Sudut Pandang

[Bahasa] Eeaaa…


“Apaan sih nih!” saya sering kesal saat membaca naskah yang masuk ke redaksi, tempat saya bekerja. Duhh! Saya langsung terbayang acara di televisi pemerintah yang sampai hari ini masih menayangkan acara, bagaimana berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ingat sosok-sosok penjaga bahasa seperti Jus Badudu dan yang lain. Apa kata dan perasaan mereka kalau tahu bahasa dan istilah-istilah ini.

Bukan saya anti, meski saya sering kali dibuat lari terengah-engah menafsir, apa maksud kata-kata dan istilah baru itu. Bergelut dengan naskah yang sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya ditulis mereka yang berusia remaja memang harus peka dan cekatan. Lengah sebentar, semakin ketinggalan…

Bahasa gaul, begitu istilahnya.

Saya tidak tahu bagaimana rumusnya, karena saya tidak menemukan kebakuan rumus dari kata-kata dan istilah baru itu. Walau sebenarnya bahasa slank, bahasa percakapan itu sudah ada sejak lama. Selalu ada penciptanya, selalu ada pemakainya. Hanya saja, perkembangan teknologi dan tumbuhnya media sosial yang luar biasa. Kata-kata dan istilah ‘gaul’ menyebar lebih pesat dari dekade sebelumnya.

Ini saya kutipkan beberapa, pasti sudah sangat sering didengar…

Ciyus. Apa coba arti kata ini? Ciyus adalah alih kata dari serius. Rumus apa yang dipakai, serius menjadi ciyus. Biasanya kata ini tidak berjauhan dengan kata miapah. Ya, ini bukan varian baru dari mi instan atau produk terobosan pedagang mi. Tapi miapah  adalah singkatan dari demi apa!

Baiklah kalau begitu. Selesai?

Belum masih ada peres. Ups, jangan dulu membayangkan Julia Perez. Peres di sini merujuk pada kata memeras. Peres maknanya menjadi palsu, bohong, tidak tulus, mengada-ada. Tetap sulit menemukan formulanya, kenapa bisa jadi peres…

Saya juga sering mendapat balasan sms, bbm, atau whatsapp dengan kata oretz. Tidak sulit mengartikan, karena itu jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan. Jadi saya langsung menebak saja, kalau oretz itu berasal dari kata all right.

Bila cukup aktif di media sosial, kata-kata dan istilah semacam ini banyak bertebaran. Ada cukstaw  yang rupanya singkatan dari kata cukup tahu. Hehe, ada-ada saja. Lalu ada eaaa. Biasanya dipakai untuk menekankan dari kicauan gombal atau candaan yang lebay. Saya kutipkan lirik lagunya Coboy Junior;

Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa

Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa

Begitulah, tapi tetap saja. Menuliskan deskripsi, narasi, maupun argumentasi dalam naskah popular pun tak mungkin dengan kata-kata dan istilah itu. Termasuk dalam penulisan cerpen dan karya sastra lain. Meski harus bukan berarti tidak ada ruangnya. Tergantung kecerdikan penulisnya. Karena ada saja yang bilang, “Ah payah, redaksinya ubay!” Apaan sih maksudnya? Ah, ternyata ubay itu dari u – kamu dan bay – lebay! Artinya kamu lebay!

Tepok jidat deh. Tapi tenang saja, semua bisa diatasi. Meski bikin bingung, tidak jelas rumus pembentukannya. Minimal dengan mengetahui beberapa istilah itu, saya jadi tidak dituduh manusia g2gtl…

Apaan tuh g2gtl?  Gak gaul gitu loh…

Iklan

3 tanggapan untuk “[Bahasa] Eeaaa…”

  1. JS Badudu, dulu sering banget disebut sama guru Bahasa Indonesia SMPku. Sama satu lagi Nugroho Noto Susanto.

      1. Belum pernah nonton BINAR, mas. Lha wong nonton TVRI aja seringnya pas ada pertandingan Liga Italia doang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s