Fun Writing

Balada Dina Sedunia


Setengah hari ini ia merasa kesialan akrab banget dengan dirinya. Dari bangun pagi, ketika ada yang aneh dengan bibirnya. Benar saja, dengan agak kaget bukan kepalang, bibir bawahnya jontor. Bengkak kayak bibir gagal operasi plastik…. Hiks… mana hari ini harus jadi pembaca UUD’45 saat upacara.

“Pokoknya aku nggak mau tidur di bawah lagi…” protesnya ketika habis mandi pada ibunya di dapur.

“Trus mau tidur di mana?” sahut ibunya.

“Di mana kek, di genteng juga nggak papa…” Dina kesal.

“Ya udah, nanti bapakmu suruh bawa selimut sama kasurmu ke genteng…”

Hmmm… Dina hanya mendengus. Tega bener sih, anaknya suruh tidur di genteng. Ini bukan pertama kalinya Dina bibirnya digigit kecoa dan berakibat bibir jontor. Habis, sebagai anak baik, ia harus rela mengalah tidur di kasur lipat, mengalah kepada adik-adiknya yang kulitnya belum setebal dirinya. Masih rentan masuk angin. Kasihan anak balita tidur di bawah… selain dingin, berisiko tinggi, salah satunya digigit kecoa selain dikerubutin semut dan dilindas tikus iseng yang malam-malam main petak umpet…

“Rumah kita kan kecil Din…” kalimat itu sudah berkali-kali diucapkan ibunya setiap kali dia minta dibelikan tempat tidur.

Dina kesal sendiri. Mau mlintir gaya apa pun, bibir bawahnya tetap saja kelihatan dower.  Makanya kalau mau tidur gosok gigi, kata Nila teman sebangkunya. Entah meledek atau memang tulus menasihati. Karena memang jarang sekali dia gosok gigi sebelum tidur. Kalau ingat dan punya odol, barulah dia gosok gigi. Sebenarnya ada yang off the record, artinya rahasia, bahwa Dina itu kalau tidur selalu miring dan…

“Ya ampun, anak cewek sih tidurnya ngiler…” ibunya yang setiap kali bangun malam buat shalat tahajud mesti ngelap ilernya Dina.

“Widih, tuh bibir seksi aja,” ledek Nila ketika Dina baru sampai di kelas. Kelas tercanggih di SMA Nusa Antara, yaitu kelas XI IPA 1. Satu-satunya kelas jurusan IPA yang muridnya cewek semua. Kecuali guru fisika, matematika, kimia dan tukang kebonnya.

“Iya nih, salah operasi, silikonnya abis…”

“Oo… diganti apa?”

“Rendeman teh basi!” sahut Dina kesel.

“Pantes bibirmu subur…” Nila tertawa.

Dina lalu bergegas ke kantor guru, bergabung dengan petugas upacara lainnya. Ternyata tinggal dia yang belum bergabung. Segera saja, Pak Jajang memberikan map batik berisi teks UUD 1945. Beberapa orang petugas lain tampak cekikikan melihat Dina dengan bibir seksinya. Bibir jontor akibat digigit kecoa genit…

Kesialan tak cepat berlalu.

Upacara dimulai. Tiba giliran baca teks UUD 1945… ealah, kok yang tega. Tali sepatunya keinjek dan nyerimpet. Halah, langkah tegap maju jalan dengan map digenggam gagah menuju podium, menjadi atraksi sempoyongan yang bikin seluruh peserta upacara riang gembira. Sumpah, upacara jadi tidak sakral lagi… karena banyak di antara mereka yang tidak hanya senyum simpul, tapi juga tertawa tergelak hingga terpingkal-pingkal mengiringi Dina yang dengan sukses akhirnya terjungkal….

Demi sebuah tugas mulia, bibir jontor plus jidat jenong yang kini juga benjol tak membuat Dina surut langkah. Meski maksud hati membaca dengan lantang, tapi apa daya yang keluar di speaker suara Dina tak lagi merdu. Lebih mirip suara rebusan ketupat waktu malam takbiran. Blubuggg… blubuggg…

***

            “Makanya banyak sedekah Din…” kata Nila sambil mengunyah baso yang bikin mukanya aneh. Pipinya jadi montok! Lagian baso segede bekel direndem minyak tiga hari masuk begitu saja tanpa di belah-belah.

“Sedekah, uang jajan aja cupet! Boro-boro…”

“Kan nggak harus uang…”

“Trus kalau siswa ekonomi lemah macam aku sedekah pake apa?”

“Iya ya, kamu kan orang susah ya…” mulut Nila terus menguyah, jendolan di pipinya pindah-pindah, kadang di kiri, kadang di kanan. “Kalo gitu, aku bayarin baso lu kali ini…”

“Bener nih, makasih ya Nil…” Dina kegirangan, tidak peduli dengan bibir yang bejendol dan jidat yang jontor, eh kebalik ya… Dina pun memesan satu mangkok lagi, setelah menyelesaikan sisa baso di hadapannya dengan cepat.

“Ah, kemaruk amat sih… maksudku aku bayarin baso yang kamu dah makan, bukan bayarin kamu makan baso sesukanya…” Nila wajahnya agak kesal.

