Sudut Pandang

Cuma Segitu Aja…


tef - batik bw            Mendesir tiba-tiba…

Mungkin beginilah kecewanya mendiang ibu saya. Anak yang dibanggakannya, dianggap mampu berbuat elegan, menguasai semua permasalahan dan keadaan, ternyata hanyalah seorang pengecut yang tak bisa mengontrol emosinya. Mempertontonkan kebodohannya, membuat stempel buruk bagi dirinya sendiri. Menyodorkan persepsi buruk kepada khalayak. Hanya karena tak bisa mengontrol emosinya.

“Jangan jadi pengecut…” dulu saya sering sekali dengar kalimat ini. Kalimat yang membuat saya harus menyerahkan pantat ketika yakin kesalahan sudah saya buat. Kemudian saya rela dipukul pantatnya, demi penebusan sebuah kesalahan. Sebuah risiko, bukan hukuman, karena saya telah sepakat, kesalahan yang dilakukan harus dipertanggungkawabkan. Itu masa kecil saya, cara orangtua saya mendidik disiplin dan tanggung jawab.

Don’t jugde a book by its cover. Kalimat ini ternyata mujarab untuk menyiapkan mental rendah hati, lapang dada, dan tidak kagetan. Karena kita jadi sesak napas ketika ternyata orang yang kita anggap ‘sesuatu’ banget, eh ternyata begitu. Kita jadi terkaget-kaget, orang yang kita banggakan, ternyata kekanak-kanakan. Kita juga sering shock, karena orang yang kita harapkan, jauh  panggang dari api. Hanya tampaknya saja, kemasannya saja yang kemilau, tapi hatinya galau tingkat dewa.

Saya mendapat rumus penting ini dulu sekali. Pada sebuah seminar di FSUI (Fakultas Sastra UI), sebelum menjadi FIB UI (Fakultas Ilmu Budaya UI). Ketika itu, narasumber almarhum Dr. Nurcholish Madjid. Dia bilang, orang itu tidak semuanya baik, tapi tidak semuanya buruk. Tidak ada orang yang sempurna. Sejak saat itu, saya selalu memandang sebagai manusia yang utuh. Mempunyai sisi baik, mempunyai sisi buruk, manusiawi.

Jadi saya tidak akan tergila-gila pada mengidolakan orang-orang tertentu. Apalagi mengaguminya membabi buta. Hingga saking mengidolakannya, kesalahan yang fatal dilakukan tetap dimaklumi, dianggap biasa, padahal efeknya merusak mental, meruntuhkan norma, dan melecehkan nilai-nilai ajaran agama.

Bolehlah kita berharap, tapi harapan itu bisa saja meleset, bisa juga tepat. Seperti orang menembak atau memanah. Kalau tepat, ya tidak banyak cerita. Lanjut terus. Tapi kalau meleset, itu yang bikin ‘deg’ di hati. Tapi itu juga manusiawi, cuma kaget sebentar. Sisanya memaklumi, kembali ke rumus semula. Kalau melesetnya terduga, masih juga bisa diterima. Tapi kalau melesetnya sampai babak belur, ya hanya bisa istighfar minta ampun. Mengembalikan semuanya kepada yang Maha Kuasa. Bahwa Allah-lah yang Maha Membolak-balikan Hati.

Sedang kecewa ya?

Iya, saya kecewa. Saya masih tidak percaya. Tapi sudahlah, ini pilihan orang untuk menghadirkan wajah apa saja kepada orang lain. Wajah sensasional, wajah lebay, wajah caper, atau wajah kebodohan. Biarlah orang yang menilai. Toh ini negara demokrasi, siapa berwajah apa dilindungi undang-undang. Tapi orang juga boleh menilai, bahwa penghargaan terhadap aturan, kerja panjang, keputusan bersama, dan pengamanahan itu ukuran orang memandang wajah orang lain.

Saya sih jadi semakin percaya diri, ya menjadi orang bodoh itu tidak terlalu menistakan. Karena, banyak orang pintar, sekolah tinggi, dan memiliki jam terbang tinggi dalam berbagai wilayah akademis, juga melakukan perilaku seperti halnya orang sebodoh saya. Memperlihatkan atraksi yang hanya dilakukan orang-orang tidak sekolah tinggi. Mempertontonkan akrobat yang sama sekali tidak lucu. Entah apa maksudnya. Jadi, ya… cukup tahu saja. Ternyata cuma segitu aja…

Catatan Kecil Sang Mantan (2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s