Fun Writing

Sindrom Matahari


Jakarta lagi hujan terus. Beberapa tempat malah sudah kebanjiran. Dari yang cuma semata kaki, sekaki orang dewasa, hingga semata anak balita. Jadi ya nasibnya Jokowi, gubernur baru Jakarta, disambut mesra oleh banjir di awal jabatannya. Nah, tentu saja, musim hujan ini membuat Dina empot-empotan.

Ya, risiko hidup di perumahan agak mewah River Side Estate!

            Perumahan pinggir kali, begitu penjelasannya. Karena memang di ujung komplek rumahnya Dina melintas Kali Angke. Angke, konon artinya merah. Konon lagi, sebutan itu berawal dari terjadinya genocide atau pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC di Batavia. Kejadiannya sudah lama, tahun 1740. Jadi kalau dilihat sekarang air Kali Angke nggak merah lagi, malah butek! Keruh dan biasa… banyak sampah!

kaos kaki gue gak kering dah!

Dina memandangi jemuran yang makin rapat bergelantungan di teras belakang. Bapaknya sampai membuat jemuran baru dari tali, karena jemuran alumunium berwarna kuning busuk itu tak mampu lagi menampung jemuran orang serumah.

Kenapa pula, pengering mesin cuci ibunya rusak di saat penting! Saat matahari mahal. Bukan matahari yang di mal-mal. Tapi sinar matahari…

“Masak nggak pake kaos kaki, malu Mah…” sahutnya ketika ibunya menyuruh pergi ke kampus.

“Kok malu, emang jari kakimu jempol semua?” tanya ibunya.

“Enak aja…” sergah Dina sambil menyembunyikan kakinya ke bawah kursi. Dina juga heran, kok ya tega ibunya ngelongok, melihat dengan saksama kaki anak perempuannya yang cantik tapi kurang jelita itu. Begitu ibunya nggak kelihatan, Dina iseng melihat jari-jari kakinya. Diam-diam dia tersenyum sendiri, dalam hatinya ia ngakak. Sulit mengidentifikasi bedanya jempol dengan jari-jari lainnya. Mirip semua ukurannya.

***

            Matahari baru saja tenggelam, hanya menyisakan semburat jingga. Senja yang sangat biasa, seperti hari-hari sebelumnya….

            Dina membaca buku kumpulan cerpen yang diambil dari perpustakaannya. Merasa kurang nonjok, Dina membuka cerpen berikutnya.

Ayam berkokok hebat. Mengiringi matahari pagi yang muncul dari ufuk timur.

            Dina menarik ujung bibirnya hingga meruncing. Di saat ia sangat butuh matahari biar kaos kaki dan seabrek jemuran biar kering. Justru matahari bertebaran di buku yang dibacanya. Dua cerpen, dengan pembuka yang ada mataharinya. Walau satunya sudah masuk karena senja, tapi satunya muncul malu-malu.

Membaca di bus Trans Jakarta memang pilihan baik. Setidaknya ia sedang menjalani resep dari seorang penulis. Gunakan waktumu, di mana saja untuk membaca. Membaca itu amunisi, jadi kalau mau mempunyai banyak amunisi, ya harus membaca. Tidak ada yang bisa menggantinya.

“Nggak bisa diganti puyer atau tablet, Mas…” tanya Dina iseng.

“Kalo membaca diulek jadi puyer sulit, tapi kalau tablet masih mungkin. Beli aja di Glodok atau di konter yang jualan tablet!” sahut si penjawab. Agak kesal, tapi ya gimana lagi. Membaca tablet di zaman canggih sudah biasa. Tapi kalau membaca dipuyerkan, mungkin perlu menunggu revolusi teknologi seabad lagi. Dasar Dina!

Dina senyum sendiri, sampai orang yang duduk di sebelahnya menggeser duduknya pelan-pelan. Menjauh sedikit. Setidaknya tidak mepet lagi dengan Dina. Tapi Dina tak peduli. Dia melanjutkan membaca buku itu…

Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika aku bergegas pulang. Sepertinya, sinar matahari yang sangat terik itu melengkapi kegaulauanku. Betapa aku hanya bisa menjawab tiga soal matematika dari sepuluh soal ulangan tadi…

            Hmmm, Dina merasa cukup. Tiga matahari di tiga cerpen yang dibacanya membuat ia semakin penasaran. Langsung saja, ia membuka cerpen-cerpen lainnya. Hanya ingin melihat pembuka atau openingnya. Apakah masih bertabur matahari?

***

            “Buatlah opening yang menarik, tidak biasa, unik dan jauhkan dari matahari….” kata Baim, asisten dosen sastra yang kacamatanya bulat kayak John Lenon. Hingga mahasiswa lain menyebutnya Baim Lenon.

“Kok, jauhkan dari matahari?” Dina tanya. Agak iseng, walau sebenarnya dia nggak paham. “Maksudnya jauhkan dari matahari apa ya?”

“Ya biar nggak kepanasan, nanti kalo kebakaran gimana…” sahut Baim bikin keki.

Dina cemberut, kayak gini kok jadi asisten dosen!

“Ya, boleh saja, tapi kan udah basi banget. Dari jaman SD sampai kuliah, masak masih gitu-gitu aja bikin opening cerpen. Bosen nggak sih?” katanya. “Kalo nggak matahari terbit, matahari di atas kepala, ya matahari tenggelam…”

Dina tertawa. Tapi ya begitulah…

“Banyak calon penulis yang kena sindrom matahari, padahal bisa diganti dengan yang lain. Bahkan cerpennya Veven Sp. Wardhana yang berjudul Matahari Kembar, openingnya nggak pake kata matahari….” Baim menunjukkan  buku itu.

“Nih liat…. Ketika Gigih sampai di kompleks penampungan, gerimis menderas…” Baim menunjuk.

“Iya ya…”

“Coba tanya Taufan, redaktur Story, kalo ada opening yang basi, berlebay-lebay dengan matahari apakah masih menarik dan punya kans untuk dimuat? Ini nomer telponnya…” Baim memberikan kartu nama yang entah nemu di mana.

Dina langsung mengirim sms bertanya tentang sindrom matahari. Sambil berharap, semoga sang redaktur itu keren dan jomblo. Hmm!

Dimuat dalam kolom Fun Writing Majalah Story edisi 40

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s