Fun Writing

Kosong Blong!


            Bunyi tutup teko alumunium lepas, jatuh ke lantai, bergema-gema suaranya…

Dina bergegas lari ke ruang makan, tempat teko itu berada. Ia menjumpai keponakannya dengan wajah terkaget, bengong dan pasrah.

“Jatuh sendiri, Tante…” kata Yasmin lirih. Agak takut dan tegang.

“Nggak papa, yuk Tante ambilkan di kulkas aja ya…” Dina menampakan naluri keibuannya. Maklumlah, dia tidak ingin dikenang sebagai tante yang jahat, seperti banyak di sinetron. Apalagi sekelas ibu tiri dalam cerita-cerita lama. Soalnya, fenomena sekarang, ibu tirinya cantik-cantik dan baik-baik. Hadeuuh…

Dina memungut tutup teko, setelah mengambilkan minum keponakannya itu. Kembali ia memenuhi teko itu dengan teh hangat. Hanya teko kecil, oleh-oleh dari Tegal. Ketika dia dan keluarganya pulang ke Cirebon dan menyempatkan main ke tempat wisata Guci di Slawi, Tegal. Sebuah tempat wisata air terjun di sebelah sisi utara Gunung Slamet, yang gerbang masuknya saja sudah tertera iklan teh…

Ingatan Dina soal teh dan teko melayang ke sebuah sosok, ruang dan waktu!

***

            “Menulis itu seperti orang menuang air dari dalam teko…” kata orang bersarung dan berkaos oblong di sebuah saung. Diiringi gemericik air mancur dan desau angin yang aduhai. Membuat lingkaran kecil sore itu makin syahdu.

“Bagamana mungkin teko kosong itu bisa dituang? Ya kosong…” lanjutnya.

“Iya, yang keluar angin…” ceteluk orang berambut ikal, tengil kelihatannya.

“Kentut dong…” anak berbadan gembul menimpali.

Dan tertawalah semua yang ada di saung. Termasuk Dina, dan tentu saja Ria yang sambil menutup hidungnya. Seolah-olah sudah ada aroma kentut, padahal baru disebut saja.

Setelah semua puas tertawa, lelaki bersarung itu tersenyum…

“Ya, kalian baru saja menertawakan diri sendiri. Bagus, itu…” katanya membuat seisi saung celingukan bingung. Apa maksudnya. “Menertawakan diri sendiri itu sehat, berarti kalian manusia penuh syukur…”

Lagi-lagi seisi saung celingukan, diam, saling pandang, mengeryit, tidak mengerti.

“Kenapa? Kok pada kelihatan bego begitu?”

“Maksudnya apa ya…” tanya Dina lugu.

“Menulis kan seperti orang menuang air dari dalam teko. Kalau isinya penuh, dia bisa mengisi begitu banyak gelas. Bila gelasnya sudah ada gula dan kopinya, maka jadilah kopi yang nikmat. Kalau gelas yang dituang telah ada gula dan tehnya, maka jadilah ia air teh. Begitu pula kalau sudah ada satu atau dua sendok sirup, maka air teko akan membuat air dalam gelas itu sirup yang bikin seger…” jelasnya panjang.

“Owh… kalo teko kosong?”

“Ya apa yang mau dibuat? Kopi? Teh? Sirup?”

Semua mengangguk.Ada yang tersenyum, ada yang terpaksa tersenyum.

“Kalau teko kita ibaratkan otak, maka otak kita harus ada isinya kan? Karena kalau otak kita kosong, yang keluar apa?”

“Kentuuuttt…”

Ups! Dina kelepasan…

***

            “Sumpah, gue malu banget, Ri…” ujar Dina ketika pulang dari saung kepada Ria yang asyik browsing dengan gadget layar sentuhnya. “Duh, kenapa jadi keceplosan, ya…”

“Malu keceplosan apa malu otaknya kosong?” Ria tertawa girang banget.

Wajah pelangi, merah hingga ungu ada semua. Tapi acak-acakan kayak lukisan abstrak. Ah, memang wajahnya Dina kan wajah abstrak. Malah ada yang bilang, wajah abstain! Pokoknya ngikut ajah apa baiknyahhh…

Dina makin terpukul dengan renyahnya tawa Ria. Karena ketika ditanya beberapa judul buku oleh orang bersarung dia jawab dengan gelengan kepala dan, “Belum…” “Baru dengar…” atau “Hehe, nggak tahu!”

Apalagi ketika pertanyaan ini…

Minggu ini baca buku apa? Geleng dan jawab nggak ada. Dua minggu ini? Masih geleng. Tiga minggu ini? Masih juga geleng. “Belum ingat apa nggak ada yang dibaca?” tanyanya. “Emang nggak ada yang dibaca…” jawab Dina. Lalu waktunya dilonggarkan, sebulan, dua bulan, tiga bulan… dan baru ketemu, “Saya baca Madre karya Dee…” Hmm, Dina tak malu-malu amat. Karena, ada yang sampai ke angka lima bulan yang lalu masih ada yang belum punya jawaban.

“Apa susahnya ya? Membaca itu kan proses mengisi teko… perpustakaan banyak, taman bacaan masyarakat juga banyak, toko buku tersebar di mana-mana, apalagi google ada di tangan! Kok sampai nggak pernah baca itu bagaimana?”

Dina tak paham, itu pertanyaan apa keprihatinan.

“Kalau ke toko buku, kapan itu dilakukan?”

Dina dan orang-orang yang duduk melingkar tak menjawab, kecuali Ria. Dengan cepat Ria mengabarkan judul-judul buku baru seperti Casual Vacancy-nya JK Rowling, Compasion karya Karen Amstrong hingga buku biografi terlaris yang iklannya nongol terus di tivi, Si Anak Singkong-nya Chairul Tanjung. Hmm, berat!

“Saya rajin beli, tapi masih belum dibaca tuh,” celetuk Wanda, tentu saja bukan Wanda Hamidah, hanya kebetulan kok ya mirip semuanya. Cantiknya, perawakannya, senyumnya…

“Sumber informasi, sumber pengetahuan, itu sekarang berdiaspora dalam bentuk yang semakin canggih. Ada e-book dan banyak portal online dari berita hingga kajian yang khusus. Tinggal kita… Mau tetap tekonya kosong, airnya tidak pernah dimasak, atau mau mengisi teko dan memasak airnya. Menulis buka sekadar memainkan kata-kata, tapi ada informasi, ada pengetahuan, dan ada tanggungjawabnya…”

Dina bengong, melompong, nggak bisa ngomong. Mungkin teko eh otaknya kosong! (Tef).

Dimuat dalam kolom Fun Writing Majalah Story edisi #42

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s