Story & History

Bila Tukang Tidur Berdoa


            Pasti sedang tidur!

            Tak salah! Dia memang sudah tidur. Tidur lagi, begitu alasannya setiap kali ditanya. Jawaban yang tidak pernah berubah, meski berpuluh kali pertanyaan diajukan padanya.

“Lu mau kuliah, apa pindah tidur?”

Dia hanya melenguh, menggeliat, lalu berganti posisi tubuh. Dari miring ke kanan, miring ke kiri. Sedikit gerak ekstra, merapikan tas punggungnya yang berubah jadi bantal. Mencari yang paling enak untuk menaruh kepalanya. Berikutnya, ya lanjut tidur lagi…

“Mushola bukan tempat buat tidur!”

“Udah tau!”

“Kok, nekat!”

“Mushola juga bukan tempat transaksi fotokopian!”

Hhm, aku tak berkutik, juga tak lagi mengusik. Masa bodoh, toh aku juga tidak taat azas atas fungsi mushola yang sebenarnya. Kalau tak tahu malu, seringkali kejahatan pun dilakukan di sini, entah disadari atau tidak. ‘Menyalin jawaban ujian!’, ‘Nitip tanda tanda tangan absen’, ‘pinjem catetan buat difotokopi’ atau ‘utang buat bayar tunggakan bayar kost, yang duitnya lebih dulu kepake buat hil yang mubazir!’

Dia temanku, asyik, easy going… cuek dan sedikit punya otak. Tapi jarang dipake! kilahnya. Aku banyak belajar dari dia, laki-laki yang selalu tidur dulu sebelum kuliah dimulai! Ya, benar-benar tidur… hingga bising orang melintas lalu lalang atau berhajat shalat duha membangunkannya. Laki-laki yang kadang-kadang di tengah perkuliahan menunjuk jari, izin keluar lalu tak kunjung kembali. Ya, karena dia memilih tidur lagi di mushola.

Aku sampai hafal betul parafnya! Karena seringkali aku harus memaraf absensinya dan membawakan tasnya yang ditinggal begitu saja di kelas. Habis gelengan kepalaku untuk tabiatnya itu. Aku menggugatnya, lu masuk mushola, tidur di mushola, baca doa nggak? Jawabnya… hanya senyum saja!

***

            Itu dulu…

Sekarang, aku menjumpainya sebagai laki-laki yang nyaris tak pernah tidur. Aku bingung, kapan dia tidur! Kujenguk rumahnya, koleksi bukunya makin banyak saja. Artinya dia punya banyak waktu untuk membaca. Kuikuti pergaulannya, jelajah sosialnya menembus segala strata. Dari yang remeh temeh hingga forum pemikiran yang serius. Aku ikut dibuat tidak bisa tidur saat memahami dia.

“Kapan tidurnya, lu!”

“Kalo ngantuk aja!”

Jawaban apaan tuh! Pikirku. Tapi kurasa-rasa, dalam juga omongannya. Ngapain juga tidur kalau nggak ngantuk. Apa nikmatnya tidur tanpa kantuk. Aku mencari tahu jawaban seriusnya. Dia tertawa, “Kalo tidur mulu, ilang sepertiga umur kita!” Aku terperangah, menyakinkan apakah dia dalam keadaan sadar atau mengingau. Jelas, itu materi kajian yang secara rutin kuikuti waktu kuliah dulu. Di mushola, tempat dia tidur!

Apabila kita mau adil, dari 24 jam waktu kita sehari, 8 jam untuk bekerja atau kuliah, 8 jam untuk kegiatan lainnya, 8 jam sisanya untuk tidur. Kalau sekarang usia kita sudah 24, apa artinya? Sepertiga darinya, alias 8 tahun umur kita hanya dihabiskan untuk tidur! Sangat tidak produktif, hilang begitu saja! Dan belum tentu juga, sepertiga waktu yang lain kita gunakan secara optimal.

Kupastikan dia bukan anak rohis! Hanya terbawa-bawa shaleh karena sering tidur di mushola. Kuyakinkan, dia tidur saat kajian itu berlangsung. Dan dia selalu mengikat lututnya dengan slayer atau sapu tangan untuk menutupi celana jeansnya yang robek bila shalat tiba. OMG! Sekarang dia sudah berubah! Tring!

*****

            Dia fasih bercerita tentang pertaubatan. Semisal saat Allah menunda hujan turun, tatkala permintaan hujan dimunajatkan oleh Nabi Musa dan pengikutnya. Musa bertanya pada Allah, gerangan apa yang bisa menunda permintaannya, sementara penduduk Mesir sudah kelaparan dan binatang ternak hampir mati?

“Ada orang yang telah bermaksiat selama 40 tahun kepada-Ku! Keluarkan dia dari barisanmu!” Lalu Musa menyuruh diantara mereka yang merasa telah bermaksiat pada Allah selama 40 tahun, keluar dari barisannya.

Tidak ada yang keluar…

Tapi hujan turun tak berapa lama kemudian! Musa heran, “Tuhan, hujan telah turun, padahal tidak ada seorangpun yang keluar dari barisan kami,”

Allah menjawab, “Hai Musa, hujan turun berkat taubat hamba yang sudah bermaksiat 40 tahun pada-Ku!”

