Fun Writing

Jumud


Kemarin saya berbincang dengan teman, tentang hidup, tentang kematangannya dan bagaimana memaknai proses menuju kematangan. Tidak mewah, hanya duduk di depan pintu. Sambil ngopi, sambil ngemil…

matahari            “Gue belajar dari elu…” kata saya.

Seseorang yang saya sebut ‘elu’ tersipu. Mungkin bingung, karena dia merasa tidak pernah merasa membuat saya belajar. Sesuatu yang tak diketahuinya. Bahwa dalam diam, saya banyak belajar dari si ‘elu’ itu.

“Gue belajar, nggak panikan, nggak bingungan, dan nggak khawatir…” kata saya.

Dia mengangkat kepalanya, mungkin aneh. Saya berusaha menatapnya. Dia juga memandang saya dengan sorot mata bingung.

“Gue jadi yakin, besok bisa kita hadapi, apa pun yang terjadi!”

“Maksudnya, Mas?” tanyanya.

Saya cerita, bagaimana cara hidupnya yang ‘luar biasa’ telah semakin menguatkan saya, bahwa kita tak perlu risau apalagi galau menghadapi hidup.

“Lu nggak takut kan, besok makan apa nggak?” tanya saya.

Dia hanya terpaku.

“Lu nggak takut kan, besok yang terjadi apa?” tanya saya lagi.

Dia masih menatap saya.

“Lu juga tak peduli, mau jadi apa…”

Dia tertawa, lalu bilang, “Karena saya nggak nggak punya pilihan…”

Hmm… saya catat, nggak punya pilihan. Saya tersenyum. Begitulah salah satu cara saya belajar dari seseorang. Ada yang luar biasa, ada yang membuat saya salut, walau ada yang membuat saya ingin bersamanya, bicara, bahwa semua manusia punya pilihan.

***

            Hidup itu seperti roda yang berputar…

Semua orang paham, berputar artinya bergerak dari sumbunya. Nah, sumbu itu adalah kekuatan, keyakinan, sekaligus ruang kontrol untuk emosi, perasaan, daya tahan dan poros yang menggerakkan. Kecil tapi mengerakkan. Maka ia harus berpelumas. Pelumas itu memiliki makna, kita harus luwes, harus meminyaki, membuat pergerakkan lainnya bertenaga.

Poros hidup itu adalah keyakinan kepada Tuhan.

“Gue bukan orang shaleh, nggak ngerti agama banyak-banyak. Tapi saya yakin sekali, bahwa agama gue punya solusi yang banyak sekali dan tidak mungkin gue berani untuk memprasangkai keburukan…”

Ketika saya disuruh bergerak, bertebaranlah kalian di muka bumi…  maka saya bergerak. Apakah gerak itu selalu maju, tidak selalu. Karena tidak semua kemajuan itu dengan gerak maju. Dan sebuah gerak mundur tidaklah selalu bermakna kemunduran. Bergerak untuk kebaikan. Itu saja. Kalau gerak mundur lebih maslahat, maka tidak bisa kita memaksa maju. Kalau maju tapi melukai, maka mundur pun gerak baik.

Maka, intinya adalah terus bergerak…

Mau gerak cepat, itu baik kalau memang harus mengejar sesuatu. Mengejar ketertinggalan, mengejar yang sudah berlari lebih dulu, menyejajarkan diri dan mengejar pencapaian. Tapi harus tetap diukur kemampuan energinya. Karena kesetaraan, juga butuh gerak yang lebih cepat.

Ada gerak akselerasi. Percepatan pergerakan…

“Kalau kita bisa raih lebih cepat, kenapa harus berlama-lama?”

“Pelan-pelan saja, sudah pada tua…”

Pelan juga sebuah gerak. Dan tua pasti datang. Naluriah kalau geraknya melamban.

***

            “Membuka mata, meluaskan pendengaran… itu gerak!”

“Termasuk melapangkan dada, ya…” tanya si “elu”.

Orang yang matanya terbuka, luas pendengarannya, pasti luas wawasannya. Biasanya, dia luas dadanya. Tidak mudah tersinggung. Hidupnya luas, karena dia melihat dari tempat yang lebih tinggi. Ditinggikan derajatnya oleh ilmu pengetahuannya. Diberi ruang oleh keterusmerenusannya belajar.

“Beda, orang yang terus belajar dengan yang diam saja…” kata saya. “Atau yang cukup puas dengan yang diraihnya.”

“Hehe, iya diam bikin beku. Jumud!”

Dan pergerakan itu mempergilirkan. Demikianlah kehidupan. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tapi ada juga yang mandek. Berhenti di tempat. Tapi itu semua pilihan. Tak tepat ditaruh alasan “Tidak ada pilihan…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s