Sudut Pandang

Pilihan


Sosok perempuan gagah, tegas, bertangan besi itu memang sulit dihilangkan dari ingatan. Ya, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thacher. Ada kata-katanya yang juga terus mengiang, “Ide dan pikiran kita menjadikan kata-kata. Kata-kata menjadikan kebiasaan. Kebiasaan menjadikan karakter, dan hati-hati karakterlah yang akan menentukan nasib kita.”

Belakangan dunia pendidikan kita bingung soal pendidikan karakter. Anak-anak sekolah di kota-kota dianggap sudah jauh dari karakter bangsa. Disalahkanlah tawuran, bulying di sekolah, atau tindak kekerasan lainnya di wilayah pendidikan itu.

Pendidikan karakter itu tidak berdiri sendiri…

Semua punya andil. Hari ini bagaimana banyak sekali orangtua yang terkaget-kaget dengan kosa kata anak-anaknya yang pulang sekolah dasar. Ketika di rumah tak mengajarkan makian, kata-kata kasar, tapi ia kembali dengan oleh-oleh kata-kata kasar, kefasihan memaki dan kelihaian melepaskan umpatan.

“Bego lu!”

“Dasar kampret!”

“Sialan…”

Banyak lagi. Silakan dilanjutkan sendiri.

Semua kata-kata itu tidak tumbuh di rumah. Entahlah, kalau sampai tumbuh di rumah, sulit lagi berkata-kata. Rasanya, tak ada yang bakal tega, para orangtua melahirkan kata-kata serapah dari lidahnya. Mereka tahu persis, anak-anak mereka adalah sawah ladang untuk ditanami dan kelak dipaneni dengan kalimat-kalimat baik.

Karakter akan menentukan nasib kita…

Itulah yang membuat para orangtua peduli benar untuk membangun karakter terbaik bagi anak-anaknya. Bahkan contoh paling ekstrem, seorang pencuri pun, tak ingin anaknya jadi pencuri. Ia akan melarang anaknya mengikuti jejaknya. Karena keburukan harus diputus pada generasinya. Anaknya adalah masa depan, kebaikan yang harus ditumbuhkan. Maka, tidak heran bila kita menemukan banyak sekali pahlawan kehidupan. Orangtua yang luar biasa, mematahkan kemustahilan karena kerja keras, doa dan keinginan yang kuat untuk melahirkan generasi baru yang lebih baik darinya.

Kisah Iwan Setiawan, penulis novel 9 Summers 10 Autums dan Ibuk. Anak tukang angkot di Malang yang akhirnya kuliah di IPB dan berkarir cemerlang bergaji ratusan dollar di negeri Barack Obama, Amerika sana. Terlalu banyak untuk dikisahkan, terlalu banyak… Iwan hanya satu saja contoh. Tidak terhitung, tidak terdeteksi, dalam berbagai kasus, dalam banyak pencapaian.

Teringat obrolan kecil di sebuah malam…

“Seharusnya ada korelasi pencapaian pendidikan dengan karakter seseorang ya…”

“Ya, seharusnya ada… bahkan harusnya paralel, semakin baik, semakin luas.”

“Tapi kok kenyataannya beda ya…”

Tersebutlah beberapa contoh. Dan obrolan itu membuka satu rasa hambar. Kenapa, kok bisa… Seharusnya ilmu tidak sekadar ilmu, tidak hanya menjadi pengetahuan semata-mata. Ilmu mestinya sublim, menyatu.

Ah, betapa khutbah jumat kemaren itu mengingatkan semua ini. Menyuruh belajar dari gerak shalat. Bahwa hidup itu tidak semata-mata logika, seperti kita berdiri. Tapi sekali kita harus mendudukan sama, antara logika dan hati, seperti kita ruku. Bahkan suatu kali, hati harus berada di atas logika. Ya, sujud itu simbolisasinya. Hidup memang menuntut keseimbangan.

Tapi lagi-lagi, kemampuan menempatkan diri, adalah sebuah karakter tersendiri. Tidak sim salabim. Ada proses menjadinya. Ada ujiannya, ada waktu sebabnya. Karena hukum sebab akibat, tidak bisa dihapuskan begitu saja. Walau, sekali lagi, ruang belajar itu luasnya terbentang tak terkira. Tinggal kita, mau belajar lagi atau merasa sudah pintar…

Pilihan terakhir itu, risikonya terlalu besar. Maka bukan pilihan saya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s