Story & History

Cemplang


“Masakannya kok nggak ada rasanya, ya…”

“Iya, cemplang…”

“Jangan-jangan…”

Hmm, nggak usah diterusin. Ini cuma potongan perbincangan ibu-ibu yang baru pulang kondangan. Ya, biasa lah, mencela kan paling gampang. Memuji itu mahal, kecuali ada maunya. Itu terjadi di mana-mana. Wong Tuhan ciptakan banyak manusia itu ya dengan berbagai karakternya kok. Nggak usah heran.

“Pasti masakannya si fulanah…”

“Iya, dia kalo masak nggak berani bumbu,”

“Mau untung gede aja…”

Tuh kan, jadi berlanjut deh. Sulit kalau sudah tabiat. Makanya pepatah semut di seberang lautan tampak, gajah bengkak di pelupuk mata tak tampak. Ya iya lah, matanya ketutupan gajah, mana bisa ngelihat…

“Beda saya si Itu, kalo masak berasa…”

“Iya, kalo dia mah berani bumbu…”

“Nggak mikir untung, makanya awet ordernya…”

Duhhh… kok jadi keterusan sih. Tapi ya begitulah, sebelum perempatan memisahkan mereka, maka ada saja yang diomongin. Bisa jadi malah dilanjutin sambil njagain prapatan. Bukan lagi njagain perasaan…

***

            Memasak memang seni yang menyenangkan. Tidak lagi semata-mata soal matang mematangkan, olah mengolah… tapi soal taste! Lihatlah, semua acara masak memasak, apa pun mereknya, semua dikemas sedemikian rupa, bahwa memasak itu tidak cuma hasil akhirnya, tapi bagaimana menyiapkan bahan, meramu, hingga menyajikan.

Kalau soal rasa akhirnya, satu kata saja…

MAKYUSS!

Tidak banyak yang tahu, kalau Pak Bondan Winarno adalah seorang jurnalis senior. Tulisan dan reportasenya, lebih dulu menyapa orang-orang jauh sekali sebelum kesohor di televisi dengan ucapan, “Makyuss…” sambil mulutnya masih mengunyah. Hmm, seperti banyak yang tidak tahu, kalau ungkapan ‘poko’e makyus’ dia ambil dari ungkapannya almarhum Umar Khayam. Budayawan yang tulisannya asyik dinikmati hingga hari ini. Dari Mangan Ora Mangan Kumpul, sampai terakhir novel Jalan Menikung, setelah novel Para Priyayi.

Jadi ini mau ngomong apa?

Ngomong bahwa rasa itu ada standarnya. Sehingga beberapa orang merekomendasi. Bukan semata-mata subjektif. Tapi bisa dipertanggungjawabkan. Seperti halnya hidup. Rasa itu ada standarnya. Rasa bahagia itu ya begitu, tidak seragam, tapi cara menikmatinya sama. Misal, orangtua pasti punya harapan, anaknya sekolah, kuliah, kerja, baru menikah. Nah, kenyataannya, ternyata si anak mesti menikah di saat kuliah. Atau kenyataan lainnya, anaknya malah memilih bekerja dulu begitu selesai sekolah, padahal urutannya harus kuliah. Kebayang kan perasaan orang tua…

Urutan harapannya, disertai dengan kerja kerasnya, kerja yang tak kenal waktu, umur, dan tenaga. Membenarkan ungkapan, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Demi anaknya, menyiapkan jalan kebaikan buat anaknya. Tapi sang anak memilih jalan yang berbeda. Dan tentu membuat orangtua luruh semangatnya, menahan kecewa dalam diamnya. Karena hidup yang dia harapkan sesuai dengan harapannya, tiba-tiba menjadi mentah. Membuat rasa bangga yang hendak meluap menjadi hambar seketika. Membuat harapan yang hampir puncak tumbang seketika, rasa yang sudah hampir dikecap, hambar…

Cemplang!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s