Fun Writing

Zebri dan Cebo


Mengajar anak-anak kelas menulis di sebuah SD Islam di Bintaro, sabtu itu membuat saya terhibur. Meski sedang tidak begitu fit, tapi ketika hendak henti langkah, tidak datang, kok rasanya kasihan, sayang, dan saya merasa akan banyak kehilangan momen menyenangkan. Karena mereka selalu memberi kejutan pada saya…

Ini kelas menulis…

Kelas kreatif dan saya tidak pernah menempatkan diri sebagai guru. Dari awal saya adalah teman mereka. Menurut saya, dengan cara itulah kreatifitas akan meluap-luap dan berkeliaran, sehingga proses belajar mengajar, walaupun riuh akan menyenangkan.

“Hari ini kita menulis cerita apa, Kak…” sahut menyahut suara gadis-gadis kecil itu memenuhi kelas. Ya, kelas menulis diisi oleh murid kelas tiga hingga kelas lima, dan semuanya perempuan.

zebri-dan-ceboSeperti biasa, saya mengulas sedikit hasil tulisan mereka sebelumnya.

Hari itu saya bicara alur. Plot! Alur maju, alur mundur dan alur maju mundur. Tentu dengan gaya saya. Tidak perlu panjang lebar, mereka paham. Karena mereka adalah anak-anak pintar. Dan semua memiliki kebiasaan membaca yang baik. Favorit mereka adalah semua buku  seri KKPK (Kecil-kecil Punya Karya) keluaran Mizan.

Satu persatu, karya mereka saya berikan catatan…

Selanjutnya, mata saya terpaku pada Naura yang sedang memegang boneka. Ternyata boneka dari kaos kaki itu adalah hasil buatannya, untuk pelajaran prakarya jam sebelumnya. Sebelum kehebohan terjadi, karena boneka itu mulai menarik perhatian teman-temannya. Maka saya berinisiatif meminjamnya.

Dua boneka buatan Naura kini berada di tangan saya. Nah, saya gunakan untuk sarana menggali ide tulisan mereka berikutnya. Kebetulan, salah satu siswa, Almira sempat bilang, “Hari ini lagi nggak ada ide, Kak…”

“Cukup satu halaman, kita bikin cerita tentang dua boneka ini…” kata saya.

Mata anak-anak itu mengarah kepada dua boneka yang saya pegang. Riuh pertanyaan. Saya jawab satu persatu. Dan beberapa menit kemudian, kelas hening, semua menulis. Sesekali saya melihat gerak mata mereka yang lucu, mungkin memikir sesuatu, mengingat apa, atau bingung sesaat.

Benar saja, keajaiban itu datang…

“Silakan yang sudah selesai boleh baca, sekarang atau nanti sama saja…” saya melihat beberapa orang selesai.

Almira selesai pertama kali. Dia memang memiliki kemampuan menulis cepat dan bercerita yang mengalir. Maka lahirlah cerita tentang Pipit dan Puput darinya. Terus, satu persatu membaca. Ada kisah boneka dari nenek yang baru meninggal. Lalu kisah boneka yang saling berantem karena tak lagi disayang sama pemiliknya. Ada cerita tentang boneka yang merasa terlantar, karena pemiliknya semakin besar dan tak main boneka lagi.

Hmm, banyak sekali dengan nama-nama boneka yang aneh-aneh.

“Namaku Cebo,” boneka baru itu mengenalkan diri.

“Aku Zebri,” sahut boneka yang satu.

Sepenggal pembuka cerita Naura membuat teman-temannya tertawa. Saya juga. Lalu saya tanya. Kenapa namanya itu. Cebo dan Zebri?

“Zebri, karena dia belang-belang kayak zebra…” jelasnya.

Teman-teman yang lain menyela, “Kalau Cebo apa?”

Naura mengambil boneka di meja saya. Lalu menyingkap poni rambut bonekanya dan bilang, “Cebo itu cewek botak…”

Dari mereka, saya belajar dan menemukan kebahagiaan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s