“Tunjukan ya Allah, biar kubahagiakan dia…”

“Selama 40 tahun dia bermaksiat padaku, selama itu pula Kututupi aibnya, apakah ketika ia kembali pada-Ku, malah Kubongkar aibnya?”

Rupanya, seseorang itu telah berdoa dalam hatinya dengan segenap kesungguhannya.

“Ya Allah, aku bertaubat padamu, selama 40 tahun Kau tutupi aib dari kemaksiatanku. Aku menyesal dan ingin kembali kepada-Mu. Terimalah taubatku dan tutupilah aibku!” [1]

Mungkin inilah upayanya untuk merubah diri. Karena dia punya banyak sekali koleksi cerita seperti ini. Kisah orang-orang yang diberi hidayah. Cerita hikmah pertaubatan yang menyentuh.

***

            “Alhamdulillah… kehidupan gue dicukupi,” katanya. Masih slenge’an seperti dulu. Bedanya suaranya semakin berat dan mantap! Aku melihat dia nyaris tanpa beban menjalani kehidupan yang buat banyak orang lain berat. Dia enjoy, nothing to loose dan tetap easy going!

“Ada ya syukur, nggak ada ya udah! Usaha lagi, emang belon jatahnya!”

Aku terpaksa tak bisa menggelengkan kepala lagi. Aku memang tak mengikuti proses panjang pematangannya. Tapi aku melihat hasil dari proses perubahan diri yang pasti tidak ringan dan sangat panjang. Laki-laki tukang tidur itu kini menjadi laki-laki yang penuh syukur. Dia mengutip ayat, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”[2]

“Gue cuma minta dicukupkan! Nggak minta yang lain-lain!” katanya membuka rahasia. “Kalo dikasih lebih gue takut lupa diri, kalo dikasih kurang ntar gue rendah diri!”

Dia kisahkan tentang perjalanan perjodohannya. Persoalannya pelik, karena banyaknya item yang mesti dipenuhi persyaratannya, dimufakatkan dan dikompromikan antara dirinya dengan orangtuanya, dengan keluarga besarnya, dengan tradisi leluhurnya dan sebagainya. Biasa, hambatan lintas sektoral yang hampir menimpa siapa saja yang hendak menikah. Lalu dirumuskan formulasinya… jawabannya satu ; kesalehan!

“Ya udah, gue berdoa minta diberi istri yang shaleh! Karena hanya kesalehan yang bisa menjawab semuanya,” ujarnya, “Itu yang pertama…”

“Yang kedua?”

“Gue yakin, jodoh gue pasti yang terbaik buat gue!”

“Terus?”

“Gue pasrah, terserah Allah mau menjodohkan gue sama siapa! Makanya ketika melamar, udah di mobil nih lagi jalan… Mak gue nanya, kalo ditolak gimana, Bos! Gue jawab aja, ya cari yang laen! Mak gue geleng kepala!”

“Nggak takut gitu…”

“Ngapain takut, semua prosedur udah diupayakan. Berusaha udah, berdoa nggak putus-putus, ya udah serahin, pasrah… toh gue nggak minta yang macem-macem! Cuma minta istri yang salehah! Soal dapetnya cakep, pinter, kaya…. Itu bonus buat gue!”

“Dapatnya?”

“Alhamdulillah… she is the best choice-lah! Soal cakep kan relatif, lagian buat gue ngrepotin kalo terlalu cakep, biaya perawatannye tinggi. Kalo kecakepan malah bikin ketar-ketir, njaganya susah! Gue khawatir bini gue jadi inceran mata iseng. Bini orang lain juga khawatir lakinye kepincut kemolekan bini gue, malah ujung-ujungnye nyiksa… kalo ada apa-apanya kan gue ikut dosa!”

Aku semakin terlunta-lunta mengikutinya. Aku mendapatkan semua materi itu dalam berbagai kajian, berbagai forum pengajian… tapi aku tertinggal langkah dalam pencapaian. Aku bisa bicara dan biasa bicara tentang kesalehan dan mujarab doa. Sungguh, dia tidur saat aku sedang duduk melingkar mengkaji hakikat kesalehan dalam kekinian. Ternyata, dalam tidur ia mendengar! Dan ketika bangun, dia mengamalkan…

***

            “Jangan menganggap diri kita paling menderita lah! Liat orang yang lebih susah dan kurang beruntung masih lebih banyak,” katanya, “ Allah ngasih cobaan kan udah ditaker, nggak cuma beras ama minyak goreng aja yang ditaker!”

Lelaki tukang tidur itu sekarang jarang tidur… Dia tak pernah meragukan keajaiban sebuah doa. Kemakbulannya dia yakini benar, hanya eksekusinya saja yang menunggu waktu. Dia paham betul, ada doa yang seketika dikabulkan, ada yang ditunda sampai waktu yang tepat tiba, ada yang disimpan untuk hadiah di kehidupan akhirat kelak.

“Hasbiyallah wa ni’maal wakiil” – Cukuplah Allah bagiku dan Dia-lah sebaik-baik Zat yang mengurus.

“Perpindahan dari salah kepada yang benar adalah pertarungan panjang, tetapi sangat indah.”  

(DR. Aidh Al-Qarni)


[1] Terapi Hati, ‘Amru Khalid, Republika, 2005

[2] QS. Ath-Thalaaq (65) : 3

Tulisan lama, tapi aktual, ada di buku Mbak Asma juga… Lupa judulnya, nanti kalo dah inget dituliskan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s