Story & History

Berubah, Itu Pasti!


“Syifa lagi apa?” telepon genggamnya menempel di telinga. “Ayah lagi di rumah Om Taufan…” sahutnya lalu diam sesaat, mendengarkan suara mungil dari ujung sana, entah di mana. “Om Taufan, temen ayah…”

Terus, perbincangan itu tampak asyik. Dialog penuh kasih antara ayah dan anak. Dialog yang membuat hati saya bergetar. Dan membuat saya seringkali mencuri pandang, bagaimana ekspresi laki-laki yang duduk tak jauh dari saya di saung sore itu. Menjelang malam yang dingin, saat mendung menggelambir. Namun tampak hangat dalam perbincangan yang saya dengar itu.

Laki-laki itu teman saya! Teman akrab saya ketika SMP. Sudah belasan tahun tidak ketemu. Jejaring sosial yang mempertemukan kami kembali. Lalu kami saling berjanji untuk bertemu bila ia di Jakarta. Dan benar saja, ada kesempatan itu. Kapal tempatnya bekerja bersandar di Tanjung Priok, Jakarta. Lalu dia mengontak saya…

Di sebuah tempat makan kami bercengkerama. Melepas kangen, membeber banyak cerita seru, mengenang betapa dulu banyak ‘kebengalan’ dilakukan. Menertawakan hal-hal yang sebetulnya penuh ironi. Menyenangkan sekali…

Satu hal yang saya percayai, hidup pasti berubah.

Perubahan ini ternyata saya lihat dari teman saya ini. Sutoro namanya. Tepatnya Sutoro Rumaji. Anak guru yang dulu pandai sekali main voli. Selain tubuhnya yang tinggi, jangkung, ia juga memiliki teknik memukul dan smash yang baik. Sering saya main ke rumahnya, hingga saya tahu kenapa dia pintar main voli. Di sebelah rumahnya, setiap sore ramai orang bermain voli. Sebuah tanah lapang, difungsikan jadi lapangan voli. Tentu saja saya tidak heran lagi, kenapa dia begitu baik bermain bola pukul itu.

Hampir setengah hari, saya bersamanya…

Selain fisiknya yang berubah, menjadi tinggi besar. Dulu tinggi kurus… Juga cara bicaranya yang semakin bijak. Lebih ‘sumeleh’ kalau orang Jawa bilang. Lebih bisa menguasai keadaan, mengerti kondisi, dan kemampuan mengelola emosinya baik. Lebih dewasa, lebih matang.

“Syifa udah makan?” tanyanya lembut.

Suara anak kecil itu menyahut. Suara anak keduanya yang masih TK. Katanya, kalau dia tidak telepon sehari saja, maka Syifa tidak mau makan dan tidak mau sekolah. Pekerjaannya sebagai awak kapal, tidak memungkinkannya untuk setiap hari menemui anak dan istrinya.

“Syifa waktu lahir nggak aku tungguin, beda sama kakaknya. Waktu itu aku pas cuti, lagi nggak berlayar…” jelasnya.

Diam-diam saya mengagumi sesuatu dari teman saya ini. Teman yang dulu sama stempelnya sama saya. Terlalu sering berhadapan dengan guru BP dan dikenang teman-teman sebagai anak-anak nakal di sekolahan. Tapi itu dulu…

***

“Basah, Pak…” suara kecil itu membuat saya menghentikan bicara.

“Nggak papa…” kata laki-laki di depan saya, di saung samping rumah siang hari itu.

“Bapak bawa ganti Teja?” tanya anak tiga tahun itu menyebut namanya. Tangannya terus bermain air di pancuran.

“Bawa,” jawabnya pendek, “Terusin aja mainnya…”

Hmm. Saya terpana!

Bapaknya Teja, teman kuliah saya. Saya masih ingat, bagaimana dulu waktu zaman kuliah. Waktu masih bujangan. Saya sama sekali tidak membayangkan, dia akan sebijak dan sesabar itu terhadap anaknya. Badannya besar, tinggi, seperti tukang pukul. Hobinya main sepak bola.

Saya terus melanjutkan pembicaraan. Matanya sesekali melihat anaknya yang makin asyik bermain air pancuran. Saya sesekali mengikutinya. Melihat anak laki-laki kecil itu khusyu bermain air. Makin basah, makin kuyup.

“Basah semua, Bapak…” lagi, suara anak laki-laki itu menjeda pembicaraan saya dan bapaknya.

“Nggak papa,” jawab bapaknya singkat.

“Bapak bawa baju Teja?” pertanyaan diulang.

“Bawa,” sahutnya.

“Teja udah mainnya…”

“Udah? Bener?”

Anak laki-laki itu mengangguk, seluruh bajunya basah, badannya juga basah. Bapaknya menghampiri. “Mandi ya…” kalimat itu bersahut dengan anggukkan. Sang bapak lalu menggendongnya ke kamar mandi. Memandikannya, menghandukinya, memakaikan baju, lalu…

“Bapak bikin susu dulu ya…”

Ya Allah, sungguh Kau perlihatkan kebesaran yang tak pernah ada dalam benakku. Seminggu ini, hadir dua temanku dari waktu yang berbeda, dengan stempel yang sama, tapi hadir dalam wajah baru mereka. Hidup baru mereka. Menjadi ayah-ayah yang penyayang, menjadi pribadi-pribadi yang matang. Saat ingatanku masih jelas, betapa beberapa hal yang tak sesuai aturan pernah kami lakukan. Saat bayanganku masih sangat terang, bagaimana masa lalu itu dihamparkan.

Sungguh, aku sangat percaya. Tidak ada yang tidak berubah…

Iklan

Satu tanggapan untuk “Berubah, Itu Pasti!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s