Fun Writing

Bahasa Manusia…


“Ngomong apa sih, lu…” Dina ngedumel sendiri. Bingung sama omongan orang yang sedang duduk di depan sana. Dosen pengganti kuliahnya. Huft… bikin bete, batin Dina. Perhatiannya terpecah, sulit konsentrasi. Apalagi ia merasa sulit mencerna apa yang dikatakan dosennya itu. Padahal sih, kalau konsentrasi dan tidak terlanjur underestimate materi itu biasa saja.

Din, gue gak balik lg ke Jkt…

            Pesan pendek itu membuatnya galau. Padahal ia terlanjur sayang sama manusia model itu. Rasanya klik, punya teman kayak Soson. Tapi mau bagaimana lagi…

Smg cita2mu jd penulis trkabul d tempat n waktu yg tepat ya… I bakal miss U trus nih…

            Kalimat seperti ini berkali-kali ganti versi. Diketik, dihapus, diganti, diketik lagi… Mau dikirim, dipikir lagi. Walau akhirnya terkirim juga dengan tekanan jempolnya. Send… “Saatnya berkonsentrasi…” Dina membatin sendiri, menetapkan hati. Memantapkan kembali, ke kampus untuk kuliah, bukan untuk gundah. Dan hingga usai kuliah, ternyata semua materi bisa dipahami dengan mudah.

Bahasa Indonesia itu indah… kalimat penutup dari sang dosen muda yang menurut Dina, boleh juga!

***

“Suka baca juga?” Dina duduk di samping Ria, teman satu jurusannya yang tak begitu akrab, walau sudah lama dikenalnya. “Numpang duduk di sini ya, kosong kan?” pinta Dina, padahal dia sudah duduk lebih dulu. Kontan saja hal itu membuat Ria tersenyum, entah geli, entah jengah…

“Baca apaan? Oh, majalah mode… suka mode ya?” tanya Dina rempong. Repot sendiri. “Ikut sekolah model juga? Di mana?”

            “Kepo banget sih, pengen tau aja,” sahut Ria. Wajahnya kaku, walaupun tersenyum.  Ria memberikan majalahnya, merasa tidak nyaman dengan gangguan Dina. Ia lebih memilih minum green tea dingin yang sudah tinggal setengah botol.

“Tinggal di mana Din?”

River Side Estate…” sahut Dina sambil membuka-buka halaman majalah.

Setelah mengerut keningnya, Ria tertawa terkekeh.

“Kenapa? Aneh? Atau ada yang kenalan di situ?”

Ria menggeleng dan mengecilkan tawanya, meringkasnya menjadi senyum lebar.

“Main aja, gampang kok, rumahku dekat barber shop Rapi Jali…” sahut Dina lagi. Dan membuat Ria terkekeh lagi.

“Main aja, tinggal naik busway, sekali sampai…” lanjut Dina.

Keduanya terus saling bicara, tidak sadar, dosen muda bahasa Indonesia tadi duduk tak jauh dari mereka. Mendengar semua pembicaraannya.  Pembicaraan yang bertabur kata-kata planet, entah dari mana asalnya, turun temurunnya. Dan jelas saja aneh bahkan ada yang salah kaprah.

“Nginggris memang lebih bergengsi…” batin dosen muda itu. Ingin juga bergabung di meja itu, tapi sementara ini ia hanya mencatat dan mengingat saja, siapa tahu nanti punya kesempatan mengajar lagi dan bisa menjelaskannya.

***

“Pulang ke mana?” suara itu membuat Dina berdesir-desir dadanya. Ups, dosen muda itu sudah berada di sampingnya saat menunggu armada Trans Jakarta. Dengan malu-malu, Dina menyebutkan nama rumahnya. River Side Estate

            “Tadi ikut kuliah saya kan?”

“I… iya, Pak…” Dina gugup. Untung saja bus Trans Jakarta datang, buru-buru ia masuk. Tapi rupanya sang dosen turut masuk juga. Duduk di sampingnya pula.  Hmm… bikin grogi aja nih, batin Dina.

“Maksudnya bahasa Indonesia itu indah, apa ya Pak?” Dina berusaha sebisa-bisanya menghilangkan groginya.

“Oh, kamu nyimak juga…”

Dosen muda itu menjelaskan, andai saja 28 Oktober 1928 tidak ada kepedulian dari para pemuda yang melakukan Kongres Pemuda, mungkin kita akan kesulitan dalam berkomunikasi. Dengan luas bangsa ini yang bentangannya sepanjang Eropa. Dengan ratusan suku bangsa dengan sebanyak itu pula ragam bahasanya. Betapa repotnya berbahasa di bangsa ini. Seperti India, di selatan mereka berbahasa Hindi, lalu yang di utara berbahasa Urdu, akhirnya mereka memilih bahasa Inggris untuk jalan tengahnya. Hal ini juga terjadi di belahan dunia lain seperti bangsa-bangsa di Afrika.

“Kebayang repotnya kan, dari Serang sampai Banyuwangi di Pulau Jawa saja sudah beragam bahasanya…”

Dina mengangguk-angguk…

“Makanya pakai saja bahasa Indonesia, kamu ditipu tuh sama pengembang… tinggal di mana tadi?”

River Side Estate, Pak…” jawab Dina.

“Itu kan artinya Perumahan Pinggir Kali, bukan?” dosen muda itu tersenyum.

Dina tersipu. Mengiyakan. Memang rumahnya di pinggir Kali Angke.

“Kita juga bukan naik busway, karena busway itu jalan bus! Masak kita naik jalan bus…” ujarnya lagi. Dina makin malu. “Bilang saja, rumahmu dekat tukang cukur, jangan bilang barber shop…”

“Kok, bapak tahu sih…” Dina penasaran.

“Ya tahu, bilang temanmu, kalau minum teh hijau. Jangan green tea deh…”

Dina makin penasaran.

“Kamu makin kepo kan? Kenapa saya banyak tahu?”

Hadeuuuh, Dina berasa udang baru diserok dari empang. Kelojotan! Kalau dosennya tahu kepo, pasti dia juga tahu rempong, garing, jayus… sotoy! Dina membuang pandangannya ke luar. Dia membaca “Jual Bensin 24 Jam”. Ah, pasti kalau dosen di sebelahnya tahu, dia bakal bilang, “Ini jenis bensin apa lagi ya? Setahu saya hanya ada pertamak, premium, solar…”

Hari ini Dina menulis status di fesbuknya;

Oh, maafkan aku Indonesia…

Soson membalas cepat;

Ciyus… Miapa?

Dimuat dalam kolom Fun Writing, Majalah Story edisi 38 Oktober-November 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s