Ibu

POL


ibu-bundar-emasSemakin waktu berjalan, sepeninggal ibunda saya, banyak hal membuat saya semakin harus terus-menerus mengirimi doa untuk dia. Tak ada duanya. Terlalu banyak untuk diurai hal-hal baik yang beliau tinggalkan untuk saya, monumen hidupnya, peninggalan satu-satunya…

Salah satunya…

Cara mendidik saya itu asyik. Saya tidak merasa sedang dibentuk, tidak merasa didoktrinasi, tapi dengan cara memberi ruang, memberi kesempatan dan memasok semuanya hingga ujung sekuat saya. Hingga saya seringkali justru kelelahan dan harus menyerah.

“Sampai pol!”

Ya, sampai mentok.

Mungkin anak-anak sekarang juga jauh lebih menikmati fasilitas seperti yang saya dapatkan kala itu. Tapi saya merasa ‘tidak perlu meminta’. Karena sepertinya, mata batin ibu saya sudah tahu, apa yang saya ingini sebelum saya berucap, “Mam, mau itu…”

Melihat gelagat saya melakukan sesuatu, maka langsung disediakan ruangnya. Misalnya saya suka corat-coret, maka saya dibelikan buku gambar dan pensil pewarnanya. “Gambarnya di sini, nanti dipasang ditembok…” begitu. Maksudnya, ibu saya menyediakan sedemikian banyak buku gambar, agar anaknya tidak menggambar di tembok. Tapi di tempatnya. “Ganti tempat lain…” begitu ibu saya mengajari, agar selalu menggambar di kertas-kertas kosong yang lain, tidak bertempuk, tidak berdesak-desak.

Dan benar, ibu saya memberi penghargaan atas kreatifitas yang ia beri ruang itu. Gambar-gambar saya dipajang di dinding. Memenuhi tembok. Tanpa saya harus mencoret-coret tembok. Ya, tembok rumah saya tetap bersih, tapi penuh dengan hasil gambar saya yang ditata rapi sebagai hiasannya. Gambar yang entah apa artinya, tapi ibu saya memberikan artinya buat saya. Memberi penghargaan, memberi ruang, dan memberi riang.

Terus…

Selalu begitu, sampai saya mentok. Lalu beralih dengan alat pewarna yang lain. Mencoba krayon, mencoba cat air, mencoba cat minyak. Dan saya harus mengingat, mungkin saya anak terkecil yang sudah menggambar pohon beringin lambang Golkar dengan media tampah! Saya menggambar itu, membantu almarhum Pakde saya yang kader partai itu. Betapa senangnya, begitu selesai, gambar beringin dalam segilima dan dengan tulisan golongan karya dalam pitanya itu, dipajang di pinggir jalan…

Saya tidak mengerti apa, tapi saya senang, gambar saya ada di jalan!

Rupanya, waktu itu musim kampanye. Hadeuuuh…

Begitulah, saya terus belajar dan tumbuh dengan cara mendidik ibu saya yang asyik. Memberi ruang, memberi ruang… Sampai saya lelah sendiri, sampai saya bosan sendiri. Sampai saya menemukan sesuatu yang baru lagi. Mengeksplorasi lagi, sampai mentok lagi. Kadang berbahaya. Tapi sepertinya saya harus bertemu dengan realitas kebahayaan itu, tanpa kata ‘jangan’. Dan saya memang akhirnya paham, sekarang!

Bukan tanpa komplain.

Tapi ibuku selalu punya jawaban, “Nanti kalau bosen juga berhenti sendiri…” atau “Nanti juga dia tahu sendiri.” Ya mungkin itu sebab, saya sering merasa mengukur diri, tahu diri, sampai mana saya harus melakukan sesuatu, bermain-main dengan bahaya, atau kapan waktu menarik diri, pada batas mana sebelum sesuatu yang buruk itu menimpa saya.

Berkali-kali saya merasa ruang yang diberikan ibu saya kurang luas. Saya melanggarnya. Dan saya menemukan akibat-akibat yang membuat saya paham, sesungguhnya, orang tua sudah sangat paham, batas-batas mana ruang bergerak anak-anaknya. Ruang untuk melakukan gerak akrobatik apa pun, mau jungkir balik sampai terbalik-balik sekalipun.

Tapi jangan sampai berlebih, berlebihan dan kelebihan…

Karena begitu kita menabrak batas-batas ruang yang diberikan ibu yang doanya tanpa hijab menuju Tuhan. Maka, Tuhan punya cara sendiri untuk menjungkirbalikkan seseorang. Dan kita tidak tahu, Allah Maha Canggih… Apa dan bagaimana pun, Dia yang maha memiliki cara. Banyak yang tidak terduga, banyak yang bikin orang tak percaya.

Pol…

Ya, akrobat manusia itu ada melesetnya.

Untuk itulah, saya harus terus berterimakasih kepada mendiang ibu yang telah membuat saya untuk selalu tahu diri. Mengantarkan saya pada tataran pemahaman hidup untuk ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh. Tidak menjadi orang ya gampang heran, lalu gegar otak, gegar budaya, lupa sejarah, lupa bertingkah, lupa kaidah, lupa berterimakasih. Tidak terkaget-kaget dengan keadaan apa pun. Karena susah dan senang adalah pergiliran dengan berbagai variasinya. Dan tidak mentang-mentang. Mumpung lagi ini, mumpung lagi itu…

Al-fatihah untukmu, Mam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s