Story & History

Masa Depan Itu…


Pademangan-20120803-00528Di mana saya ketika ramai orang di jalan-jalan, di pusat keramaian, di tempat wisata serta pusat hiburan menjelang hitungan waktu 00.00 malam tadi?

“Di rumah saja…” jawab saya.

Ponakan saya, yang masih gondrong dan sudah bekerja di media itu menanyakan ke mana malam tahun baru ini. Dia mengajak saya jalan, “Jalan-jalan saja, Om. Siapa tahu mau lihat kembang api.”

“Nggak ah, mau di rumah aja…” singkat saya menjawab.

Tak ada pertanyaan lanjutan lagi di bbm. Ya, dia masih masuk kerja di tanggal terakhir tahun 2012.

***

Buat saya malam tahun baru atau malam tahun lama, sama saja…

Tanpa mengurangi rasa hormat dan apresiasi saya terhadap penikmat perayaan tahun baru. Saya menghormati mereka, tidak mengusiknya, tidak mengganggunya. Wong saya di rumah saja, sementara mereka ramai riuh semisal di sepanjang Jalan Sudirman – Jalan MH Thamrin, Jakarta. Menikmati 16 panggung hiburan dalam Jakarta Night Festival gelaran Gubernur Jokowi. Atau mereka yang di Ancol, Taman Mini, Kuta, dan berbagai tempat di sudut dunia mana saja. Bahkan di lapangan badminton depan komplek perumahan saya tinggal yang Pak Erwenya berinisiatif menyediakan hiburan layar tancap.

Ngapain saya di rumah?

Ya nggak ngapa-ngapain! Seperti hari-hari biasanya saja…

Saya duduk sendiri saja di saung. Dengan teh hangat kesehatan yang memang sedang saya konsumsi untuk program diet. Menikmati gemiricik air pancuran yang berlomba dengan gerimis yang terus gemeritik. Indah saja rasanya…

Tahun baru itu…

Saya semakin tua!

            Sulit mengaku kalau waktu berjalan, masa terus berlalu, dan itu membuat kita semakin tua. Mau atau tidak mau… Keponakan yang dulu saya tunggui kelahirannya, kemarin merayakan ulang tahunnya ke-10. Ia akan menghabiskan liburan sekolahnya di sini. Mamanya mengantarkan di awal liburan lalu. “Terserah Om, mau diapain! Di rumah bandel banget…” begitu kata mamanya sebelum pulang. Menitipkan dengan harapan dan kepercayaan. Dianggapnya saya bisa ‘menaklukkan’ kebandelannya hanya dalam waktu liburan ini.

Saya tersenyum kecut. Ah, saya juga masih bandel.

            Justru dia yang menaklukkan saya. “Ke masjid yuk Om…” ajakan itu tajam sekali menusuk ulu hati. Saya memang sudah jarang ke masjid. Shalat berjamaah. Saya terlalu pintar beralasan untuk menghindari masjid kalau ditanya orang-orang. “Pulangnya malam terus, Pak…” Hmm, padahal kan ada Sabtu dan Minggu. Tidak setiap hari bekerja. “Sabtu Minggu saya sering keluar ada acara…” Hmm… kan masih ada subuh? Nah, saya tidak punya alasan, tidak keluar dari lidah. Saya hanya bisa membatin, “Saya memang bangun sebelum azan subuh, saya tetap shalat subuh, tapi di rumah, lalu tidur sesudahnya…”

Ya, tahun baru itu buat saya…

Saya tahu siapa saya! Setidaknya… salah satunyasaya diingatkan lagi untuk ke masjid. Dan hari pertama di tahun 2013, saya di masjid sampai larut malam. Menjadi bagian dari lingkaran kecil yang bicara soal masa depan umat. Ya, masa depan umat…

Ikut rapat membahas dan mencari jalan keluar pembebasan tanah wakaf buat pemakaman jamaah masjid komplek yang kian sedikit sisa kaplingnya. Masa depan itu kematian. Jalannya sepi, jauh dari hura-hura dan gemerlap kembang api…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s