Fun Writing

Memaksimalkan Pandangan


Soson mendapati Dina bengong dengan wajah yang sangat sempurna jeleknya. Kacamatanya melorot sampai tekukan hidung, mulutnya melongo, melompong kayak pintu sekolahan rusak gagang kuncinya. Tatapannya kosong, alisnya nyaris menyatu! Wajah galau yang sempurna, batin Soson sambil menggeleng-geleng kasihan.

“Kalo ada masalah crita, Din…” Soson pelan-pelan duduk di sampingnya. Di tangga masuk sebuah mal di Cileduk. “Lu kepengen apa? Kalo cuma gorengan sama teh yang dibotolin gue mampu kok…”

Dina tetap diam dengan wajah yang tak berubah. Soson mencoba mengikuti arah pandangan mata Dina. Tatapan yang jauh mentok terhalang mal di seberang jalan raya. Cileduk yang aneh, mal berhadapan dengan mal! Bagi Soson, duduk di tangga mal tanpa jajan juga aneh.

“Ayam bengong aja mati…” kata Soson lagi.

“Sembarangan aja lu layak orang buang sampah! Siapa yang lagi bengong…” Dina tiba-tiba nyerocos, meletup-letup, nembak kayak knalpot yang businya kotor. Pletak, pletak!

“Ya maaf…” Soson takut dan kaget! Wajahnya yang bulat, perlahan-lahan kisut jadi lonjong tak beraturan.

“Gue lagi observasi tahu…”

“Observasi?” Soson ketawa, “Observasi apaan kayak orang bokek begini!”

“Enak aja ngatain gue bokek, duit gue banyak nih!” Dina terpancing, ia mengeluarkan dompetnya dari tas, memperlihatkan isinya pada Soson, “Tuh, liat! Banyak…”

“Jajan dong, banyak duit sih nggak jajan…” sahut Soson. Wajahnya terasa kembali membulat.

“Siapa takut!”  Dina berdiri, bergegas jalan dengan langkah tegap. Gerai waralaba ayam goreng Dina belok mendadak. Soson yang lagi senang gembira, terpaksa ngepot dan nyaris kejedot pintu. Soson geleng-geleng sambil membatin, “Jalan aja pake ngepot! Cewek apa tukang ojek sih!”

***

            “Woiii… bengong aja!” Soson mengibaskan tangannya di muka Dina. “Kumat lagi!”

Dina melotot. Kesal sama Soson yang dari tadi mengganggu konsentrasinya.

“Enak aja, gue lagi observasi nih! Lu tuh yang ganggu aja!” ujar Dina ketus. Beruntunglah Soson, karena setelah ngomong ketus, Dina menyumpelkan suapan nasi dan ayam goreng ke mulutnya. Kalau tidak, pasti bakal lebih panjang kalimat ketus keluar dari mulut Dina.

“Observasi apaan sih? Aneh!” Soson ngedumel sendiri.

“Gue sedang memaksimalkan pandangan, Son! Bagaimana dalam sekali tatapan, sekali pandangan dan sekali kedipan, gue bisa menangkap banyak detil ke otak gue,” Dina menjelaskan dengan muka serius. Ternyata tampang seriusnya Dina pun belum terlalu berbeda dengan wajah bengongnya di mata Soson. Alias ‘nggak cakep-cakep amat’ kata lain dari jelek juga.

“Emang lu ada otaknya…” Soson ketawa ngakak, sampai didatengin satpam dan keluarganya. Soson langsung bungkam. Eh ternyata si satpam dan keluarganya memang lagi nyari tempat duduk. Kebetulan tak jauh dari Soson dan Dina kosong! Dina mesam-mesem melihat Soson mukanya berubah jadi segitiga tak beraturan saking takutnya.

“Kualat lu!” Dina masih menggoda Soson, “Makanya jangan sekali-kali ngatain orang yang nraktir lu makan!”

“Bisa aja lu, Din,” Soson tersipu malu. “Lanjut…”

“Menulis itu kan perlu detil. Nah, gue lagi mraktekin teori memaksimalkan pandangan. Lagi nyoba, untuk satu objek pandangan, dalam satu waktu, satu kedipan, apa saja yang bisa gue tangkep, apa saja yang gue inget…”

Soson mengangguk-ngangguk. Tentu saja sambil terus ngunyah.

“Kan kata Ikal, kita harus menjaga pandangan…” kali ini Dina tersenyum manis. Tumben juga Soson sepakat, kalau kali ini senyum Dina manis. “Tapi bener kok, kita jadi belajar fokus untuk menemukan detil. Biasanya kan kita melihat sesuatu sekilas-sekilas doang. Kalo kita yang mau jadi penulis, terus memandang sesuatu biasa-biasa saja, ya apa bedanya dengan sopir angkot atau kenek metromini…”

“Trus yang lu liat di tangga tadi apa?”

“Kita harus mampu melihat lebih dari yang orang lain lihat, Son…”

“Maksud lu?”

“Mungkin orang lain melihat mal di seberang itu biasa, tapi kita harus melebihi penglihatan orang biasa…”

“Kayak cenayang dong, ngliat yang nggak terlihat!” Soson asal menyahut.

“Maksudnya, kita nggak cuma lihat mal itu sekarang, tapi kita harus tahu lebih banyak, bukan cuma arsitektur atau keramaiannya. Kita juga mesti tahu, itu salah satu mal yang dibakar massa, dijarah isinya, dan banyak korban jiwa waktu terjadi kerusuhan Mei 1998…” Dina agak menerawang.

“Gitu ya…” ujar Soson sambil menjilati jari tangannya, “Gue cuci tangan dulu ya…”

Dina kembali bengong, eh… memaksimalkan pandangannya. Tapi kali ini hanya sekilas, Soson tampak semakin buncit di matanya.

***

Pertama kali aku memandangmu,kamu orang yang nyebelin. Pertemuan kedua, aku berbalik rasa, kamu adalah orang yang baik. Beberapa pertemuan berikutnya, aku merasa, kamu memang baik, tapi kategori orang baik yang harus dikasihani. Maafkan aku, Son…

Soson hanya bisa menelan gondok. Tulisan Dina di status fesbuknya sungguh tidak menarik sama sekali baginya. Apalagi Dina mengganti propic dengan foto ia menjulurkan lidah. Terasa sempurna sekali Dina menghina dina dirinya… (Tef)

*kolom FUN Writing di Majalah Story edisi Juli-Agustus 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s