan benar dan tidak terdistorsi, ada beberapa syaratnya. Antara lain, gunakan kalimat pendek dan lugas. Gunakan tanda baca dengan baik, kalaupun harus menggunakan  kalimat panjang tetap bisa dicerna. Terus…” Ria membaca rangkumannya di gagdetnya. “Terus… Paragraf juga begitu. Sebaiknya satu pokok pikiran, lalu dijelaskan dalam paragraf-paragraf berikutnya.”

Dina menyimak, tampaknya. Tapi sebenarnya tidak. Dan lelaki sarungan itu tahu.

“Cukup Ria, terima kasih. Dina apa yang lu dapat hari ini…”

Dina kaget…

“WhatsApp… ya WhatsApp dari Ikal…” jawab Dina tegas. Meski beberapa detik kemudian dia mengerutkan dahi, karena orang-orang sekitarnya tersenyum, tertawa dan memandangnya aneh.

“Oke, oke…” sahut si lelaki bersarung mengulum senyum. “Sekarang baca coba, kita ingin tahu nih…”

Semua wajah merekah. Senyum di mana-mana. Pandangan mata silih berganti, memandang Dina, memandang Ikal. Wajah tegang pada Dina, wajah cengengesan pada Ikal. Dina tampak kalang kabut ronanya. Ikal laksana dibelai kabut…

“Baca? Sekarang?” tanya Dina tergagap. Tiba-tiba Dina maju dan mengambil spidol. Ia memilih untuk menulisnya di whiteboard. Wajah-wajah penasaran menunggu Dina yang menulis dengan tangan gemetar…      

Ikal mau nembak saya!

Kontan saja sorak-sorak bergembira langsung membahana di saung siang itu.

Dimuat dalam kolom Fun Writing Majalah Story #43

Iklan

4 tanggapan untuk “WhatsApp!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s