Story & History

Antara Joko dan Hugeng


Dulu, ketika tinggal sama kakek di desa, di rumah Mbah saya yang pamong desa itu menjadi semacam basecamp program sarjana masuk desa. Ada dua atau tiga orang yang tinggal, semuanya laki-laki. Saya baru SMP kelas satu. Mereka lulusan dari berbagai perguruan tinggi, ikut program yang diselenggarakan Departemen Tenaga Kerja.

Djoko Susilo, jendral polisi
hugeng
Biografi Hoegeng, jenderal polisi keren…

Saya hanya ingat Mas Sugeng, sarjana dari Undip Semarang dan Mas Joko dari UNS Solo, entah jurusannya apa saya tidak tahu. Dari Mas Sugeng yang cool itulah, simbah dan ibu saya diberitahu, “Sebaiknya nanti Dik Taufan, masuk ke SSRI saja…” Apa itu, Sekolah Seni Rupa Indonesia kalau sekarang mungkin sebangsa Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain atau Institut Seni Indonesia di Jogja kali ya… Hanya karena dia melihat saya suka menggambar dan menulis indah. Dia juga yang melibatkan saya dengan kerja-kerja mereka, ikut bikin plang jalan dan beberapa lainnya. Mas Sugeng yang memberi kepercayaan itu…

Nah beda dengan Mas Joko. Orangnya memang ganteng, putih, ramah, supel dan baik. Dia itulah yang selalu mengajak saya nonton setiap malam minggu. Ah iya, karena Mas Sugeng selalu pulang kalau akhir pekan. Jadilah saya jadi teman Mas Joko yang jomblo ganteng itu. Walau akhirnya, dia punya banyak penggemar karena kegantengan dan pembawaannya.

Akhirnya, saya sering jadi perantara para gadis desa yang ‘kesengsem’ sama Mas Joko. Joko Sumpeno yang artinya lelaki pemimpi, katanya. Tapi dia memelesetkan, lelaki yang kebawa-bawa mimpi…

Saya sih seneng-seneng saja, diajak nemenin makan bakso ya makan lah. Kalau perlu nambah dan minta minuman yang paling enak. Diajak nonton ya ayuk lah. Diajak jalan-jalan ke pantai, ayuk saja…

Selepas program itu selesai, Mas Joko juga masih sering berkunjung ke rumah Mbah saya. Kadang menginap juga, mengajak saya nonton juga, seperti dulu. Tapi setelah saya bergabung kembali dengan keluarga inti saya di Jakarta, saya tidak tahu lagi di mana Mas Joko dan teman-temannya itu.

Ketika dengar Irjen Djoko Susilo dengan kasus simulatornya, nama Mas Joko di rumah Mbah saya jadi teringat lagi. Tentu dia bukan jenderal yang kaya raya bukan main, asetnya di mana-mana, dan istrinya tiga. Jenderal polisi yang sudah sempurna pencapaian harta, tahta dan wanitanya.

Punya puluhan rumah mewah berharga milyaran di berbagai kota, tanah ratusan hektar. Bus, mobil mewah, plus pom bensin sekaligus dimilikinya. Bagaimana mendapatkannya? Berita sudah banyak sekali mengabarkannya. Saya tidak bisa membayangkan betapa kaya rayanya sang jenderal itu. Kabarnya lembaga antirasuah terus memburu asetnya yang mungkin masih ada, selain yang sudah disita. Apa semua jenderal seperti itu? Tentu tidak…

Saya jadi ingat sejarah Jenderal Hoegeng…

Pesona Hoegeng Imam Santoso memang beda. Dia jenderal, dia Kepala Kepolisian. Tapi dia sangat sederhana, jujur, dan menjadi musuh bekas atasannya karena Petisi 50 di zaman orde baru. Dimatikan hak politik dan berusaha untuk ekonominya selama bertahun-tahun. Duh… Walau dia asyik dengan diberi ruang dalam acara musik hawaiannya di TVRI.

Begitulah…

Nanti kalau ke Solo, saya akan cari Mas Joko. Bukan Mas Djoko yang jenderal polisi suaminya Dipta si Putri Solo itu. Tapi Mas Jokoku, Mas Joko Sumpeno. Ya, lelaki pemimpi itu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s