Sudut Pandang

Museum daripada Soeharto


Sekali lagi, ini bagaimana kita berdiri…

Bahwa kita tidak boleh lupa sejarah, iya. Jasmerah, kata Soekarno. Jangan sekali-kali lupakan sejarah. Karena waktu memang sangat pandai melipat ingatan. Mudah lupa, seolah-olah lupa, atau lupa karena kepentingan. Apa pun, tapi zaman berlalu tentu memiliki faedah untuk belajar bijak dan kelebihbaikan. Itulah kenapa, melawan lupa penting.

Simbah saya, orang lama. Dulu pengikut PNI waktu Soekarno berkuasa, dan PNI menjadi partai penguasa. Seiring pergeseran rezim, Golkar berkuasa (belum Partai Golkar), mendiang simbah saya yang pamong di desa, menjadi pengikut Golkar yang setia. Meski saya mendapati poster Presiden Soekarno yang sedang pidato, berpeci, dan mengacungkan tangan ada di kamarnya. Sayang, ketika era multipartai pasca reformasi terjadi, simbah saya sudah tidak ada, jadi saya tidak tahu, ia memilih apa.

Soeharto menjadi tokoh sentral orde baru…

Terus terang saya tergelitik dengan gambar di mobil. Setelah sebelumnya saya melihat di internet. Akhirnya saya bertemu sendiri dengan gambar ini, entah kampanye atau bukan. Tapi tak lama setelah melihat gambar itu, saya membaca artikel panjang tentang Museum Soeharto di tanah kelahirannya, Kemusuk, Jogjakarta. Seperti ada urutannya.

truk-pak-harto1 Menurut saya, wajar saja semua pemimpin punya pemuja. Bukan hanya Soeharto, Soekarno, Habibie, Gus Dur, bahkan SBY pun punya. Di luar, Castro, Chaves, bahkan Che Guevara dipuja-puja. Artis saja punya pemuja. Dan memuja itu ukurannya jadi subyektif. Permisif, memaafkan semua yang dilakukan, bahkan kadang melakukan pembelaan dengan sangat konyol. Tidak masuk akal. Aneh. Serta menggelikan.

Lihat saja di televisi. Acara asuhan Karni Ilyas, sering mempertunjukan para pemuja. Apa pun istilahnya. Bisa pengikut, fans, atau loyalis. Cara membelanya, argument yang dibangun, termasuk pencitraaannya.

Pun dengan keluarga Soeharto atau keluarga Cendana, yang merasa sejarah tidak adil memperlakukan Soeharto. Orang yang pada masa menjadi presiden telah membuat harga beras murah, bawang putih terkendali, cabe merah keriting, dan wortel gepeng banyak di pasar, serta stok daging sapi tersedia sepanjang tahun. Sebagian besar pemirsa TVRI pada masa orde baru tahu itu, merasakan itu.

Hanya sedikit yang tahu dan mau tahu, ada sisi gelap lain tentang Soeharto berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Termasuk dugaan penyalahgunaan yayasan-yayasan untuk melakukan korupsi. Apalagi ketika kondisi pasca reformasi keadaan penyelenggaraan pemerintahan kian terlihat makin rumit, perbaikan ekonomi rakyat tidak bergerak, dan berita korupsi menduduki rating tinggi tiap hari, karena jumlah dan persebaran pelakunya.

Saya hanya melihat, membangun Museum Soeharto sebagai upaya wajar. Pihak keluarga membangun di tanah mereka, dengan uang mereka. Tapi upaya membangunkan Soeharto secara ideologis rasanya sulit dilakukan. Tentu saja, 32 tahun menjadi presiden sudah banyak yang dilakukan Soeharto. Bukankah dalam kampanye para pejabat petahana agar terpilih di pilkada atau pemilu berikutnya juga akan memapar semua keberhasilannya? Terlepas dari subyektifitas dan versinya.

Ah, jadi ingat. Andrea Hirata pun mau bikin museum di Belitung ya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s