Fun Writing

Fana


Es krim meleleh di ujung bibirnya. Hampir saja menetes bila ia tak dikageti bunyi BB barunya.

Buruan, gue di halte, lu di mana?

Dina geragapan, antara kaget dan bingung. Kaget pasti, bingung karena dia gaptek. BB-nya baru, kalau ada bbm masuk mesti pencet apa. Semalaman sudah kursus sama Angga, tapi tetap saja gaptek. “Duh, contekannya nggak kebawa…” Dina menepok jidatnya.

Es krim yang tinggal setengah dilalap cepat. Tak mau rugi, tusukannya masih tetap dijilati sampe bersih. Buru-buru ia melangkah cepat menuju sang pengirim bbm. Jarak halte dari tempatnya makan es krim tidak terlalu jauh. Walau tidak terhitung berapa langkah, tapi halte itu terlihat mata tanpa penyekat.

“Buruan, nggak enak janjian ama orang telat…” Ria menggaet lengan Dina. Si empunya lengan pasrah. Sejak tak ada Soson, Dina mulai dekat dengan teman-teman kampus.

Syukur deh kalo ada yg mo jd temen lo

Balasan sms Soson waktu Dina bilang sekarang dia punya teman masih disimpan di BB barunya. Panjang lebar di sms Dina menjelaskan siapa Ria, teman barunya itu.

Akhirnya gw ktm solmet jg. Anaknya asyik…

Seperti hari ini, Ria mengajak bertemu seseorang. Entah siapa.Dina tak begitu peduli, buat dia, punya teman yang asyik saja sudah cukup. Setidaknya, kepergian Soson perlahan-lahan bisa dimaafkan, walau sulit buat dilupakan.

“Naik taksi aja ya…” Ria mengambil inisiatif.

“Ri, seumur gue di Jakarta, nggak ada metromini atau kopaja yang duduk semua, pasti ada yang berdiri…” Dina agak sewot karena Ria terus milih-milih angkot.

“Lu aja yang berdiri…”Ria menoleh dengan tatapan tajam.

“Kalo gue berdiri, keneknya gimana…” Dina asal menyahut.

Ria agak kesal campur walaupun geli. Tangannya memberi tanda kepada taksi lewat. Keduanya bergegas masuk. “Kunciran, Pak… lewat tol aja, keluar gate Alam Sutra!”

Dina menurut saja. Pergi sama Ria, tak perlu empot-empotan jantungnya. Hati tenang, pikiran terang, bisa menikmati perjalanan tanpa mikir siapa yang bayar taksinya. Hmm… maaf ya Son.

***

Beberapa orang sedang tertawa ketika Ria dan Dina datang. Dengan ramah semua memberi senyum. Ria langsung duduk, gabung dengan orang-orang yang di saung sambil tebar-tebar senyum. Sok akrab banget! Batin Dina yang tersenyum malu-malu membalas beberapa senyuman yang lain.

“Baik, lanjut ya… sampai mana tadi?” ujar seseorang yang tampilannya nggak banget bagi Dina. Pakai kaos, sarungan, hadeuuuh…

“Hakikat menulis, Kang…” seseorang menyela, tepatnya mengingatkan.

“Yup, menulisnya kalian itu buat apa? Kamu mau apa dari menulis? Mau terkenal?” tanyanya. Dina agak geer, karena seolah-olah matanya menyorot kepadanya. Apalagi beberapa orang juga menoleh kepadanya. Dina merasa semakin kikuk.

“Ee.,. ee…” Dina terbata-bata berusaha menjawab.

“Ya pengen terkenal lah, Kang… siapa sih yang nggak pengen terkenal. Banyak duit terus masuk tipi,” cowok kerempeng berambut kriting menyela.

Dina bingung. Celingak-celinguk. Beberapa orang tersenyum.

“Saya pengen punya duit, Kang! Soalnya cari kerja susah. Kuliah DO, umur dah nanggung, tua nggak muda juga nggak. Saya pengen dapat duit dari menulis…” sahut seseorang yang kaosnya gambar ikan tinggal durinya.

“Iya kamu…” orang yang disebut kang itu mengarahkan pandangan ke Ria.

“Sementara ingin bisa menulis dengan teknik yang benar, bahasa yang baik dan apa ya… ehmm,” jawab Ria memain-mainkan telunjuknya di dekat bibir. “Ehm, pengen punya cowok penulis…”

Seisi saung senyum. Dina makin celingukan…

“Kalo aku obsesinya jadi novelis dan difilmkan…” ujar cewek cantik, kayak artis, perpaduan Raisya dan Nunung. Cantik, cuma agak gemuk.

“Saya…” Dina kaget ketika telunjuk laki-laki bersarung itu mengarah kepadanya. Lagi-lagi Dina gugup. “Ee… ee… saya bagaimana baiknya aja.”

Saung mendadak riuh. Jawaban Dina mampu menyulut suasana menjadi meriah. Meruah dengan senyum dan tawa. Dina makin tersipu…

***

“Lu sering ke sana, Ri…” tanya Dina ketika pulang.

“Beberapa kali, ya gitu ngobrol aja…” sahut Ria.

“Lu emang minat nulis, Ri…” tanya Dina, “Mau jadi apa lu? Cerpenis, novelis, esais, penulis skenario, atau…”

“Kan tadi lu denger, mau jadi apa saja, yang penting bagi orang yang ingin jadi penulis ada pesan yang disampaikan. Dikemas dengan bahasa yang baik, teknik yang benar, komunikatif, dan menarik…”

Ya, belajar memang dimana saja. Sepanjang itu baik ambil. Tak perlu terlalu fanatik. Setidaknya Dina jadi paham, apa pun alasan menulis, tidak ada yang salah. Semua sah, hanya saja, seperti dibilang orang bersarung di saung tadi.

“Kita kan diciptakan untuk saling mengingatkan, itu hakikat kita hidup. Saling mengingatkan.” Dina ingat terus kata-kata ini. “Hidup ini fana, jadi kita ingat kefanaan ini, sehingga apa pun yang kita buat, termasuk menulis, tujuannya sebaiknya abadi. Menulis yang menjadi jalan kebaikan, memendarkan kebaikan, menyampaikan pesan kebenaran dan kebaikan…”

Memento mori – ingat kefanaanmu…

Dina membaca bbm dari Ria yang duduk di sampingnya. Keduanya saling menoleh dan tersenyum. Ria mencatat dengan baik ucapan laki-laki bersarung itu… ehm!

Dimuat pada Kolom Fun Writing Majalah Story edisi 39 dengan judul Memento Mori

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s