Fun Writing

Value ‘n Time


“Sebuah karya itu harus mempunyai nilai, harus ada bobotnya…”

Dina menyimak serius. Beberapa orang yang duduk melingkar di saung kecil itu juga takzim menyimak. “Bagaimana memboboti, bagaimana memberi nilai, dan bagaimana membuat tulisan yang berbobot dan bernilai itu ya ada syaratnya…”

Lelaki bersarung dan berkaos oblong, duduk bersila dengan whiteboard di sebelahnya. Tangannya terus mencoret-coret, melingkari berkali-kali atau membuat garis berpanah menurunkan penjelasan kata “value” yang telah ditulisnya sejak tadi.

“Syaratnya apa, Kang?” tanya cowok berambut ikal.

“Sederhana saja, nilai kan hubungannya sama benar dan salah… Benar berapa dari soal berapa, ya segitu nilainya, paham nggak?”

Dina menggeleng. Dia agak sulit mencerna, nilai sebuah karya dengan benar dan salah. Hmm, Dina baru paham, itu bahasa sederhananya. Maksudnya, menulis sebuah karya, apa pun itu, cerpen, novel, artikel, dll, menunjukkan siapa penulisnya.

“Duh, berat Om, nggak paham…” celetuk Dina.

Lelaki itu tertawa. Dia tahu, memang agak sulit menjelaskan soal nilai dalam sebuah karya. Walau sebenarnya, nilai atau bobot sebuah karya itu bisa dibaca dari isi paragraf demi paragraf  tulisan itu. Apakah tulisan itu mampu memberi ‘sesuatu yang baru’ semisal informasi baru, hal baru, dan pengetahuan baru bagi yang membaca.

“Gini gampangnya, buatlah tulisan yang ‘tidak biasa-bisa saja’, oke…”

Dina mengangguk bimbang.

“Berbeda dengan tulisan lain, ada isinya, banyak informasinya, ada sisi menghiburnya dan kalau bisa, ada sisi yang membuat orang mampu melakukan penyadaran tertentu, walau kecil-kecil saja,” lanjut lelaki bersarung itu.

Setengah paham, Dina mengangguk, sambil menebar pandangan ke beberapa temannya. Herannya, semua temannya tampak tersenyum.

***

“Nilai sebuah karya juga ada timingnya, ada waktunya…”

“Apa lagi nih?” bisik Dina setelah mencolek Ria.

“Udah simak aja…” sahut Ria.

“Menulis tentang kasih sayang, bisa awet kapan saja. Apa pun momentumnya.” Kemudian dia menyontohkan, momentum hari ibu, bisa kita menulis kasih sayang ibu yang tiada taranya, tentang kedudukan dan kemuliaannya. Perannya dalam keluarga, membentuk karakter anak-anaknya dan mengantarkannya hingga menjadi pribadi-pribadi hebat. “Silakan bertanya pada orang-orang sukses, hampir semuanya akan menyebut ibu yang berperan besar dalam hidupnya,” jelasnya.

“Mencintai laut, mengagumi samudra, menyayangi kehidupan biota laut, bisa ditulis menjadi tema kasih sayang kapan saja, meski lebih bernilai ketika tepat hari maritim nasional, hari lingkungan hidup atau ada momen khusus kelautan seperti Sail of Banda misalnya. Banyak, banyak sekali. Kasih sayang itu tema yang tak lekang ditulis. Semua bisa masuk nilainya…”

Dina semakin paham. Omongan orang bersarung itu selaras sama omongan  bapaknya yang mainnya di teras masjid habis shalat isya, bahwa sifat rahman dan rahim Tuhan itu luasnya tak terkira. Di belahan dunia mana pun kasih sayang Allah berlaku sama. Kapan saja tak tergantung momentum dan nggak pilih kasih. Hanya saja, menjadi istimewa bagi orang-orang tertentu yang merasakan dengan kepekaan dan sensitifitas yang tinggi. Bahwa tanpa kasih sayang-Nya yang tanpa batas, kita bukanlah apa-apa.

“Oke ya, jadi soal menulis yang memiliki nilai selesai dan bagaimana memilih tema yang tak habis eksplorasinya juga sudah, termasuk bagaimana memilih waktu yang membuat tema tulisan atau karya teman-teman lebih berbobot…”

Pertemuan selesai. Tinggal bercanda. Dan Ria menyodorkan sekotak cokelat ke tengah lingkaran kecil itu. “Oleh-oleh Mama…” katanya. Hmm, dari bungkusnya, kelihatan, kalau itu dari luar negeri.

***

Dina masih saja bingung, walaupun sudah kuliah, mahasiswa, dan usianya masuk 20-an, tetap saja nggak paham, kenapa orang ribet ngrayain Valentine. Berkali-kali dia tanya sama Ria, jawabnya sama saja. “Gue nggak ngerti! Gue ngertinya hari raya ya lebaran…”

Makanya ketika teman-temannya bertanya, di mana mau ngrayain Valentine atau sama siapa? Dina cuma bisa bengong. Bukan apa-apa, sampai sekarang ia masih blank, apa pentingnya ngrayain hari raya itu. Hari raya kasih sayang, kata banyak orang.

“Kasih sayang ya setiap hari, setiap waktu…” jawab Ria lagi ketika ditanya soal kasih sayang. “Nggak ada hari khusus. Itu menurut gue ya…”

“Jadi nggak usah ikut ngrayain?” tanya Dina lagi.

“Terserah elu, kalo gue sih nggak…” sahut Ria sambil menyodorkan cokelat. Cemilannya sehari-hari. Dan kali ini dia bilang, “Mamaku dari Jerman kemaren…” Hmm, cokelat mahal nih, batin Dina. Baru mau bilang terima kasih, Ria malah menyodorkan lebih banyak lagi. Kayak cokelat yang dikasih di saung tadi. “Jadi…”

“Gue mau nulis aja, tentang kasih sayang yang abadi…” kata Ria sambil bergegas ke perpustakaan. Memilih cari referensi sebanyak-banyaknya. Sudah kebayang di benaknya mau nulis apa tentang kasih sayang. Baginya, terlalu banyak orang-orang yang sayang dan harus dia sayangi…

“Ikuuuut…” Dina melangkah cepat. Beberapa orang tersenyum berpapasan dengannya. Karena mulutnya belepotan cokelat.

Dimuat pada Kolom Fun Writing Majalah Story edisi # 41  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s