Story & History

Begitulah, Tapi…


Ngono yo ngono, ning ojo ngono.

            Keponakan saya sudah tidak tahan lagi dengan lingkungan kerjanya. Kemaren dia curhat. Saya mendengarkan. Saya bilang di mana pun, kerja apa pun, karena sifatnya yang komunal, kita akan berhadapan dengan orang-orang yang sifat dan karakter yang beragam.

“Kalo soal itu sih nggak masalah, Om…” sanggahnya.

Saya yakin, dia matang. Bisa membawa diri, bisa mengatasi persoalan adaptasi dan pergaulan. Soal penghargaan terhadap yang tua, yang lebih dulu, dia pasti sudah beres tanpa perlu diajari.

“Trus apanya?” tanya saya, “Gajinya? Cukup kan?”

Dia mengangguk. Karena untuk ukuran pekerja pemula seperti dia, take home pay-nya lebih dari cukup. Beruntunglah dia bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki sistem penggajian yang manusiawi.

“Kasih alasan, apa yang bikin lu nggak nyaman lagi…”

Saya terbiasa sekali diskusi sama dia. Dari soal sepele, sampai soal yang tidak sepele. Karena, ada warisan ajaran di keluarga saya untuk tidak menyepelekan hal-hal sepele, remeh temeh, atau trivial. Apalagi menganggap ‘sepele’ sesuatu. Apa pun itu, kecil atau besar, semuanya penting.

“Terlalu banyak bisik-bisik…” katanya.

Dahi saya mengekerut.

“Maksudnya?”

“Yah, banyak yang main belakang…” lanjutnya.

Kemudian dia bercerita. Bagaimana dia menjumpai akal-akalan beberapa oknum di divisinya. Walaupun dianggap sebagai orang baru, bau kencur, tapi dia paham. Ada yang tidak beres. Akal-akalan. Tentu saya paham, dia yang masih terus dikawal dengan pesan, “Bekerja yang jujur!” akan merasa ada yang membuatnya tidak nyaman.

“Transaksi di bawah meja lah…” dia akhirnya menyebut.

Saya mengangguk.

“Walaupun tidak semua, tapi begitulah. Banyak yang ngobyek dengan fasilitas kantor, ngakalin jam kantor, bikin alasan ini itu. Payah Om…” bebernya dengan wajah frustrasi. “Jadi males…”

Senyum saya mungkin justru membuatnya tambah mikir.

Bekerja, di mana pun dan sebagai apa pun, memiliki risiko! Saya hanya bisa mengira yang positif saja. Kalau ada yang begitu, mungkin memang kebutuhan dan biaya hidupnya besar, sehingga gaji dari kantor tidak mencukupi. Atau mungkin dia tulang punggung keluarga, sehingga harus menghidupi banyak nyawa, entah itu orangtuanya, kakaknya, adiknya, keponakannya atau kerabat intinya, ya suami atau istrinya beserta dengan anak-anaknya.

Buat saya, silakan saja, itu pilihan. Orang bekerja kan sudah dewasa, apa yang dipilih pasti pilihan orang dewasa. Seperti mereka yang telah memilih, saya pun punya pilihan sendiri. Pilihan untuk tidak membuat ujung hidup ini ruwet, karena keruwetan tak akan pernah membahagiakan. Saya memilih bahagia dengan apa yang diterima dari hasil kerja yang sebagaimana mestinya. Selebihnya, saya punya rasa syukur yang tak putus, karena begitulah cara saya mengawetkan kebahagiaan. Dengan banyak syukur dan rasa cukup…

“Jadi gimana, Om…”

“Jalani saja. Bekerja saja, fokus…”

Dia tidak tersenyum. Saya melihat dengan kasihan. Ponakan saya belum tahu, kondisi apa saja bisa jadi ladang doa. Dan dia juga belum tahu, mendoakan orang lain, tanpa diketahui orang yang didoakan itu mulia sekali. Maka, saya berharap, dia bertahan dan banyak berdoa. Mendoakan teman-temannya itu…

Kalau perihal doa sebagai selemah-lemah usaha memperbaiki, sudah tahu dia. Dan dia sudah tersenyum ketika saya ingatkan itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s