Fun Writing

Menulis Puisi


Kebon Jeruk-20120813-00616Saya itu orang yang tidak tahu puisi, tapi pernah jadi juri lomba puisi. Ingatan saya, ketika sekolah dasar, saya pernah juara lomba baca puisi. Tingkat kecamatan, walaupun bukan juara pertama. Tapi itulah persentuhan saya dengan puisi. Jadi ada sejarahnya lah sedikit.

Waktu kuliah, saya menikmati orang-orang yang membaca puisi.

Beberapa kali beruntung, melihat almarhum WS Renda membaca puisi secara langsung. Saya masih bisa merasa bergidik bulu kuduk, betapa beliau mampu menghidupkan kata-kata sedemikian magis. Tak hanya memukau, tapi membuat saya tak berkutik. Dan saya akhirnya percaya, betapa dahsyatnya puisi.

Saya menikmati puisi…

Saya menyukai puisi yang mudah saya pahami. Puisi naratif seperti modelnya Taufiq Ismail. Tetap menarik, tetap cantik, tanpa saya harus berpikir panjang dan lari-lari mencari arti. Kemana sayap kata-kata itu terbang menemukan maksudnya.

Entahlah, mungkin saya yang dungu…

Membaca buku kumpulan puisi Emha Ainun Nadjib. Membaca kumpulan puisi Sutardji, sang presiden penyair. Membaca dan menikmati puisi Sapardi Djoko Damono. Dan beberapa penyair lainnya. Walau begitu, saya belum juga bisa menulis puisi…

Waktu puber pun, saya tidak terlalu produktif menulis puisi. Katanya, suasana jatuh cinta membuat seseorang romantis luar biasa. Hingga segala sesuatunya menjadi indah… lalu kata-kata merekah menjadi puisi. Rasa rindu yang membuncah membuat kalimat mendayu-dayu menjadi rangkaian puisi. Puisi cinta atau tepatnya puisi jatuh cinta. Mungkin lebih tepat lagi puisi puber orang yang sedang jatuh cinta. Entahlah.

Sampai saat ini, saya baru sekali menulis puisi.

Itupun belum tentu puisi. Tapi beruntung saja saya ini. Puisi yang pertama kali saya tulis dimuat media. Setidaknya media nasional. Walau hanya satu puisi. Walau hanya begitu saja.

Belakangan, saya kembali sering berada di lingkaran pertemuan orang-orang yang membaca puisi. Orang-orang yang menyatu benar dengan kalimat-kalimat yang kuat dan memikat. Magis dan estetis…

Di sebuah kamar hotel, saya dan teman saya yang penulis, berbincang tentang puisi. “Ya, semoga gue bisa nulis puisi…” Teman saya tersenyum. Entah ragu, atau melihat saya lucu. “Paling nggak tahun depan lah, walaupun sekali-kalinya…” kali ini dia menyambutnya dengan tertawa. Membuat saya yakin, bahwa saya harus membuktikan, bisa menulis puisi.

Ini sepenggal puisi saya yang satu-satunya itu…

Jauh sebelum melintasi Alexandria hingga ke Aceh

Dia lebih dulu tunduk sujud di pusat kehambaan imannya, Mekkah

Membiarkan dirinya tiada, meniada…

Luluh meniada, menjadi nol, seperti temuan Khawarizmi

 

Judulnya “Tidak Semata Angka”. Kata redakturnya, “Puisimu terlalu panjang…” Saya hanya tersenyum. Maksudnya terlalu panjang, bikin puisi yang lain tidak kebagian tempat di rubrik puisi tabloid itu. Hehe…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s