Dina memasang muka bodoh, memelas dan rupa yang menggambarkan dirinya menderita, miskin, dan perlu disantuni segera. Nila pun tidak tega. Malah dia memesankan satu mangkok lagi. Rasain lu… batin Nila, meleduk-meleduk deh perut lu…

Ketika Dina mulai agak kepayahan, karena kekenyangan menghabiskan tiga mangkok baso dalam kondisi bibir dower dan jidat bejendol rasa cenat-cenut,  Nila tampak senyum-senyum senang. Beberapa kali Dina bersendawa, kekenyangan atau masuk angin atau komplikasi keduanya Nila tidak peduli. Tapi memang aroma menyakitkan hati, walau menyakinkan hati, kenapa kecoak jadi bergenit-genit tega menggigit bibirnya…

“Kenyang banget nih…” keluh Dina memainkan dua baso di mangkuk terakhirnya.

“Habisin, sayang udah dibayar… nggak mungkin dibalikin trus kamu ambil besok lagi…” kata Nila sambil memasukkan kembalian uang ke dompetnya.

“Habisin dulu, ntar aku beliin salep deh…” Nila tertawa.

“Salep…”

“Iya biar bibirmu kembali seperti semula,”

Dina menelan ludah sambil menepuk jidatnya. Alhamdulillah tangannya pas di bekas jendolan hasil atraksi tadi pagi. Maka, Dina pun nyengir kesakitan dengan baik sekali.

Selesai makan baso, Nila pun membelikan salep di apotek dekat sekolahnya. Selain itu dia juga memberikan kado kecil untuk sahabatnya itu. Kado kecil berbungkus kertas corak bunga dan dililit pita.

“Selamat ulang taun ya…” Nila memeluk dan mencium Dina.

Dina menyambutnya dengan hangat dan antusias, walau harus menahan sakit, karena jidatnya yang benjol sempat berbenturan dengan Nila.

“Makasih banget ya Nil, kamu baik banget…” ucap Dina dengan sangat lebai. Sebuah adegan mengharukan yang terjadi di depan apotik dekat sekolah. Disaksikan tiang telpon yang ditempeli iklan fotokopian nomer telpon sedot wc dan badut ulang tahun.

***

            Tidak semuanya harus kesedihan…

Dina yang hari itu nyaris menyimpulkan dirinya adalah orang paling sial sedunia, meralat kesimpulannya sebelum ditulis sebagai status fesbuknya. Meski sial, harus tidur di lantai beralas kasur lipat yang makin tipis, tapi ia merasa beruntung karena bisa tidur nyenyak dengan kaki berselonjor. Dina merasa lebih beruntung dari orang-orang yang harus susah payah tidur di mobil angkutan. Tidur sambil duduk dengan kaki ditekuk menahan kantuk dan menjaga kepala agar tidak jatuh pasti melelahkan sekali…

“Kasur lipet di mana, Bu?” tanya Dina ketika baru saja pulang.

Ibunya hanya menunjuk ke atas. Dina bingung, dan akhirnya mengikuti petunjuk telunjuk ibunya. Dia keluar rumah, balik kanan dan mendongak ke atas…

“Ibu tegaaaaaa! Masak beneran aku suruh tidur di genteng…” Dina histeris dan ingin sekali menangis melihat kasur lipet, bantal dan selimutnya di genteng.

Ibunya cengar-cengir cuek. Dina kesal dan berlari masuk rumah, melempar sepatu tanpa kaos kakinya yang bolong pas di jempolnya. Dina memaksa masuk ke kamarnya, kamar bersama, kamar tempat ia tidur bersama adik-adiknya. Hampir saja kesalnya memuncak. Tapi matanya melihat pemandangan yang menakjubkan…

“Huwaaaaaa….” Dina histeris dan balik langkah secepat kilat. Mencari ibunya yang sedang mengaduk bubur nasi buat adiknya. Ibunya yang kaget, refleks menghindar. Namun Dina tetap nekat ingin memeluknya… Alhasil, Dina pun memeluk ibunya dengan bonus bibir jontornya terantuk ujung pengaduk bubur…

Tak apa demi kebahagiaannya atas hadiah kasur busa yang baru saja dilihatnya. Dan Dina pun menikmati keindahan tidur di atas kasur busa, walaupun kavlingnya tidak berubah. Statusnya sama, tetap tidur di lantai… Sungguh hadiah terindah di ulang tahunnya yang hampir saja ia tidak ingat kalau Nila tak menraktir tiga mangkuk baso dan memberinya kado… yup kado…

Dina antusias membuka kado kecil dari Nila.

Ups! “Selamat Ulang Tahun ya, semoga panjang umur dan kado kecilku bermanfaat… salam sayang, Nila”

Mata dan pikiran Dina bergantian bergerak, kok kadonya solasi… Apa maksud Nila? Dina pun mengambil gunting, memotongnya beberapa senti dan menempelkannya di mulutnya. Dina tiduran di kasur busanya yang baru dengan mulut diisolasi… batinnya kesal dan geli, “Puas lu, puas Nil!”

*pernah dimuat Majalah Story

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s