Ibu

Maghrib Ibu…


ibu-bundar-emas            Halus kulit pipimu, membuatku tak bosan menciummu. Sambil membisik doa di telingamu, memberi harapan hingga cerita kecil yang membuatmu tersenyum kecil. Senyum yang biasanya menjadi tawa, tapi itu tak mungkin. Membuatmu tersenyum saja, sudah membahagiakanku. Walau aku tahu, aku hanya menemanimu, menunggu waktu…

“Nanti kalau naik haji, aku antar di bandara sampai pesawatnya mengecil, jauh, tinggi dan nggak kelihatan lagi. Baru deh, aku pulang…” bisikku.

Kau tersenyum. Sulit tapi pipimu bergerak dan sedikit gerak leher mengangguk.

“Sampai rumah, aku mengaji, berdoa, biar sampai di sana lancer, dapat hotel yang bagus, dekat ka’bah, jadi jalan kakinya nggak kejauhan…”

Aku merasai kau mengangguk lagi. Aku semakin mendekapmu. Mengelus rambutmu yang wangi.

“Berdoa juga, biar bisa khatam baca al-quran di sana ya…”

Anggukmu lemah. Tapi aku tahu, kau bahagia. Bayangan ka’bah kian dekat meski matamu hanya mengedip lemah. Sesekali memejam, agak lama, lalu membuka lagi dan memandangiku. Tanpa suara…

“Nanti, kalau tabunganku cukup, kita berangkat lagi bareng-bareng…” aku ingin melengkapi cita-citanya. “Jadi nanti ada temannya, ya…”

Aku mencium pipinya beberapa kali, pun keningnya. Menatap wajahnya yang kian tirus, tapi tampak bersih bercahaya. Aku yakin, ini karena doa yang tak pernah putus, walau selang-selang, telah memutus komunikasi antara kita. Meski jam-jam besuk dan menungguimu juga terbatas. Tapi doamu terus mengiring, tak berjeda, tak lelah… seperti ketika dulu sehat dan bugar, tak ada lelahnya kau berdoa. Tak hanya mendoakan dirimu sendiri, tapi mendoakanku dengan sepenuh jiwa…

“Ibu doanya buat kamu semua, biar kamu kuat, selamat, dan tercapai cita-cita serta keinginanmu…”

Ya, sering sekali kalimat itu kudengar darimu.

Ada doa yang sama. Ya, kita punya doa yang sama, Mam…

Cita-cita dan keinginan yang sama, persis. Seperti kau ulang lagi, hari itu. Hari-hari terakhir sebelum kau ambruk lalu tergolek begitu lemahnya. Saat kita makan berdua, jalan berdua, dan tumpah ruah semuanya. Keinginanmu, kerinduanmu, cita-citamu… keinginan yang sama, kerinduan yang sama dan cita-cita yang sama. Aku mengingatnya semua.

Hampir sebulan, 22 hari kau terbaring di ruang ICU. Saat itu, hidupku hanya untukmu. Seperti ketika kau bilang kepadaku dulu, “Semua ibu lakukan hanya untukmu.” Dan aku tetap saja merasa tidak melakukan yang terbaik untukmu. Tidak seheroik apa yang kau lakukan saat kita hanya berdua, ya… hidup berdua saja. Mengarungi kemiskinan, mengarungi gelombang fitnah dan cibiran. Mengarungi semua waktu, dalam deraan angin kencang yang kadang membuatmu terhuyung. Hanya untuk melindungiku, mendekapku, menuntunku. Agar aku dapat sampai…

Sampai pada cita-cita kita.

Kau adalah ibu terhebat. Meski kau tahu, ada yang menggerogoti fisikmu, tak pernah kau mengeluh. Tak pernah kau tampakan lemahmu, tak pernah kau bilang padaku, tak pernah sebaris saja kata, kalau kau ‘sakit’. Padahal kau tahu itu… Kau sembunyikan dariku, yang menurutmu, aku tak perlu tahu, karena bebanku sudah cukup berat. Menurutmu.

“Sembuh ya, Mam, biar kita bisa jalan-jalan lagi, makan-makan lagi, biarlah aku kerja di rumah saja, menemani… Biar, kita terus bersama-sama…”

Dan setelah azan maghrib selesai. Setelah kubisikan di telingamu, “Sudah maghrib, shalat ya…” Mungkin, itulah maghrib terbaikmu. Mungkin takbirmu, mungkin al-fatihahmu, mungkin tahiyatmu, diimami oleh malaikat maut untuk mengantarmu ke sang Maha Cinta.

Aku melihat senyum di akhir napasmu. Aku tidak menangis, Mam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s