Story & History

Semanggi


Menikmati car free day  ternyata menyenangkan. Sejak diberlakukan, baru hari minggu medio Maret 2013 itu saya berkesempatan menikmati. Menikmati lengangnya jalan protokol yang setiap hari penuh sesak. Baru bisa menikmati, karena hari Minggu sebelum itu nyaris tak mungkin dan memang tak mungkin ikut merayakan hari bebas kendaraan bermotor itu.

Inilah saya pertama kali berjalan kaki dari Senayan City hingga ke Bundaran HI, walaupun sekarang namanya menjadi Hotel Indonesia Kempinsky. Hadeuh! Sudahlah kita bahas nanti. Kalah tenar dengan Grand Indonesia dan makin tenggelam dari bangunan sekitarnya, termasuk gelora sejarahnya.

semanggi Kembali ke Semanggi…

Jembatan Semanggi, Gelora Senayan dan Hotel Indonesia adalah paket proyek besar Presiden Soekarno menyambut Asian Games 1962. Seperti hari ini, Jokowi yang terus direcoki, apakah harus bangun monorel, tol dalam kota atau MRT, mass rapid transit! Ada yang menganggap itu proyek mercusuar, ada yang menganggap tidak penting dalam kondisi keuangan yang tidak mungkin. Proyek mubazir. Dan kritik itu mengalir deras…

Tapi inilah yang harus dimiliki pemimpin. Berpikir visioner!

Soekarno melangkah tegak, tahun 1961 pembangunan Jembatan Semanggi dimulai. Mengapa dipilih nama Semanggi? Menurut Bung Karno, semanggi yang merupakan nama lokal dari tumbuhan marsilea mutica, salah satu daun yang biasa buat lalapan. Memiliki filososi sebagai simbol pemersatu. Simbol persatuan.

Bagi pendiri bangsa ini, persatuan bangsa adalah harga mati.

Semanggi itu seperti pengikat, suh dalam bahasa jawanya. Suh, pengikat sapu lidi tepatnya. Sapu lidi akan menjadi kokoh, manakala diikat dengan suh. Jadi selain mengikat, sapunya bermakna sebagai pembersih.

Andaikata, Sukarno tidak memiliki keberanian membangun Jembatan Semanggi kala itu, apa yang terjadi di sekitar Karet, Setia Budi dan Senayan? Kemacetan? Lalu lintas yang kacau, dan kita tak punya ikon penting. Apa kebanggaan kita? Wajah Jakarta sepi. Tidak ada landmark yang bisa dibanggakan.

Dan setelah waktu berjalan, setengah abad kemudian, kita baru sadar… Bung Karno, melalui Ir Sutami yang merancang dan bertanggungjawab pada pembangungan Jembatan Semanggi dan proyek lainnya. Karena insinyur hebat ini waktu itu adalah Menteri Pekerjaan Umum. Telah melihat jauh ke masa depan, menyiapkan kebesaran dan kebanggaan bangsa. Adakah yang tahu, berapa transaksi ekonomi di gedung-gedung tinggi di sekitar Semanggi, tempat ribuan perusahaan nasional dan multinasional berkantor?

Dari Jembatan Semanggi kita belajar banyak.

Pemimpin yang visioner dan berani. Jauh melihat ke depan, melintasi zamannya, menyiapkan kebanggaan dan kemudahan bagi generasi berikutnya. Berani dengan terobosan yang dianggap menentang arus, berani mengambil tanggung jawab, bukan sebaliknya. Serta tentu saja, saya juga belajar menghargai sejarah. Apa yang kita nikmati saat ini bukan hasil pekerjaan semalam. Tentu banyak hal yang bisa kita pelajari, kita tafsiri. Bagi saya menikmati car free day menjadi semakin menarik. Saya jadi ketagihan. Siapa mau ikut?

Iklan

2 tanggapan untuk “Semanggi”

    1. Hehe, nanti berlanjut dengan bagaimana menemukan angle tulisan, Son… konsep fun writing, salah satunya ya begini. Menulis apa yang kita lihat, kita rasa, dan kita tahu dari sudut pandang berbeda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s