Fun Writing

Menulis Saja…


“Tulisan saya nggak selesai, Mas…”

“Saya sering mentok, nggak ada ide…”

Dan beberapa pertanyaan lain yang semirip itu, sering sekali saya dapati dari teman-teman yang sedang sangat bersemangat menulis. Dan saya hanya hanya bisa bilang, ah… biasa itu dalam perjuangan, sambil tersenyum.

Menulis buat saja, ya menulis saja…

Itu juga yang saya kabarkan kepada teman-teman yang bertanya pada saya bagaimana mengatasi kesulitan menulis. Seperti orang yang ingin makan di restoran masakan padang, maka ia harus melakukan perjalanan menuju tempatnya, memesan dan memilih lauknya, lalu duduk dan makan. Ada hal yang harus dikerjakan, tidak hanya didiamkan. Ada usaha untuk mewujudkan.

Alah bisa karena biasa…

Pepatah ini yang membuat orang yang tidak bisa apa-apa, karena biasa melakukan, berkali-kali mencoba, berulang kali mengerjakan, alhasil, ia biasa, dan bisa! Alasan untuk bisa, saat ini sangat banyak. Tidak seperti dulu. Akses informasi begitu banyak, tempat belajar bertebaran, narasumber untuk bertanya juga terbuka. Termasuk kemajuan teknologi dalam zaman digital ini. Hanya dengan sekali tekan tombol enter, bejibun dah apa yang kita cari.

Ya sekali lagi tidak ada yang serta merta, tiba-tiba, seperti sulapan…

Selalu ada proses. Demikian pula dengan menulis. Berproseslah dengan sabar. Dengan banyak membaca, silaturahmi, melakukan perjalanan dan tentu saja, menulislah dari apa yang kita baca, dari silaturahmi kita dan dari perjalanan kita. Terlalu banyak yang bisa dituliskan. Mungkin bolehlah pinjam formulanya Aa Gym, mulai dari 3M, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil (sederhana), dan mulai sekarang juga!

Sabar, sadar…

Sabar berproses!

Sadar berproses!

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti bisa.Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Kira-kira begitulah semangatnya.

Di Komunitas Fun Writing, semua itu dimulai…

Menulis dari yang sangat ‘tidak berarti’, ‘nggak mutu’, sampai menulis yang biasa-biasa saja. Tapi, semua itu dilakukan setiap hari. Menulis apa yang kita alami di akhir pekan, cukup dua atau tiga paragraf. Menulis tentang kuliner, tentang makanan, yang setiap hari kita pasti lakukan. Semula memang hanya menulis makan ini makan itu, ya tidak apa-apa, yang penting menulis. Pun demikian dengan menulis curhat, patah hati, galau, kesal, marah, senang, susah, ditulis.

Sederhana saja, menulis…

Nah, tidak ada yang sulit kan, menulis saja…

Apa yang terjadi, apa yang dirasa, apa yang terpikir, apa yang diinginkan. Semuanya mengalir begitu saja. Tak ada yang akan menyalahkan ejaannya salah, EYD-nya kacau, struktur menulisnya acak-adul. Bukan masalah semua itu, karena yang menjadi masalah adalah ketika kita hanya terus mengoceh, banyak bicara, dan tidak menulis!

Nah, bersama anggota Komunitas Fun Writing lainnya, kita akan belajar menulis bersama-sama. Bagaimana membuat tulisan itu bisa ‘bunyi’ dan ‘bermakna’. Tidak dengan cara yang rumit, berat dan penuh teori. Karena menulis, ya menulis…

Iklan

Satu tanggapan untuk “Menulis Saja…”

  1. Apa yang terjadi, apa yang dirasa, apa yang terpikir, apa yang diinginkan. Semuanya mengalir begitu saja. Tak ada yang akan menyalahkan ejaannya salah, EYD-nya kacau, struktur menulisnya acak-adul. Bukan masalah semua itu, karena yang menjadi masalah adalah ketika kita hanya terus mengoceh, banyak bicara, dan tidak menulis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s