Sudut Pandang

Tentang Cinta


Cinta sang Maha Cinta…

Itulah yang membuat semuanya menjadi kuat. Lebih kuat. Cinta itu menguatkan. Ya, menguatkan. Tidak melemahkan, tidak sebaliknya. Maka cinta dari sang Maha Cinta lebih dari sekadar menguatkan, tapi ia maha menguatkan. Menegakkan kerapuhan, menguatkan yang lemah dan melemahkan.

ibu anyer            Dan yang lebih dahsyat…

Memungkinkan yang tidak mungkin.

Dua tahun silam, hari-hari ini, tanggal-tanggal ini, adalah hari-hari terberat bagi saya. Terberat dalam hidup saya. Telah terbaring dengan lemah, dengan berbagai selang di mulut, hidung, dan tangan di ruang ICU sebuah rumah sakit internasional itu. Orang yang sangat istimewa dan luar biasa derajatnya dalam diri saya, Ibu!

“Taufan bisa, Mam…” aku terus berbisik.

Saya harus terus meluruskan pikirannya, melapangkan harapannya. Bahwa, saya sanggup mengatasi ini semua, menghadapi apa yang akan terjadi. Hal yang disangkakan terburuk secara medis sekalipun. Meyakinkan, bahwa ia tak perlu khawatir, kalaupun ajal kelak menjemputnya.

Dia sudah memiliki rasa itu. Malaikat utusan Tuhannya mendekat…

Apalagi buat orang yang kualitas kedekatannya dengan pencipta-Nya baik. Doanya berhamburan tak jeda. Saya tahu itu. Apa yang dilakukannya, semata disandarkan untuk sesamanya atas pemahaman yang dalam tentang amal baik, berbuat baik, dan terus menjaga kebaikan.

Cinta…

Semua orangtua membawa kekhawatiran pada anak-anaknya. Baik anak biologis maupun ideologisnya. Seperti halnya ibuku. Dia memiliki kekhawatiran. Zaman ini berlari terlalu kencang. Banyak yang tergilas, tidak menjadi apa-apa, menjadi sampah zaman, menjadi orang-orang tak berdaya mengahadapi zamannya. Terbawa arus zaman, menjadi orang gila… Orang yang kian tidak menyadari dan sulit disadarkan kembali, bahwa arus zaman yang salah telah menariknya sedemikian jauh.

“Taufan bisa, Mam…”

Entahlah, apakah saya menjadi korban zaman yang berlari sangat cepat ini. Tapi saya berusaha terus bertahan dengan nilai-nilai dan bekal dari ibu saya. Bukan bekal harta dan uang, tapi bekal keyakinan, bahwa hidup harus baik-baik, berbuat baik dengan sesama, mengabdi kepada Tuhan dengan baik.

Dia memang semakin tak berdaya, tak ada yang diucapkan dalam lisannya. Tapi dia bicara dengan tatapan matanya, dengan hatinya. Berpesan dalam bahasa batinnya yang langsung menghujam ke hati dan diri saya.

“Teruslah berbuat baik, jangan lelah, jangan lelah…”

Dua tahun silam, pada sebuah sore. Setelah azan maghrib. Dia pergi selamanya. Meninggalkan yang fana. Tapi dia tidak pergi dari diri saya, dia terus ada, terus mengada…

Dia hanya memenuhi panggilan cinta sang Maha Cinta.

“Nanti kita bersama-sama lagi…”

Saya melihat senyum terakhirnya. Saya memeluknya dalam…

Meyakinkan, bahwa cita-citanya hidup dalam diri anaknya. Meyakinkannya, “Taufan ikhlas, Mam… Allah Maha Baik, semua ini pasti yang terbaik.”

Dan cinta telah menguatkan saya… hingga hari ini.

 

Kebon Jeruk, 13 Februari 2013  – menjelang dua tahun kau pergi…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s