Sudut Pandang

Nasi Goreng Bang Zen – Kebayoran Lama


jajanan2

“Nanti mampir Bang Zen ya Mas…”

Itu adalah kalimat yang selalu keluar dari mulut istri saya kalau berkendara lewat Jalan Cileduk Raya, begitu naik fly over Kebayoran Lama. Buat saya, fly overnya punya cerita sendiri, dan Bang Zen yang disebut istri saya juga punya cerita sendiri.

“Ini langganan saya sejak kuliah…”

Saya ingat pertama kali membawa istri saya ke Bang Zen. Itu kalimat saya… Ya, nasi goreng Bang Zen. Waktu itu masih pengantin baru, walaupun sudah nggak dibungkus plastik. Biasalah, belum biasa masak dan masih banyak acara ‘setor muka’ kepada handai taulan se-Jakarta Raya. Jadi hampir-hampir, setiap kali pulang malam, atau agak malam. Sehingga ada alasan untuk makan di luar sekalian.

Dari arah Taman Puring, naik fly over Kebayoran Lama, hanya 200-300 meteran lah,  di situlah Bang Zen sekeluarga berdagang nasi goreng. Hanya satu kios tapi beberapa meja ditambahkan di depan kios toko sebelahnya yang sudah tutup. Pokoknya begitu lepas dari macet di turunan fly over, melewati tukang buah yang berderet terang benderang lampunya.

Apa sih istimewanya? Makan nasi goreng di sini nggak pakai nunggu lama!

Selain itu, pilihannya juga banyak. Dari nasi goreng biasa, nasi goreng ati ampela, nasi goreng kambing, nasi goreng pete, atau tergantung pesannya apa.

“Nasi goreng komplit!”

Itulah pesanan favorit istri saya.

“Pedes ya Bang…”

Itu tambahannya.

“Minumnya teh manis panas…”

Saya hafal betul. Nasi goreng komplit, ya nasi goreng goreng, pakai potongan ati dan apela ayam, lalu pete iris tipis yang turut digoreng, lalu ditabur suwiran ayam goreng, dan beberapa buah emping.

Hmm…

Tak lama kita duduk, pasti pesanan datang!

Kok bisa? Ya bisa. Itulah keajaiban di Nasi Goreng Bang Zen. Jadi kompornya ada tiga. Satu kompor untuk menumis nasi yang sudah dibumbui. Lalu kompor kedua untuk memasak nasi goreng sesuai pesanan. Dan kompor ketiga untuk memenuhi pesanan khusus, misalnya, telornya diceplok, atau telornya didadar ya…

Satu lagi yang saya suka, kalau di tempat lain hanya ada acar biasa. Ketimun, wortel, dan cabe rawit hijau yang diasamkan. Di sini, ada yang beda. Selain acar tadi, ada juga acar bawang merah! Hmm… konon, khasiatnya bisa membantu mengurangi masuk angin. Tapi kalau kebanyakan selain mulut bau bawang, tentu saja lidah akan terasa getir. Apa saja kalau kebanyakan ya jadi nggak asyik lah…

Soal harga?

Terjangkau. Saya dan istri tidak pernah menyesal untuk membeli nasi goreng di sini. Oh iya, Nasi Goreng Bang Zen, buka dari jam lima sore lah. Tutupnya? Tergantung. Kalau laris ya cepet tutup. Tapi lazimnya sih jam 22.00-23.00 lah.

Siapa tahu ada yang melintas di Jalan Cileduk Raya, letaknya di kiri jalan (kalau dari arah Kebayoran Lama) atau di kanan jalan setelah Seskoal Cipulir (kalau dari arah Ciledug). Eh siapa tahu, mau ke rumah. Tolong bungkusin saja, sudah tahu kan kesukaan istri saya? Kalau saya sih ngikut saja…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s